Timothy Anugerah Ternyata Sempat Alami Kondisi Ini saat Masih Kecil

Mahasiswa Unud, Timothy Anugerah Saputra
Mahasiswa Unud, Timothy Anugerah Saputra

 Kasus kematian mahasiswa Universitas Udayana (Unud) Bali, Timothy Anugerah Saputra, terus menjadi sorotan publik. Di tengah penyelidikan yang masih berlangsung, muncul berbagai spekulasi mengenai kondisi pribadi sang mahasiswa semasa hidupnya,termasuk kabar yang menyebut dirinya mengalami gangguan mental.

Menanggapi hal tersebut, ayah Timothy, Lukas Triana Putra, akhirnya buka suara untuk meluruskan informasi yang dinilainya tidak benar. Ia menegaskan bahwa anaknya tidak memiliki cacat mental, melainkan hanya mengalami speech delay atau keterlambatan bicara sejak usia tiga tahun.

Timothy Anugerah

“Anak saya itu punya speech delay dari umur tiga tahun. Umur tiga tahun itu dia belum bisa bicara karena memang ada penyumbatan di telinganya dia,” jelas Lukas, dikutip dari akun Instagram @rumpi_gosip pada Senin, 20 Oktober 2025.

Ia menuturkan, kondisi itu sudah ditangani secara medis dan setelah tidak lagi menjadi masalah. Setelah menjalani pengobatan, Timothy dapat mendengar dengan baik dan mulai berbicara seperti anak-anak pada umumnya.

“Kita bawa ke dokter dan sudah sembuh, dan dia akhirnya bisa mendengar dengan baik,” tambahnya.

Namun karena sejak kecil Timothy tidak banyak terpapar bahasa Indonesia, kemampuan bahasanya lebih berkembang ke arah bahasa Inggris. Hal ini terjadi karena orang tuanya memasukkannya ke sekolah internasional sejak usia empat tahun hingga kelas dua SD.

“Waktu dia umur empat sampai dia kelas dua SD itu kita masukkan ke sekolah internasional, jadi dia itu lebih menguasai bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia,” ungkap Lukas.

Setelah itu, keluarga memutuskan untuk memindahkan Timothy ke sekolah lokal agar lebih beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Mereka juga memberikan les tambahan bahasa Indonesia untuk membantu putranya berkomunikasi dengan lebih lancar.

“Jadi waktu kelas tiga dan kelas empat pun kita pindahkan dia ke sekolah yang lokal tapi yang holistik. Dari situ kita pun mendampingi dengan les bahasa Indonesia agar bahasa Indonesianya itu bisa lancar,” jelasnya lagi.

Meski demikian, gaya bicara Timothy tetap terlihat berbeda bagi sebagian orang, sehingga tak jarang menimbulkan kesalahpahaman.

“Banyak yang liat anak saya kayak anak kecil gitu, cara bicaranya, tapi memang dari awalnya dari kecil ini memang seperti itu cara berbicaranya,” tutur Lukas.

Kini, pihak kepolisian masih mendalami kasus kematian Timothy Anugerah, yang diduga kuat berkaitan dengan aksi perundungan di lingkungan kampus. Sementara itu, keluarga berharap masyarakat tidak lagi menyebarkan asumsi atau stigma yang tidak berdasar tentang kondisi mental almarhum.