Kejagung: Vendor Motor Listrik MBG Tidak Punya Diler dan Bengkel Aktif
Pengadaan puluhan ribu motor listrik untuk mendukung operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan.
Kali ini, Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap bahwa perusahaan penyedia kendaraan tersebut diduga tidak memenuhi persyaratan sebagai vendor karena tidak memiliki diler maupun bengkel aktif.
Temuan tersebut menjadi bagian dari penyidikan perkara dugaan tindak pidana korupsi tata kelola program MBG di Badan Gizi Nasional (BGN) periode 2025-2026.
Motor Listrik Emmo
Dalam kasus ini, Kejaksaan Agung telah menetapkan tiga mantan pimpinan BGN sebagai tersangka, yakni eks Kepala BGN Dadan Hindayana, eks Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Sony Sonjaya, dan eks Wakil Kepala BGN Bidang Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan Lodewyk Pusung.
Kontrak 1 Triliun
Menurut keterangan resmi Kejaksaan Agung, salah satu pengadaan yang menjadi sorotan adalah 21.801 unit motor listrik dengan nilai kontrak mencapai Rp 1,03 triliun.
Tim penyidik menyebut pembayaran pengadaan tersebut telah dilakukan kepada PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT).
Namun, perusahaan tersebut dinilai tidak memenuhi syarat sebagai penyedia karena tidak memiliki jaringan diler maupun bengkel aktif. Selain itu, penyidik juga menemukan indikasi mark up dalam proses pengadaannya.
"Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan nilai total pengadaan sebesar Rp 1.035.515.297.908,02 (satu triliun tiga puluh lima miliar lima ratus lima belas juta dua ratus sembilan puluh tujuh ribu sembilan ratus delapan rupiah koma dua sen) dan telah dibayarkan ke PT YAT yang tidak memenuhi syarat selaku vendor karena tidak memiliki dealer/bengkel aktif dan terdapat mark up," demikian keterangan Kejaksaan Agung dikutip Kamis (4/6/2026).
Emmo JVH Max diduga jadi motor untuk kebutuhan MBG
Awal Mula Polemik
Pengadaan motor listrik untuk MBG sendiri sebelumnya sempat memicu polemik karena jumlah unit yang dibeli mencapai puluhan ribu dengan harga sekitar Rp 42 juta per unit.
Kendaraan tersebut direncanakan sebagai sarana operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah, termasuk wilayah yang sulit dijangkau kendaraan roda empat.
Pada 8 April 2026 lalu, Dadan pernah menjelaskan soal urgensi pembelian ribuan sepeda motor listrik yang diklaim dengan harga di bawah pasar.
"Harga pasaran Rp 52 juta, tapi kita beli kalau enggak salah Rp 42 juta, di bawah harga pasaran," ujar Dadan di Istana, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Dia menekankan, pembelian motor listrik ini memang sudah masuk ke dalam anggaran 2025 dari target pembelian 24.400 motor listrik, BGN hanya bisa merealisasikan 21.800 unit saja. "Dan sudah masuk ke dalam anggaran 2025," ucapnya.
Kata dia, pengadaan sepeda motor listrik tersebut memiliki tujuan operasional, khususnya untuk menyalurkan MBG.
"Ya program ini kan menjangkau daerah-daerah yang nanti akan sangat sulit. Menjangkau desa-desa, daerah-daerah yang hanya bisa dengan motor. Itu untuk menunjang operasional," ujar Dadan.
Emmo JVH Max diduga jadi motor untuk kebutuhan MBG
Data Inaproc
Adapun berdasarkan data pada katalog elektronik pemerintah (Inaproc), PT YAT tercatat menawarkan dua model motor listrik merek Emmo, yakni Emmo JVX GT dengan harga Rp 49,95 juta dan Emmo JVH Max senilai Rp 48,84 juta.
Kedua model itu berstatus pre-order dengan estimasi waktu pemesanan hingga 75 hari.
Temuan terkait vendor motor listrik tersebut menjadi salah satu aspek yang kini didalami penyidik dalam perkara dugaan korupsi tata kelola program MBG.
Selain pengadaan kendaraan operasional, Kejaksaan Agung juga menyoroti sejumlah belanja barang lain yang diduga tidak sesuai ketentuan, termasuk pengadaan tablet, televisi, dan sepatu.
Kejagung menilai berbagai pengadaan tersebut berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara. Saat ini penyidik masih mendalami proses perencanaan, pengadaan, hingga pembayaran sejumlah paket belanja yang dilakukan BGN sepanjang 2025 hingga 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang