Putranya Diduga Dirundung, Ayah Timothy Anugerah Singgung Soal Bullying Verbal Sulit Dibuktikan
Kasus kematian Timothy Anugerah mendapat perhatian luas di kalangan masyarakat. Pasalnya kematian mahasiswa jurusan Sosiologi di Universitas Udayana Bali ini diselimuti dengan dugaan perundungan atau bullying.
Kasus perundungan bahkan masih terjadi setelah Timothy Anugerah meninggal dunia. Chat WhatsApp bernada nir empati terhadap korban pun viral di media sosial. Hal ini membuat publik semakin geram terhadap pelaku.
Sebanyak enam mahasiswa terlibat dalam percakapan tidak empati pasca-kematian Timothy. Enam orang tersebut terdiri dari empat orang yang merupakan pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) FISIP Unud, yaitu Vito Simanungkalit, Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Maria Victoria Viyata Mayos, dan Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana. Sementara dua lainnya yakni Leonardo Jonathan Handika Putra dari BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan serta Putu Ryan Abel Perdana Tirta dari DPM FISIP.
Menyusul dengan kematian Timothy, ayah Timothy yakni Lukas Triana Putra angkat bicara. Dalam wawancaaranya di program Apa Kabar Indonesia Pagi, tvOne, Senin 20 Oktober ayah Timothy mengungkap alasan dirinya akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polresta Denpasar.
Disebut Lukas dia dan istrinya awalnya menyatakan tak ingin membawa masalah ini ke pihak kepolisian. Namun kabar mengenai kematian putranya yang simpang siur menjadi pemantik tindakannya itu.
”Seiringnya waktu di rumah duka saya mendengar cerita dari teman-temannya Timmy (panggilan keluarga), keterangan dari kampus, dekan, dan dari dosen-dosennya itu simpang siur yaitu Timmy jatuh dari lantai berapa. Karena tidak jelasnya kronologi dari kejadian tersebut, saya melaporkan ke pihak kepolisian karena ada beberapa hal yang perlu diluruskan,” kata dia dikutip dari tayangan YouTube tvOne News.
Terkait dengan dugaan perundungan terhadap putranya, Lukas mengungkap bahwa pihak kampus sudah memberikan keterangan kepadanya. Disebut Lukas berdasarkan keterangan kampus, perundungan terhadap Timothy terjadi setelah korban meninggal dunia.
”Karena pada saat itu tidak jelas beritam kedua ada berita-berita di medsos yang tidak benar dan dari pernyataan pihak kampus tidak benar. Dari pihak kampus menjelaskan anak saya itu tidak ada dibully sebelum kejadian meninggal,” kata dia.
Dijelaskan Lukas terkait dengan permasalahan ini dirinya sudah berkonsultasi dengan pihak kuasa hukumnya. Lukas menyadari bahwa memang kasus perundungan terutama perundungan verbal akan sulit dibuktikan.
”Saya sudah konsultasikan dengan kuasa hukum saya. Kasus bullying itu memang susah dibuktikan terutama kasus bullying yang verbal karena verbal pembuktiannya susah sekali kecuali memang bullyingnya fisik dan bullying yang ada di media sosial itu gampang dibuktikan seperti mahasiswa Unud yang membully anak saya setelah kematiannya kalau itu mau dibawa ke ranah hukum,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Lukas juga memberikan sejumlah klarifikasi terkait dengan pemberitaan yang ramai di publik. Pertama, Lukas membantah bahwa putranya mengalami masalah kesehatan mental. Dia menyebut bahwa putranya mengalami masalah gangguan pendengaran di saat usianya tiga tahun. Hal tersebut menyebabkan Timothy mengalami keterlambatan bicara.
“Pertama anak saya tidak punya cacat mental, anak saya memang punya gangguan pendengaran di masa kecilnya yaitu pada umur 3 tahun dia belum bisa berbicara. Kami bawa dia ke spesialis THT anak untuk diperiksa dan memang ada sumbatan kotoran yang membuat tidak bisa bicara dengan baik dan benar sehingga dia susah berbicara,” kata dia.
Kedua, Lukas juga menyinggung soal gaya berbicara Timothy yang dinilai aneh oleh publik. Dia menyebut bahwa putranya kesulitan berbahasa Indonesia lantaran sejak SD disekolahkan di sekolah internasional yang mana lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Alhasil sosialisasinya mengalami keterbatasan.
“Kedua adalah anak saya, saya sekolahkan di sekolah internasional karena saya ingin anak saya yang terbaik. Tapi malahan bahasa ibunya adalah bahasa Inggris sehingga untuk sosialisinya dia di masyarakat sekitar dia tidak begitu baik karena perbedaan bahasa yang tidak bisa diterima lingkungan di rumah saya,” kata dia,