Lost Contact dengan Mantan Baik untuk Otak, Begini Penjelasan Ahli

lost contact, manfaat lost contact, manfaat lost contact dengan mantan pasangan, lost contact dengan mantan baik untuk otak, Lost Contact dengan Mantan Baik untuk Otak, Begini Penjelasan Ahli

Sebagian orang memutuskan untuk lost contact atau memutus kontak dengan mantan kekasih ketika hubungan berakhir.

Salah satunya karena untuk memulihkan hati, agar bisa melanjutkan hidup dan menemukan pasangan baru.

Ternyata, lost contact juga memiliki manfaat lain, terutama untuk otak, seperti apa?

Lost contact baik untuk otak

Lost contact adalah memutus seluruh komunikasi dengan mantan pasangan, yang mencakup tidak menelepon, tidak bertukar pesan, tidak chatting, mengobrol, tidak menyukai unggahan di media sosial, dan tidak bertemu.

"Tetap berkontak dapat mencegahmu menutup lembaran lama, karena otak manusia diprogram untuk 'menutup lingkaran'," kata heartbreak and relationship coach berbasis di Inggris bernama Manj Bahra, dikutip dari Daily Mail, Minggu (14/9/2025).

Hal tersebut berkaitan dengan efek Zeigarnik, yakni kecenderungan untuk mengingat tugas yang belum selesai lebih mudah daripada tugas yang sudah selesai.

Dalam hal ini, 'tugas' yang belum selesai dapat membuat seseorang lebih fokus pada suatu situasi, sehingga membuat sulit untuk melupakan mantan sepenuhnya.

Artinya, kamu dapat mengingat semua dengan rinci, alias elemen hubungan yang mungkin akan terlupakan dan dilupakan.

Hal tersebut terjadi sampai 'lingkaran' tersebut telah tertutup. Kamu akan terus memikirkan situasi tersebut dan mencari cara untuk mendapatkan akhir yang diinginkan, yang tentunya bukan putus.

Menciptakan sinyal yang membingungkan

Bahra melanjutkan, seseorang yang tetap berkontak dengan mantan pasangan bisa menciptakan sinyal yang membingungkan.

"Kita dapat dengan mudah membaca hal-hal yang tidak ada, dan menciptakan sinyal yang membingungkan melalui persepsi kita, alih-alih realita. Dengan kata lain, kita mulai melihat apa yang kita ingin lihat," ujar dia.

Tetap berkontak adalah penghalang alami dari penutupan terhadap hubungan yang telah berakhir.

"Hal ini membuat kita terus-menerus terpapar pada harapan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan," kata Bahra.

Lost contact bisa mengatur ulang dopamin yang berkaitan dengan mantan

Memutus kontak dengan mantan pasangan bermanfaat untuk otak karena memungkinkan terjadinya pengaturan ulang dopamin, yaitu menyeimbangkan hormon yang membuatmu merasa senang.

Profesor biologi di Stanford University, Robert Sapolsky, telah mempelajari dopamin secara mendalam dan menemukan, kadarnya meningkat seiring antisipasi akan imbalan.

Dan kadar dopamin mencapai puncaknya ketika ketidakpastian berada di titik tertinggi.

Perihal berkencan, artinya antisipasi yang muncul saat mengejar seseorang sudah cukup untuk melepaskan dopamin, dan akan berada di puncaknya ketika kita tidak yakin dengan hasilnya.

Mengejar seseorang yang memberikan sinyal yang tidak jelas akan menghasilkan endorfin yang adiktif, bahkan jika kamu tidak pernah mencapai tujuan yang diinginkan.

Bahra mengatakan, sinyal yang tidak jelas bisa berupa persepsi. Mantan pasangan mungkin melakukan sesuatu yang biasa saja, tetapi bias koginitifmu memutuskan bahwa apa yang dilakukan memiliki arti yang lebih dari itu.

Mempertahankan kontak berisiko membuatmu terjebak dalam 'kejar-kejaran'. Ketidakpastian atau antisipasi apapun, bahkan hanya di dalam pikiran, bisa menciptakan siklus keacnduan.

Sementara itu, memutus kontak bisa mengurangi antisipasi dan menghilangkan ketidakpastian, sehingga tidak akan ada kebingungan.

"Bayangkan kamu sedang berusaha menjalani program diet. Apakah akan lebih sulit jika kamu menyimpan donat di rumah?" pungkas Bahra.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.