Mungkinkah Bisa Balikan dengan Mantan Setelah Lost Contact?

lost contact, lost contact adalah, berteman setelah putus, balikan setelah putus lama, balikan sama mantan setelah lama putus, Mungkinkah Bisa Balikan dengan Mantan Setelah Lost Contact?

Setelah mengakhiri sebuah hubungan, banyak mantan pasangan yang memutuskan untuk lost contact atau memutus kontak.

Memutus kontak dengan mantan pasangan memberikan beberapa manfaat, salah satunya adalah memroses kehilangan secara sehat untuk menyembuhkan hati.

Kendati demikian, rupanya masih banyak yang mengira bahwa lost contact dengan mantan pasangan justru dapat membuat mereka balikan kelak.

Lost contact adalah cara untuk balikan?

Lost contact adalah memutus seluruh komunikasi dengan mantan pasangan, yang mencakup tidak menelepon, tidak bertukar pesan, tidak chatting, mengobrol, tidak menyukai unggahan di media sosial, dan tidak bertemu.

Dilansir dari USA Today, Minggu (14/9/2025), anggapan bahwa lost contact bakal membuatmu balikan dengan pasangan adalah karena langkah tersebut akan membuat mereka merindukanmu.

Pada akhirnya, kerinduan yang semakin memuncak seiring berjalannya waktu, bakal membuat mantan pasangan akhirnya menghubungimu.

Dating couch sekaligus penulis buku "Breakup Bootcamp: The Science of Rewiring Your Heart", Amy Chan, tidak menampik bahwa lost contact dapat membuat mantan pasangan mempertimbangkan hubungan yang telah putus tersebut.

Namun, penting untuk diingat bahwa tujuan utama dari lost contact bukanlah itu, tetapi untuk memberimu ruang untuk pulih dan melanjutkan hidup.

"Saya tidak merekomendasikan lost contact sebagai strategi untuk kembali bersama mantan pasangan. Itu dapat membuat seseorang tetap berharap dan menyangkal hubungan telah berakhir, alih-alih berfokus pada penyembuhan dan melangkah maju," ujar Chan.

Meski begitu, ketika lost contact, memang ada kemungkinan mantan pasangan akan mulai merindukan hubungan tersebut.

Kemungkinan lainnya adalah mereka tidak nyaman karena tidak adanya dopamin, oksitosin, dan zat kimia lainnya yang memberi rasa nyaman, yang sebelumnya pernah diberikan oleh hubungan tersebut.

Lost contact, cara terbaik untuk pulih

Mengakhiri sebuah hubungan memang berat. Melangkah untuk maju setelah hubungan berakhir pun akan terasa sulit untuk dilakukan.

Psikoterapis Stephanie Sarkis mengatakan, patah hati adalah kehilangan yang ambigu karena merupakan pengalaman berduka atas seseorang yang masih hidup.

Memutus kontak dengan mereka memberimu ruang untuk memroses perasaan-perasaan yang kompleks itu, dan menyesuaikan diri dengan hidup tanpa mantan pasangan.

"Lost contact dapat membantumu untuk setidaknya memiliki waktu untuk tidak berbicara dengan mereka," terang Sarkis.

Kehilangan yang ambigu bisa menjadi lebih sulit untuk diproses dan dihadapi ketika kamu bertemu mereka setiap hari.

Inilah mengapa Chan merekomendasikan lost contact karena alasan neurologis.

Melakukannya pun memberi otak ruang untuk 'menata dirinya' sekaligus menghilangkan zat kimia dan hormon yang mengikatmu dengan mantan pasangan.

Selama menjalin hubungan, Chan menjelaskan bahwa jalur saraf menjadi saling terhubung.

"Setelah putus, meskipun orang yang patah hati, secara kognitif, menyadari bahwa semuanya sudah berakhir, tetapi otak dan tubuh dalam keadaan syok," tutur dia.

Sebab, otak dan tubuh masih menginginkan dopamin dan zat kimia pemicu rasa bahagia yang berkaitan dengan mantan pasangan.

"Berkomunikasi dengan mantan pasangan hanya memperkuat jalur saraf lama daripada membiarkannya terkikis. Meski hanya membaca ulang pesan teks lama atau menguntit media sosial mereka, ini dapat memperkuat jalur saraf lama tersebut," ujar Chan.

Lost contact membentuk jalur saraf baru

Selain itu, lost contact memberi otak kesempatan untuk membentuk jalur saraf baru seiring kamu menciptakan kenangan baru, dan mengalami hal-hal baru di luar hubungan masa lalu.

Jadi, penting bagimu untuk menghabiskan waktu dengan mencari hobi baru, memulai suatu proyek dari yang disukai, atau bonding dengan teman-teman.

"Setiap keterampilan baru yang dipelajari, setiap orang baru yang ditemui, dan setiap kenangan baru, menciptakan pembentukan koneksi saraf baru yang secara efektif mengubah struktur otak," kata Chan.

"Seiring waktu, jalur saraf yang berkaitan dengan mantan pasangan, menjadi kurang dominan karena koneksi baru ini membentuk ulang lanskap saraf," sambung dia.

Apakah lost contact memungkinkan untuk balikan?

Pemulihan harus menjadi tujuan utama dari lost contact. Namun, banyak yang melakukannya karena alasan lain, yakni lost contact dianggap sebagai cara terbaik untuk membuat mantan tertarik lagi.

Para ahli mengatakan, memang ada benarnya juga terkait anggapan itu.

Namun, jika seseorang memutuskan untuk mengakhiri suatu hubungan, tetapi masih berkomunikasi dan berhubungan denganmu, mereka tidak benar-benar merasakan konsekuensi dari keputusan mereka.

Ketika menerapkan lost contact, kamu membiarkan mantan merasakan beratnya ketidakhadiranmu dan bertanya-tanya apakah keputusan mereka untuk mengakhiri hubungan sudah tepat.

Lost contact adalah salah satu cara paling efektif untuk melupakan mantan pasangan.

"Namun, jika lost contact dibarengi dengan rencana untuk 'memenangkan' mereka kembali, menjelek-jelekkan atau mengidolakan mereka dalam setiap percakapan, dan terobsesi dengan media sosial mereka, itu tidak akan membantumu melangkah maju," tegas Chan.

"Ini bukan sekadar memutus kontak, tapi tentang memroses kenyataan baru bahwa hubungan telah berakhir, dan berkomitmen untuk terus maju meskipun kamu merindukannya," lanjut dia.

Sarkis menambahkan, apabila kamu ingin lost contact untuk kembali dengan mantan kelak, kamu perlu menelaah lebih lanjut perasaanmu.

Ada kemungkinan perasaan itu berkaitan dengan sesuatu yang belum selesai di dalam dirimu.

"Pertanyaannya adalah, kenapa saya ingin mereka kembali? Apa motivasi saya untuk menginginkan mereka untuk menginginkan saya kembali?" ucap Sarkis.

Bagaimana kalau berteman dengan mantan?

Chan mengatakan, ada orang-orang yang berandai-andai apakah mereka masih bisa berteman dengan mantan pasangan setelah hubungan berakhir.

Jawabannya tentu saja tidak.

"Melanjutkan hubungan pertemanan atau komunikasi rutin dapat menghambat kemampuanmu untuk memroses realita baru, yakni mereka sudah tidak lagi menjalin hubungan denganmu," jelas dia.

Setelah memutus kontak selama beberapa waktu, memang mungkin untuk berteman lagi.

"Namun, otak akan bingung jika kamu mencoba beralih dari hubungan romantis ke pertemanan, tanpa ada ruang dan waktu di antaranya," pungkas Chan.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.