Kenapa Orang Gemar Oversharing di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikolog

media sosial, Kenapa Orang Gemar Oversharing di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikolog

Media sosial kini tak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga tempat menumpahkan emosi, cerita personal, hingga pengalaman hidup yang sangat privat.

Fenomena ini dikenal dengan istilah oversharing, yaitu kebiasaan membagikan terlalu banyak informasi pribadi ke ruang publik digital. Lantas, mengapa banyak orang begitu gemar melakukannya?

Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., Psikolog, perilaku gemar berbagi di media sosial erat kaitannya dengan kebutuhan dasar manusia untuk terhubung dengan orang lain.

“Seseorang yang gemar sharing tentang kehidupannya di sosial media biasanya adalah orang yang memiliki kebutuhan untuk terkoneksi dengan orang lain,” jelas Adelia saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (24/2/2026).

Kebutuhan terkoneksi dan validasi emosional

Adelia menjelaskan, membagikan cerita di media sosial kerap berfungsi layaknya bercerita atau curhat.

Aktivitas tersebut menjadi sarana untuk mengekspresikan emosi sekaligus mendapatkan respons dari orang lain.

“Seperti bercerita atau curhat, kebutuhan mendapatkan validasi dari orang lain, dan juga bisa sebagai bentuk pengekspresian emosi,” ujar Adelia.

Respons berupa komentar, tanda suka, atau pesan dukungan sering kali memberikan rasa diterima dan diperhatikan.

Dalam kondisi tertentu, validasi tersebut bisa menjadi penguat emosional, terutama ketika seseorang sedang berada dalam fase rentan atau membutuhkan dukungan sosial.

Namun, Adelia menekankan, persoalan muncul ketika proses berbagi ini dilakukan tanpa kontrol yang memadai.

“Menjadi oversharing kita akan proses pembagian informasinya jadi dilakukan tanpa kontrol dan filter, sehingga terkesan membagi informasi secara impulsif dan tanpa batasan,” kata dia.

Manusia sebagai makhluk sosial dan individual

Senada dengan itu, Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., menuturkan, manusia pada dasarnya adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam diri seseorang.

Winona menilai, kebutuhan untuk terkoneksi ini wajar. Namun, persoalannya menjadi kompleks ketika kebutuhan tersebut tidak berjalan beriringan dengan kemampuan menjaga batasan diri.

“Yang tricky adalah kalau kebutuhan ini tidak jalan bareng sama yang namanya boundaries atau batasan. Kita juga memerlukan privasi untuk diri kita sendiri,” jelasnya.

media sosial, Kenapa Orang Gemar Oversharing di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikolog

Ilustrasi kesepian.

Ketika batasan diri menjadi kabur

Winona menyebut, dalam beberapa kasus, oversharing terjadi karena batasan antara ruang privat dan ruang publik menjadi tidak jelas.

“Kita bisa kaji ulang, apa sih batasan dari orang ini? Apakah terjadi boundary diffusion atau ruang privat kita itu batasannya jadi enggak jelas?” ujarnya.

Dengan batasan yang kabur, seseorang bisa saja membagikan sisi dirinya yang sebenarnya bersifat sangat pribadi.

“Dengan tidak adanya batasan yang jelas, seseorang bisa saja menyingkap atau menunjukkan sisi dirinya. Yang mungkin itu private dan enggak perlu untuk di-share, tapi akhirnya disebar luaskan juga,” kata Winona.

Peran media sosial dalam fenomena oversharing

Winona menambahkan, kebutuhan untuk merasa dekat, terkoneksi, atau eksis juga dipengaruhi oleh perubahan lingkungan sosial saat ini.

Ia menekankan bahwa di era teknologi, relasi sosial tidak lagi terbatas pada interaksi fisik semata.

“Sekarang kita hidup di zaman teknologi, lingkungan sosial itu enggak selalu berkaitan sama fisik, tapi juga berkaitan sama dunia maya ataupun media sosial,” tutur Winona.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang