Aneh tapi Nyata, Kenapa Orang Lebih Galak Saat Ditagih Utang? Ini Penjelasan Psikiater

penagihan utang, IPB University, Aneh tapi Nyata, Kenapa Orang Lebih Galak Saat Ditagih Utang? Ini Penjelasan Psikiater

Proses meminjamkan uang kerap terasa lebih mudah dibandingkan dengan menagihnya kembali. 

Dalam beberapa kasus, penagihan justru memicu ketegangan dan emosi di antara pihak-pihak yang terlibat.

Alih-alih menjelaskan kondisi keuangan yang dihadapi, sebagian orang merespons dengan sikap galak, memaki, bahkan mengusir pihak penagih.

Bahkan, tidak jarang pihak yang meminjam uang nekat melakukan tindakan kekerasan atau mengancam dengan benda tajam agar penagih segera pergi.

Situasi semacam ini pun memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengapa orang yang berada dalam posisi berutang justru cenderung bersikap agresif saat ditagih?

Kenapa Orang Lebih Galak Saat Ditagih Utang?

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, mengungkapkan alasan psikologis dan biologis terkait penyebab orang menjadi lebih galak saat ditagih utang.

Riati menjelaskan bahwa respons tersebut berkaitan erat dengan stres finansial dan ancaman terhadap harga diri.

“Dari sisi psikologis dan neurosains, penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi," ujar Riati dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

"Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kemampuan koping dan kontrol emosi menurun,” sambungnya.

Riati menambahkan, secara biologis tekanan seperti itu mengaktifkan amigdala yang merupakan bagian otak sebagai pusat deteksi ancaman.

Kondisi tertekan saat ditagih utang juga melemahkan fungsi prefrontal cortex yang bertanggung jawab terhadap penilaian rasional dan regulasi emosi.

Oleh sebab itu, otak masuk mode fight or flight yang membuat respons seseorang menjadi defensif dan agresif.

Reaksi keras saat penagihan utang kerap dianggap sebagai sikap buruk semata. Padahal, menurut kajian kesehatan jiwa, kemarahan yang muncul dalam situasi tersebut sering kali berakar dari tekanan mental yang kompleks, bukan sekadar soal etika atau watak pribadi.

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, menjelaskan bahwa kondisi finansial yang terjepit dapat memicu respons emosional ekstrem. Dalam situasi terdesak, seseorang merasa harga dirinya terancam dan kehilangan kendali atas keadaan.

“Dari sisi psikologis dan neurosains, penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kemampuan koping dan kontrol emosi menurun,” ujarnya.

Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan secara mental, tetapi juga memengaruhi kerja otak. Menurut dr Riati, sistem saraf merespons ancaman dengan cara yang lebih primitif, sementara kemampuan berpikir rasional justru melemah.

“Kondisi ini membuat otak masuk ke mode fight or flight, sehingga respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif,” ucap dr Riati.

Dalam konteks ini, sikap galak saat ditagih utang bukanlah bentuk pembangkangan yang disengaja. 

Reaksi tersebut muncul sebagai respons psikologis-biologis ketika mengalami stres, rasa malu, dan ancaman identitas diri dalam kondisi finansial yang tertekan.

Galak Saat Ditagih Utang Bukan Gangguan Jiwa

Riati menegaskan bahwa kemarahan saat seseorang ditagih utang tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan. 

Hal tersebut memang dapat terjadi ketika seseorang dalam keadaan tertekan.

“Masalah keuangan membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi stres. Ketika ditagih, perasaan malu, takut, dan terpojok bisa muncul bersamaan, sehingga orang bereaksi dengan emosi tinggi, kata Riati. 

"Ini lebih mirip refleks orang yang kaget, bukan karena sakit jiwa,” sambungnya.

dr Riati mengelompokkan perilaku galak saat ditagih utang sebagai respons stres akut (acute stress response). 

Ini merupakan reaksi alami tubuh dan otak ketika menghadapi tekanan besar atau ancaman mendadak. 

Respons serupa juga bisa timbul akibat frustrasi berkepanjangan, konflik interpersonal yang intens, stres tak terduga, maupun kondisi fisik yang menurun akibat kelelahan dan kurang tidur.

Ia menambahkan bahwa tekanan keuangan memang berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan mental seperti kecemasan dan depresi. 

“Penyebab gangguan mental bersifat multifaktor, melibatkan aspek biologis, ekonomi, sosial, dan psikologis,” katanya.

Marah Saat Ditagih Utang Masih Dianggap Wajar

Selama kemarahan hanya muncul pada momen tertentu, misalnya ketika menghadapi penagihan dan tidak terjadi secara terus-menerus, kondisi tersebut masih dianggap wajar. 

Namun, situasi berbeda apabila ledakan emosi muncul di berbagai aspek kehidupan, sulit dikendalikan, sampai melukai orang lain atau mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan.

Ledakan amarah juga perlu diwaspadai apabila disertai keluhan lain, seperti gangguan tidur berat, rasa putus asa berkepanjangan, atau perilaku berisiko. 

Cara seseorang merespons penagihan juga dipengaruhi oleh siapa yang datang menagih. 

Jika penagih adalah orang dekat, emosi yang muncul biasanya bercampur dengan rasa malu dan tersinggung karena relasi sosial ikut terancam. 

Sebaliknya, kehadiran debt collector sering dipersepsikan sebagai ancaman langsung, sehingga memicu respons bertahan berupa agresi verbal.

“Meski sama-sama tampak galak, keduanya bukan tanda gangguan jiwa,” tandasnya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Riati menyarankan agar penagih tidak menambah tekanan dengan konfrontasi keras. 

“Biasanya mereka bukan ingin mencari keributan, tetapi sedang tertekan dan kewalahan. Pendekatan yang lebih baik adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada pelan, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama,” ujarnya.

Pendekatan yang lebih tenang dinilai dapat membantu menurunkan ketegangan sehingga komunikasi kembali rasional. 

“Intinya, orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar agar masalah tidak semakin besar,” tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang