Ramadhan Picu Godaan Belanja Berlebihan, Pakar IPB Ingatkan Bahaya Overbuying

overbuying, perilaku konsumtif, hidangan khas Lebaran, Ramadhan Picu Godaan Belanja Berlebihan, Pakar IPB Ingatkan Bahaya Overbuying

Godaan belanja selama Ramadhan dinilai semakin kuat dan berisiko memicu pembelian berlebihan yang justru bertentangan dengan makna puasa.

Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, menjelaskan bahwa Ramadhan sering menjadi periode rawan terjadinya overbuying atau pembelian berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya.

“Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadhan dan lebih banyak membawa dampak negatif,” jelasnya, dikutip dari laman IPB University, Jumat (27/2/2026).

Lapar mata saat berbuka

Prof. Megawati mencontohkan, perilaku konsumtif paling sering terlihat menjelang waktu berbuka puasa.

Berbagai hidangan disiapkan dalam jumlah banyak, mulai dari makanan berat hingga aneka takjil seperti gorengan, kolak, es buah, dan kurma.

Sering kali makanan yang tersedia jauh melebihi kebutuhan tubuh dan berujung menjadi limbah.

“Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya jauh melebihi yang diperlukan tubuh. Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rasa lapar setelah seharian berpuasa dapat memicu apa yang disebut “lapar mata”, yaitu dorongan emosional untuk membeli lebih banyak makanan daripada yang dibutuhkan.

Belanja Lebaran dan FOMO

overbuying, perilaku konsumtif, hidangan khas Lebaran, Ramadhan Picu Godaan Belanja Berlebihan, Pakar IPB Ingatkan Bahaya Overbuying

Ilustrasi belanja kebutuhan Lebaran selama Ramadhan di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Ramadhan kerap memicu pembelian berlebihan akibat ?lapar mata? dan tekanan tren, sehingga berisiko menjauhkan makna puasa dari kesederhanaan.

Tidak hanya saat berbuka, peningkatan konsumsi juga terjadi menjelang Hari Raya.

Masyarakat terdorong membeli pakaian baru, hidangan khas Lebaran seperti rendang, ketupat, dan opor ayam, serta berbagai kue kering yang kerap tidak habis dikonsumsi.

Di era digital, tekanan konsumsi semakin kuat karena pengaruh media sosial dan fenomena fear of missing out (FOMO).

“Ketika ada tren tertentu, orang merasa harus ikut beli meski sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Contohnya tren busana Lebaran yang hanya dipakai sekali, lalu tidak digunakan lagi,” kata Prof. Megawati.

Kembali ke esensi puasa

Prof. Megawati mengingatkan bahwa Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk melatih pengendalian diri, termasuk dalam hal konsumsi.

Ia menyarankan masyarakat membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja dan menahan diri dari pembelian impulsif.

“Jangan sampai lapar mata membuat kita membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan bahkan cenderung berlebihan. Perlu diingat, Ramadhan bukan hanya soal konsumsi, tapi momentum untuk berlomba-lomba dalam ibadah, kebaikan dan melatih pengendalian diri,” tuturnya.

Menurutnya, pengendalian konsumsi tidak hanya berdampak pada kesehatan dan keuangan keluarga, tetapi juga membantu mengurangi pemborosan makanan dan dampak lingkungan.

“Kalau kita bisa menahan diri saat belanja, kita bukan cuma lebih sehat dan hemat, tapi juga ikut membangun kebiasaan hidup yang lebih baik,” ujar Prof. Megawati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang