Dampak Media Sosial pada Anak, Bisa Picu Brain Rot

brain rot, Dampak Media Sosial pada Anak, Bisa Picu Brain Rot

Penggunaan media sosial yang semakin intens di kalangan anak dan remaja menimbulkan kekhawatiran baru terkait dampaknya terhadap kesehatan mental dan kemampuan kognitif.

Kekhawatiran ini juga menjadi salah satu alasan pemerintah berencana membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, untuk melindungi perkembangan mereka.

Di tengah kekhawatiran tersebut, muncul istilah brain rot yang makin sering digunakan untuk menggambarkan dampak kebiasaan terlalu lama mengonsumsi konten digital.

Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang terlalu sering terpapar konten online yang cepat, dangkal, dan terus berganti sehingga membuat otak sulit mempertahankan fokus dalam waktu lama.

Profesor psikologi dan neurosains, Mitch Prinstein, mengatakan bahwa penggunaan layar dalam waktu lama dapat memengaruhi bagian otak yang berperan penting dalam pengendalian diri dan pengambilan keputusan.

“Kita sangat membutuhkannya untuk hal-hal seperti pengendalian diri atau agar tidak terlalu impulsif,” kata Prinstein, dikutip dari The Washington Post, Kamis (12/3/2026).

Dampak brain rot pada fokus dan memori

Kebiasaan mengonsumsi konten digital secara terus-menerus dapat membuat perhatian seseorang menjadi mudah terpecah.

Peneliti dari MIT, Nataliya Kos’myna, menjelaskan bahwa otak yang terbiasa dengan konten pendek akan kesulitan mempertahankan fokus pada aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama.

Misalnya, seseorang bisa merasa tidak nyaman saat harus menonton video berdurasi panjang atau membaca tulisan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Selain menurunkan kemampuan fokus, penelitian juga menemukan bahwa penggunaan media sosial secara intens berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif serta meningkatnya kecemasan.

Studi lain yang melibatkan lebih dari 7.000 anak juga menemukan bahwa penggunaan layar yang tinggi berkaitan dengan penurunan ketebalan korteks otak pada beberapa area tertentu.

Korteks merupakan bagian luar otak yang berperan penting dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi, memori, serta pengambilan keputusan.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa anak dengan waktu layar lebih tinggi cenderung memiliki gejala attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) yang lebih besar.

Ilustrasi anak menggunakan media sosial. Akun media sosial milik anak di bawah usia 16 tahun akan dinonaktifkan mulai 28 Maret 2026.

Mengganggu waktu tidur anak

Selain memengaruhi kemampuan berpikir, penggunaan layar yang berlebihan juga berkaitan dengan gangguan tidur pada anak dan remaja.

Menurut Prinstein, kebiasaan menggunakan ponsel sebelum tidur menjadi salah satu penyebab utama anak tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup.

“Alasan utama mengapa anak-anak tidak mendapatkan delapan jam tidur yang direkomendasikan setiap malam adalah karena mereka terlalu banyak menggunakan layar. Mereka sering menggunakannya di tempat tidur,” kata Prinstein.

Padahal, tidur memiliki peran penting dalam perkembangan otak, terutama pada masa remaja ketika koneksi antar sel saraf masih terus berkembang.

Kurang tidur dalam jangka panjang dapat memengaruhi perkembangan white matter, yaitu lapisan lemak yang membantu mempercepat sinyal antar sel saraf di otak.

Jika perkembangan ini terganggu, kemampuan kognitif seperti membaca, memahami informasi, serta pengendalian impuls juga dapat ikut terdampak.

Cara mengurangi dampak brain rot

Meskipun demikian, para ahli menilai dampak penggunaan teknologi masih dapat dikendalikan dengan kebiasaan digital yang lebih sehat.

Salah satu langkah penting adalah membatasi penggunaan gawai, terutama pada malam hari agar tidak mengganggu waktu tidur.

Prinstein menyarankan agar perangkat seperti ponsel tidak disimpan di dekat tempat tidur saat malam hari.

Selain itu, penting juga untuk lebih sadar dalam menggunakan media sosial, misalnya dengan membatasi waktu scrolling atau menghapus aplikasi yang terlalu sering memicu penggunaan berlebihan.

Para ahli juga menyarankan untuk tetap melakukan aktivitas yang melatih kemampuan berpikir secara mendalam, seperti membaca, belajar keterampilan baru, atau berdiskusi secara langsung.

Menurut Prinstein, otak manusia membutuhkan tantangan agar tetap berkembang.

“Kita membutuhkan sedikit tantangan, sedikit usaha, dan sedikit kesulitan. Itu merupakan bagian dari proses belajar,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang