Cerita Chelsea dan AC Milan Akhirnya Mau Datang ke Indonesia dan Main di SUGBK
Klub raksasa Inggris, Chelsea dan klub raksasa Italia, AC Milan akan beraksi di Indonesia. Kedua tim bakal melakoni laga pramusim di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, 8 Agustus 2026.
Bagi Chelsea, ini bukanlah pertama kali mereka menginjakkan kaki di Tanag Air. The Blues akhirnya kembali menyapa penggemar Indonesia setelah 13 tahun lamanya. Terakhir kali klub asal London itu tampil di GBK adalah pada 2013 saat menghadapi Indonesia All-Stars di depan puluhan ribu suporter.
Kala itu, Chelsea yang datang dengan skuad bintangnya seperti Eden Hazard dan John Terry menang dengan skor telak 8-1. Kini, jelang musim 2026/27, Chelsea kembali memasukkan Indonesia dalam agenda tur pramusim Asia mereka.
Selain Jakarta, skuad Reece James dan kolega juga akan tampil di Hong Kong dan Sydney, Australia. Di Hong Kong, Chelsea dijadwalkan menghadapi Juventus.
Kembalinya Chelsea ke Indonesia tak terjadi begitu saja. Arif Putra Wicaksono selaku CEO Nine Sport Inc yang menjadi promotor mengungkap proses panjang hingga akhirnya klub-klub elite Eropa mulai melirik Jakarta lagi.
Arif menjelaskan, Indonesia sempat kehilangan momentum karena pernah dibanned FIFA pada 2015 lalu. Meski sempat mendatangkan Espanyol pada 2017, klub-klub besar Eropa lebih sering memilih Singapura, Thailand, atau Australia sebagai destinasi tur pramusim.
“Sempat tertahan juga karena pandemi. Waktu itu kami sempat membawa Espanyol pada 2017. Tapi hampir setiap tahun kami lihat klub-klub besar lebih banyak ke Singapura, Thailand, atau Australia,” kata Arif kepada VIVA, Selasa 12 Mei 2026.
Arief menyebut Indonesia sebenarnya punya modal besar berupa basis penggemar sepak bola yang luar biasa. Namun, dari sisi citra dan dukungan fasilitas, Indonesia masih kalah dibanding negara lain di Asia Pasifik.
“Setelah saya banyak diskusi, ternyata Indonesia memang belum terlalu masuk radar dunia sepak bola. Komunitas fans besar, iya, tapi untuk hal-hal lain belum terlalu dilirik," ucap Arif.
“Nah, kami sebenarnya cukup tertolong di era media sosial. Klub-klub mulai melakukan studi pasar dan mereka melihat ternyata antusiasme di Indonesia sangat besar, meskipun tidak selalu sebanding dengan penjualan merchandise mereka.”
“Masalahnya, dari sisi brand negara, Indonesia memang belum setara dengan Jepang, Thailand, Singapura, atau Australia. Negara-negara itu juga didukung penuh oleh pemerintahnya,” lanjutnya.
Meski begitu, peluang akhirnya datang ketika Chelsea mulai membuka komunikasi untuk agenda tur di Australia sejak Desember lalu. Dari situ, pembicaraan berkembang hingga muncul opsi bermain di Indonesia.
“Karena kami melihat ada peluang. Chelsea sebelumnya sudah melakukan komunikasi untuk pertandingan di Australia sejak Desember lalu. Kami melihat secara historis Chelsea punya basis fans besar di Indonesia. Dari situ mulai dibicarakan kemungkinan datang ke Indonesia," kata Arif.
Arief juga mengakui klub-klub Eropa tentu mempertimbangkan banyak faktor sebelum memilih lokasi tur pramusim, mulai dari aspek bisnis hingga fasilitas latihan.
“Memang untuk pre-season mereka pasti mencari aspek ekonomi dan lawan yang bagus juga. Australia unggul karena fasilitas mereka luar biasa. Ada sport science, laboratorium, training ground yang lengkap.”
“Nah, dari situ kami terus komunikasi dengan banyak klub, mungkin 8 sampai 10 klub. Alhamdulillah tahun ini ada ketertarikan dan akhirnya bisa terwujud," ucap Arif.
Meski masih ada pihak yang meragukan kesiapan Indonesia menggelar laga sebesar ini, Arief justru melihatnya sebagai tantangan yang harus dijawab.
“Banyak yang bilang Indonesia belum siap untuk pertandingan seperti ini. Tapi menurut saya, kalau menunggu siap, kapan mulainya?”