BRIN Ungkap Nilai Tambah Industri Baterai EV Bisa Tembus 100 Kali

Ilustrasi baterai mobil listrik
Ilustrasi baterai mobil listrik

Pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi yang digarap Grup MIND ID dinilai mampu menciptakan nilai tambah hingga lebih dari 100 kali lipat bagi perekonomian nasional. 

Hal itu disampaikan Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Evvy Kartini, menyoroti pentingnya hilirisasi teknologi baterai dalam mendorong transformasi industri energi hijau dan kendaraan listrik Indonesia.

Menurut Evvy, nilai tambah terbesar tidak berada pada tahap pengolahan awal mineral, melainkan pada sektor manufaktur lanjutan seperti produksi prekursor, material katoda, hingga baterai jadi.

“Kalau kita berhenti di tahap MHP, nilai tambahnya hanya sekitar 5 sampai 10 kali. Tapi kalau sudah masuk ke produksi katoda, nilainya bisa naik sampai 50 kali. Dan ketika menjadi baterai, nilai tambahnya bisa lebih dari 100 kali,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat 6 Februari 2026.

Ia menjelaskan, proyek ekosistem baterai terintegrasi yang dikembangkan MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama mitra global menjadi momentum penting transformasi ekonomi berbasis teknologi.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan rantai pasok mineral yang lengkap dari hulu hingga hilir. Sumber daya nikel, misalnya, dapat diolah menjadi material katoda, diproduksi menjadi baterai, hingga dikembangkan ke tahap daur ulang.

“Nilai ekonomi terbesar itu ada di midstream dan downstream. Di situlah industri, lapangan kerja, dan penguasaan teknologi bisa tumbuh,” kata Evvy.

Lebih lanjut, ia menilai pengembangan baterai berbasis nikel seperti nickel manganese cobalt (NMC) perlu menjadi fokus utama industri nasional. Selain bahan baku tersedia di dalam negeri, teknologi ini memiliki kepadatan energi lebih tinggi sehingga relevan untuk kendaraan listrik modern.

Evvy juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan, khususnya insentif kendaraan listrik, agar selaras dengan agenda hilirisasi industri baterai.

“Pasar itu harus diciptakan lewat kebijakan. Kalau kendaraan berbasis NMC diberi insentif, industrinya akan tumbuh,” jelasnya.

Ia optimistis, dengan konsistensi regulasi dan eksekusi proyek terintegrasi, pengembangan ekosistem baterai nasional dapat meningkatkan daya saing industri teknologi dan energi Indonesia.