Tak Punya Hati! Timothy Anugerah, Korban Bully yang Bundir Masih Diolok-olok Teman Kampusnya Setelah Meninggal
Pemberitaan ini bukan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri, apapun yang terjadi, tindakan bunuh diri tidaklah dibenarkan. Jika Anda mengalami depresi atau permasalahan psikologi, segera konsultasikan masalah-masalah Anda untuk dibantu oleh psikolog, psikiater maupun klinik kesehatan mental.
Tragedi yang menimpa Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Sosiologi Universitas Udayana (UNUD) yang meninggal dunia akibat dugaan bunuh diri menuai sorotan publik. Bukannya berakhir dengan duka dan empati, sejumlah mahasiswa justru menghina kematian Timothy di media sosial.
“Kalau mau bundir kenapa gak sekalian lantai 4 aja, nanggung amat lantai 2,” tulis percakapan dari sebuah grup WhatsApp yang tersebar di media sosial.
“Mentalnya gak kuat kalau dari lantai 4, koe bantu ke lantai 3 dah,” balas beberapa teman lainnya.
Tindakan tak berperasaan itu menimbulkan gelombang kemarahan. Banyak warganet menilai para pelaku kehilangan rasa kemanusiaan, karena menjadikan kematian seseorang sebagai bahan candaan. Bahkan setelah Timothy dimakamkan, nama dan fotonya masih beredar disertai komentar dan nyanyian bernada ejekan.
Unggahan yang memperlihatkan perilaku tidak pantas itu cepat menyebar. beberapa mahasiswa dari Program Studi Ilmu Politik angkatan 2023 teridentifikasi sebagai pelaku. Mereka kemudian mengaku bersalah dan membuat video permintaan maaf terbuka, namun publik tetap geram karena sanksi yang diberikan pihak kampus diduga hanya berupa nilai D untuk mata kuliah Etika Politik.
Bagi banyak pihak, hukuman itu dianggap terlalu ringan untuk perilaku yang dinilai merendahkan kematian seseorang dan mencoreng nama baik kampus.
Isi Permintaan Maaf yang Dinilai Hambar
Dalam video yang diunggah ke media sosial, beberapa mahasiswa atas nama Agung Nanda, Rian, Vita dan yang lainnya, ramai-ramai menyampaikan permintaan maaf. Namun, warganet menilai nada mereka datar dan hanya sekadar formalitas untuk meredakan kemarahan publik.
Mahasiswa bernama Agung Nanda memulai videonya dengan salam lintas agama dan menyatakan penyesalan atas perbuatannya.
“Saya Agung Nanda, mahasiswa Ilmu Politik angkatan tahun 2023. Mohon maaf sebesar-besarnya atas kegaduhan yang saya lakukan. Saya ingin terutama meminta maaf kepada keluarga korban almarhum Kak Timothy. Saya juga ingin meminta maaf kepada teman-teman almarhum Kak Timothy, kepada Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Udayana, dan kepada pihak yang tersinggung dan pihak yang dirugikan atas perbuatan yang saya lakukan. Turut berdukacita atas kepergian almarhum Kak Timothy. Saya siap menerima sanksi dari pihak fakultas maupun organisasi yang saya ikuti,” ujar Agung.
Sementara Riyadh menyampaikan hal serupa dalam videonya.
“Perkenalkan nama saya Riyadh, mahasiswa aktif dari Program Studi Ilmu Politik Angkatan 2023 Universitas Udayana. Tujuan saya membuat video ini adalah untuk mengklarifikasi dan mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya. Saya ingin mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas almarhum Kak Timothy dari Program Studi Sosiologi. Saya juga ingin mengucapkan permohonan maaf kepada keluarga dari Kak Timothy, teman-teman Kak Timothy, dan seluruh publik yang tersinggung dengan statement saya di media sosial. Saya siap menerima sanksi,” katanya.
Sedangkan Vita, mengaku menyesal telah ikut bernyanyi dan berkomentar menghina kematian Timothy.
“Saya sangat menyesal atas nyanyian saya dan juga ketikan saya yang sangat tidak pantas kepada almarhum Kak Timothy. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga, kerabat, dan juga pihak yang kecewa terhadap tindakan saya. Di sini saya ingin meluruskan bahwa saya sama sekali tidak mengenal dan juga tidak terlibat dalam perundungan kepada almarhum semasa hidupnya. Namun saya menyadari setelah peristiwa ini, saya sangat mengaku salah,” ucap Vita.
Setelah video permintaan maaf itu beredar, kolom komentar media sosial kembali ramai dengan kecaman. Banyak yang menilai, permintaan maaf tersebut tidak sebanding dengan luka yang ditimbulkan.
“Orang meninggal malah dijadikan bahan ejekan. Ini bukan sekadar salah, tapi sudah kehilangan empati,” tulis seorang netizen.
“Dapat nilai D itu terlalu ringan. Harusnya ada pembinaan dan evaluasi moral, bukan cuma formalitas,” tulis akun lain.
Tak sedikit pula mahasiswa dari universitas lain yang menyuarakan keprihatinan dan menuntut agar pihak kampus lebih tegas dalam menegakkan etika akademik.
Tindakan Tegas Universitas Udayana
Pihak Universitas Udayana bergerak cepat menanggapi kasus ini. Enam mahasiswa yang terlibat dalam percakapan tidak pantas di media sosial usai kejadian tersebut dipecat dari organisasi kemahasiswaan masing-masing.
Empat di antaranya merupakan pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) FISIP Unud, yakni Vito Simanungkalit, Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Maria Victoria Viyata Mayos, dan Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana. Dua lainnya berasal dari organisasi kampus lain.
Dalam pernyataan resminya, Himapol menyebut tindakan para mahasiswa tersebut sebagai perbuatan “amoral dan menambah luka bagi yang berduka.” Selain sanksi organisasi, mereka juga dijatuhi sanksi akademik oleh pihak kampus.
Para mahasiswa yang bersangkutan telah menyampaikan permintaan maaf terbuka dan menyatakan siap bertanggung jawab atas perbuatannya.