Kontroversi Motor Listrik MBG: Mirip Motor China, Ketahuan Di-markup

Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana cs melakukan markup pada anggaran terkait program makan bergisi gratis (MBG). Salah satu markup yang dilakukan adalah pengadaan motor listrik untuk SPPG.
Kejagung mengungkap sejumlah pengadaan yang tidak sesuai di antaranya 21.801 unit motor listrik. Nilai dari pengadaan itu mencapai sekitar Rp 1 triliun. Kejagung mengatakan pengadaan itu dimasukkan Dadan cs padahal tidak dibutuhkan.
"Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan total pengadaan sekitar Rp 1 triliun. Pengadaan 32 ribu pasang sepatu tidak sesuai ketentuan dan adanya markup," kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, di Kejagung, Rabu (3/6/2026).
Selain motor listrik, penggelembungan harga juga dilakukan di pengadaan 32 ribu pasang sepatu di BGN. Nilai anggarannya mencapai Rp 1 triliun.
"Dalam penyusunan KAK (kerangka acuan kerja) pengadaan barang dan jasa pada BGN tidak disusun sesuai kebutuhan riil di lapangan dan adanya markup harga pengadaan sehingga terjadi kerugian yang tidak mendukung operasional pelaksanaan MBG," ucap Syarief.
Motor Listrik MBG Mirip Motor China
Saat pertama kali muncul ke permukaan soal pengadaan motor listrik MBG, muncul kontroversi karena motor listrik bergaya skuter dan motor trail itu mirip dengan motor China. Bahkan, motor China itu punya harga yang jauh lebih murah dibanding motor listrik buat MBG tersebut.
Motor trail listrik EMMO JVX GT disebut-sebut mirip produk China, Kollter ES1-X PRO, yang harganya jauh lebih terjangkau. Dilihat dari laman marketplace Alibaba, Kollter ES1-X PRO dibanderol Rp 10 jutaan untuk pembelian satu unit. Namun, untuk pembelian dua unit, harganya diskon menjadi hanya Rp 8 jutaan.
Selain itu, skuter listrik EMMO JVH Max terlihat identik dengan motor listrik 'white label' buatan Tizhou Okla Automotive yang bermarkas di Zhejiang, China. Kemiripan EMMO JVH Max dan motor listrik Okla bisa terlihat di hampir seluruh bagian. Mulai dari headlamp atau lampu utama, windshield, spatbor, dan filter udara di bagian depan. Bahkan, detail fairing dan lampu seinnya juga benar-benar sama. Motor tersebut dijual mulai dari US$ 2.185 atau sekira Rp 37 jutaan. Nominal itu lebih terjangkau dibandingkan EMMO JVH Max yang dipasarkan seharga Rp 48 jutaan di Indonesia.
Saat wawancara dengan detikX, Dadan bilang memang motor listrik itu dijual di beberapa negara dengan nama lain. Bahkan, kata dia, motor itu juga beredar di Eropa dan Kanada.
"Motor ini di Eropa ada merek lain, sejenis tapi dengan merek yang berbeda. Kalau di Eropa namanya Tinbot. Di Eropa dan Kanada, karena itu satu jenis," kata Dadan ketika masih menjabat sebagai Kepala BGN, April lalu.
Branding Produk White Label Sudah Biasa
Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik) Hendro Sutono mengatakan, di industri kendaraan listrik praktik rebranding dari produk white label memang sudah jamak terjadi. White label di sini maksudnya motor yang rata-rata buatan China diproduksi tanpa menggunakan merek, kemudian di-branding oleh perusahaan lain.
"Praktik umum," kata Hendro kepada detikOto beberapa waktu lalu saat ditanya apakah beli kendaraan "white label" dari China dan rebadge sudah biasa di industri kendaraan listrik.
"Justru lebih mudah menyebutkan yang murni rancang bangun dari lokal Indonesia, seperti GESITS, MAKA dan QUEST," sambung Hendro.
Artinya, banyak motor listrik di Indonesia yang merupakan hasil rebranding dari motor listrik 'white label' China. "Tapi kemudian ada beberapa yang mulai diproduksi lokal. Ada komponen yang mulai (dibuat lokal) dari produksi rangka, body, velg," katanya.