Dampak Oversharing di Media Sosial, Bisa Ganggu Emosi hingga Relasi

oversharing, Dampak Oversharing di Media Sosial, Bisa Ganggu Emosi hingga Relasi

Media sosial memberi ruang luas untuk berbagi cerita, emosi, hingga pengalaman pribadi.  Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan secara berlebihan dan tanpa filter, maka sudah tergolong oversharing.

Fenomena oversharing bisa memunculkan dampak yang tidak ringan.  Tidak hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga berdampak pada relasi sosial dan rasa percaya diri seseorang.

Psikolog Klinis Winona Lalita R., menjelaskan, salah satu konsekuensi terbesar dari oversharing berkaitan dengan jejak digital yang sulit dihapus sepenuhnya.

“Di dunia digital tidak bisa menghapus 100 persen apa yang udah di-share. Oleh karena itu, bisa jadi timbul perasaan mungkin malu, cemas, dan nyesal,” jelas Winona saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Dampak oversharing di media sosial

Perasaan malu hingga self-esteem yang goyah

Menurut Winona, perasaan malu, cemas, atau penyesalan yang muncul setelah membagikan sesuatu secara impulsif dapat berdampak pada kondisi psikologis jangka panjang.

“Perasaan ini dampaknya akan ke self-esteem atau kepercayaan diri kita yang bisa jadi goyah,” ujarnya.

Ketika seseorang menyadari bahwa unggahannya tersebar luas dan tak lagi berada dalam kendali, muncul rasa khawatir terhadap penilaian orang lain. 

Situasi ini dapat memperburuk cara individu memandang dirinya sendiri, terutama jika respons yang diterima bernada negatif atau menghakimi.

oversharing, Dampak Oversharing di Media Sosial, Bisa Ganggu Emosi hingga Relasi

Ilustrasi cemas. Kecemasan berlebihan soal penyakit semakin sering terjadi akibat banjir informasi kesehatan, dan psikolog mengungkap cara efektif mengelolanya.

Kehilangan privasi dan kendali atas respons orang lain

Dampak berikutnya adalah hilangnya privasi dan kendali. Dalam ruang digital, sekali sebuah konten dipublikasikan, penyebarannya tidak lagi sepenuhnya dapat dikontrol oleh pemilik akun.

“Tentunya, seseorang jadi kehilangan privacy dan kendali. Sekali hal itu diunggah, kita tidak punya kendali bagaimana orang lain berespon, dan apakah hal ini bisa menyerang kita atau fatal untuk kehidupan kita selanjutnya,” jelas Winona.

Ketidakpastian respons publik dapat menimbulkan kecemasan tersendiri, terlebih jika unggahan tersebut menyangkut informasi pribadi yang sensitif.

Relasi sosial terganggu dan terasa dangkal

Winona juga menyoroti dampak oversharing terhadap hubungan interpersonal. Ketika terlalu banyak aspek pribadi dibagikan ke publik, kualitas relasi bisa ikut terpengaruh.

“Hal ini berpengaruh pada bagaimana kita menjalin relasi selanjutnya dengan orang lain. Entah hubungannya jadi terasa dangkal atau fake, atau mungkin kita jadi merasa tidak saling mengerti dengan lingkungan sosial kita,” katanya.

Relasi yang sebelumnya terasa intim dan tulus bisa berubah menjadi canggung. Seseorang mungkin merasa dipahami secara keliru atau justru merasa lingkungannya tidak lagi memberikan rasa aman.

Ia menambahkan, secara umum, perilaku oversharing berkaitan erat dengan persoalan emosi dan kemampuan regulasi diri.

Melemahnya batasan diri dan munculnya sikap impulsif

Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Psikolog Klinis Dewasa Adelia Octavia Siswoyo. Ia menyebut, oversharing dapat membuat seseorang kehilangan batasan atau boundaries yang jelas.

“Seseorang jadi tidak memiliki boundaries atau batasan yg jelas pada diri sendiri, karena tanpa batasan dan filter kita jadi cenderung meledak-ledak secara emosional,” jelas Adelia.

Kondisi tersebut juga membuka kemungkinan munculnya perilaku yang kurang adaptif.

“Ini juga memungkinkan diri kita menunjukkan sikap maladaptif seperti agresif dan impulsif,” ujarnya.

Lebih jauh, Adelia menambahkan, pencarian atensi melalui media sosial tidak selalu memberikan kepuasan yang nyata.

“Tak jarang juga menyebabkan adanya perasaan kesepian karena merasa atensi yang dicari di sosial media bersifat fana dan tidak nyata,” katanya.

Dengan berbagai dampak tersebut, para psikolog menekankan pentingnya kesadaran diri dan pengelolaan emosi sebelum membagikan sesuatu di media sosial. 

Alih-alih menjadi ruang ekspresi yang sehat, oversharing justru dapat menimbulkan konsekuensi emosional dan sosial yang berkepanjangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang