Permintaan Maaf Mahasiswa UNUD yang Hina Korban Bunuh Diri Timothy Anugerah Tuai Kecaman, Netizen: Gak Ada Empati

Mahasiswa Unud Timothy Anugerah Saputra diduga jadi korban bully
Mahasiswa Unud Timothy Anugerah Saputra diduga jadi korban bully

 Tragedi meninggalnya Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Sosiologi Universitas Udayana (Unud), Bali, akibat dugaan bunuh diri, terus menjadi sorotan publik. Bukan hanya karena peristiwa pilunya, tetapi juga karena sejumlah mahasiswa diduga mengolok-olok kematian Timothy lewat percakapan dan unggahan di media sosial.

Ironisnya, setelah korban meninggal, beberapa mahasiswa masih sempat menjadikan kepergian Timothy sebagai bahan candaan. Dalam tangkapan layar percakapan grup WhatsApp yang tersebar luas, terlihat komentar bernada hinaan dan tak berperasaan.

“Kalau mau bundir kenapa gak sekalian lantai 4 aja, nanggung amat lantai 2,” tulis salah satu pesan dari grup WhatsApp yang beredar di media sosial.

Pesan lain menimpali, “Mentalnya gak kuat kalau dari lantai 4, koe bantu ke lantai 3 dah.”

Ada pula yang menambahkan, “Baru peti harga sudah jutaan, apalagi kargo pesawat, sekitar 30 juta lenyap.”

Mahasiswa Unud, Timothy Anugerah Saputra

Percakapan itu memicu kemarahan besar di media sosial. Warganet mengecam para pelaku yang dianggap kehilangan rasa kemanusiaan karena menjadikan kematian seseorang sebagai bahan olok-olokan.

Bahkan setelah Timothy dimakamkan, unggahan berisi komentar dan nyanyian bernada ejekan terhadap korban masih muncul di dunia maya.

Permintaan Maaf yang Dinilai Hambar

Setelah kasus ini viral, beberapa mahasiswa dari Program Studi Ilmu Politik angkatan 2023 yang teridentifikasi sebagai pelaku membuat video permintaan maaf terbuka. Namun nada bicara mereka yang datar membuat banyak orang menilai permintaan maaf tersebut tidak tulus.

Salah satu mahasiswa, Agung Nanda, membuka videonya dengan salam lintas agama dan menyampaikan penyesalan.

“Saya Agung Nanda, mahasiswa Ilmu Politik angkatan tahun 2023. Mohon maaf sebesar-besarnya atas kegaduhan yang saya lakukan. Saya ingin terutama meminta maaf kepada keluarga korban almarhum Kak Timothy. Saya siap menerima sanksi dari pihak fakultas maupun organisasi yang saya ikuti,” ujarnya.

Mahasiswa lain, Riyadh, juga menyampaikan klarifikasi dan ucapan duka mendalam.

“Perkenalkan nama saya Riyadh, mahasiswa aktif dari Program Studi Ilmu Politik Angkatan 2023 Universitas Udayana. Tujuan saya membuat video ini adalah untuk mengklarifikasi dan mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya. Saya ingin mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas almarhum Kak Timothy,” kata Riyadh.

Sementara Vita mengaku menyesal telah ikut bernyanyi dan berkomentar menghina korban. Ia menegaskan bahwa tidak mengenal Timothy secara pribadi, namun menyadari kesalahannya setelah video itu viral.

“Saya sangat menyesal atas nyanyian saya dan juga ketikan saya yang sangat tidak pantas kepada almarhum Kak Timothy. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga, kerabat, dan juga pihak yang kecewa terhadap tindakan saya,” ujar Vita.

Namun, warganet justru semakin marah. Banyak yang menilai permintaan maaf tersebut sekadar formalitas tanpa empati yang tulus.

“Orang meninggal malah dijadikan bahan ejekan. Ini bukan sekadar salah, tapi sudah kehilangan empati,” tulis seorang pengguna media sosial.

Komentar lainnya menilai sanksi kampus terlalu ringan. “Dapat nilai D itu terlalu ringan. Harusnya ada pembinaan moral, bukan cuma formalitas,” tulis netizen lain.

Sanksi dari Kampus Dinilai Tak Setimpal

Rektorat Universitas Udayana, Bali

Rektorat Universitas Udayana, Bali

Pihak Universitas Udayana telah menjatuhkan sanksi terhadap para pelaku. Enam mahasiswa yang terlibat dalam percakapan tidak pantas itu dipecat dari organisasi kemahasiswaan masing-masing. Empat di antaranya adalah pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) FISIP Unud: Vito Simanungkalit, Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Maria Victoria Viyata Mayos, dan Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana.

Himapol menyebut tindakan mereka sebagai perbuatan “amoral dan menambah luka bagi yang berduka.” Selain diberhentikan dari organisasi, para mahasiswa juga mendapat sanksi akademik berupa nilai D pada mata kuliah Etika Politik.

Meski begitu, publik menilai hukuman itu tidak sepadan dengan dampak perbuatannya. Banyak yang mendesak kampus agar memberikan pembinaan moral dan memperkuat sistem etika akademik di lingkungan mahasiswa.

Sosok Timothy yang Dikenang Santun dan Cerdas

Mahasiswa Unud, Timothy Anugerah Saputra

Mahasiswa Unud, Timothy Anugerah Saputra

Timothy Anugerah Saputra (22) dikenal sebagai mahasiswa cerdas, sopan, dan peduli terhadap sesama. Lahir di Bandung pada 25 Agustus 2003, ia memilih menimba ilmu di Bali karena tertarik mempelajari dinamika sosial.

Wakil Dekan III FISIP Unud menyebut Timothy sebagai mahasiswa dengan Indeks Prestasi (IP) 3,91 yang aktif meneliti dan dikenal rajin membantu di kampus. “Ia sering merapikan kursi atau ruangan sebelum kegiatan dimulai,” ujarnya.

Rekan-rekan kampusnya pun mengenang Timothy sebagai pribadi yang hangat dan rendah hati. “Ia selalu lembut, santun, dan bahkan di hari-hari terakhir masih sempat tersenyum,” kata salah satu sahabatnya.

Namun, Timothy ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari gedung kampus. Keluarga menduga tekanan sosial dan perundungan turut memicu keputusannya. Sang ayah meminta penyelidikan transparan agar kebenaran di balik kematian anaknya bisa terungkap.

Publik kemudian menyerukan tagar #JusticeForTimothy sebagai bentuk solidaritas, menuntut keadilan sekaligus mendesak kampus memperkuat perlindungan bagi mahasiswa dari perundungan dan tekanan sosial.