Mengapa Emosi Bisa Mengalahkan Akal? Ini Penjelasan Psikolog

Mengapa Emosi Bisa Mengalahkan Akal? Ini Penjelasan Psikolog, Peran dua bagian otak dalam mengendalikan emosi, Ketika emosi lebih dominan daripada akal, Pengaruh media sosial terhadap respons impulsif, Emosi intens dapat memicu perilaku agresif

Dalam beberapa kasus kekerasan yang terjadi belakangan, banyak orang bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa kehilangan kendali hingga melakukan tindakan agresif.

Manusia dikenal sebagai makhluk rasional yang mampu berpikir dan mempertimbangkan konsekuensi.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog menjelaskan bahwa kondisi tersebut bisa terjadi ketika emosi mengambil alih kendali atas proses berpikir rasional.

Dalam situasi tertentu, otak manusia memang dapat merespons ancaman atau tekanan dengan sangat cepat, bahkan sebelum proses berpikir logis bekerja secara optimal.

Peran dua bagian otak dalam mengendalikan emosi

Novi menjelaskan bahwa secara biologis manusia memiliki dua bagian otak yang sangat berperan dalam merespons emosi, yaitu amigdala dan prefrontal cortex.

Amigdala merupakan pusat emosi dasar, seperti rasa takut dan marah.

Bagian otak ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini ketika seseorang merasa terancam atau berada dalam tekanan.

Ketika amigdala aktif secara kuat, tubuh dapat memicu respons instingtif seperti melawan (fight), melarikan diri (flight), membeku (freeze), atau mengikuti situasi (fawn).

“Amigdala adalah pusat emosi dasar seperti takut dan marah. Ketika seseorang merasa terancam atau tertekan, bagian ini bisa mendominasi dan memicu respons instingtif,” ujar Novi dikutip dari ANTARA, Kamis (5/3/2026).

Di sisi lain, manusia juga memiliki prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berfungsi untuk berpikir rasional, membuat keputusan, serta mengontrol emosi dan perilaku.

Namun, jika prefrontal cortex tidak bekerja optimal atau tidak cukup terlatih, kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi bisa menurun.

Akibatnya, respons yang muncul cenderung impulsif dan dipicu oleh emosi yang kuat.

Mengapa Emosi Bisa Mengalahkan Akal? Ini Penjelasan Psikolog, Peran dua bagian otak dalam mengendalikan emosi, Ketika emosi lebih dominan daripada akal, Pengaruh media sosial terhadap respons impulsif, Emosi intens dapat memicu perilaku agresif

Ilustrasi gen z. Psikiater menjelaskan bagaimana tekanan validasi digital dan FOMO membuat banyak anak muda sulit membedakan hubungan sehat dan hubungan yang melelahkan secara emosional.

Ketika emosi lebih dominan daripada akal

Dalam situasi yang sangat menegangkan, emosi dapat muncul jauh lebih cepat dibandingkan proses berpikir rasional. Hal ini membuat seseorang bereaksi spontan tanpa sempat mempertimbangkan dampak dari tindakannya.

Menurut Novi, kondisi ini bisa diperparah oleh lingkungan yang tidak melatih kemampuan refleksi atau pengendalian diri sejak dini.

Pola pendidikan yang minim dialog, misalnya, dapat membuat anak kurang terbiasa mengekspresikan perasaan secara sehat atau menunda respons emosional.

Budaya yang kurang mendorong diskusi terbuka dan berpikir kritis juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengelola emosi ketika menghadapi tekanan.

Pengaruh media sosial terhadap respons impulsif

Selain faktor pendidikan dan lingkungan, paparan media sosial juga dapat berperan dalam membentuk cara seseorang merespons situasi.

Media sosial sering mendorong orang untuk bereaksi cepat terhadap berbagai informasi, mulai dari komentar, opini, hingga konflik di ruang digital.

Kebiasaan merespons secara instan tanpa refleksi mendalam dapat membuat sebagian orang semakin terbiasa bertindak impulsif.

Dalam kondisi emosional yang tinggi, pola respons cepat ini bisa terbawa ke kehidupan nyata, sehingga seseorang lebih mudah bereaksi secara spontan tanpa memikirkan konsekuensinya.

Emosi intens dapat memicu perilaku agresif

Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog menambahkan bahwa perilaku kekerasan sering muncul ketika emosi seseorang menjadi sangat intens hingga melampaui kemampuan mereka untuk mengendalikannya.

“Dalam kondisi ini, respons emosional seperti marah atau merasa terancam menjadi sangat dominan dibandingkan kemampuan berpikir rasional,” kata Ratih.

Akibatnya, individu dapat bertindak impulsif sebagai cara untuk melampiaskan ketegangan emosional yang dirasakan.

Beberapa faktor juga dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami ledakan emosi, di antaranya stres berkepanjangan, kelelahan, konflik hubungan, pengalaman kekerasan di masa lalu, hingga penggunaan zat tertentu.

faktor tersebut dapat menurunkan toleransi seseorang terhadap rasa frustrasi atau tekanan, sehingga respons emosional menjadi lebih mudah muncul.

Pentingnya melatih regulasi emosi

Para psikolog menekankan bahwa kemampuan mengenali dan mengelola emosi perlu dilatih sejak dini.

Regulasi emosi membantu seseorang memahami perasaan yang muncul serta menentukan cara merespons situasi secara lebih sehat.

Dengan kemampuan ini, seseorang dapat memberi jeda sebelum bereaksi, mempertimbangkan konsekuensi tindakan, serta mencari cara yang lebih konstruktif untuk menghadapi konflik atau tekanan hidup.

Latihan sederhana seperti mengenali perasaan, berdialog secara terbuka, dan belajar menunda respons emosional dapat membantu memperkuat peran prefrontal cortex dalam mengendalikan reaksi impulsif.

Ketika kemampuan regulasi emosi berkembang dengan baik, seseorang akan lebih mampu menghadapi situasi sulit tanpa harus melampiaskannya dalam bentuk kekerasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang