Kenapa Saat Lebaran Banyak Orang Suka Flexing? Ini Penjelasan Psikolog

Momen Lebaran identik dengan silaturahmi, berkumpul bersama keluarga besar, dan saling berbagi cerita setelah lama tidak bertemu.
Namun, di balik suasana hangat itu, tidak jarang muncul percakapan yang berujung pada perbandingan pencapaian, mulai dari pekerjaan, penghasilan, kendaraan, hingga barang-barang baru yang dimiliki.
Fenomena ini sering disebut sebagai flexing, yaitu perilaku menunjukkan pencapaian atau kemewahan untuk mendapat pengakuan sosial.
Menurut Psikolog Klinis Phoebe Ramadina M.Psi, situasi kumpul keluarga seperti Lebaran memang dapat memunculkan dorongan untuk menampilkan citra diri terbaik di hadapan orang lain.
Flexing sering berangkat dari kebutuhan validasi
Secara psikologis, orang yang melakukan flexing biasanya ingin mendapat pengakuan bahwa dirinya berhasil atau setidaknya tidak tertinggal dibanding anggota keluarga lain.
Dalam lingkungan keluarga, pencapaian materi masih sering dianggap sebagai simbol keberhasilan.
Karena itu, sebagian orang merasa perlu menunjukkan apa yang sudah mereka capai agar mendapat penilaian positif.
Phoebe menjelaskan, perilaku tersebut tidak selalu muncul karena rasa percaya diri yang tinggi.
Dalam banyak kasus, flexing justru berkaitan dengan rasa tidak aman atau kekhawatiran dianggap belum sukses.
Perilaku ini juga bisa menjadi bentuk kompensasi dari rasa tidak aman atau ketakutan dianggap gagal.
Tekanan sosial membuat orang ingin terlihat berhasil
Selain kebutuhan validasi, tekanan sosial juga berperan besar. Pertanyaan-pertanyaan seperti “sekarang kerja di mana?”, “sudah beli rumah belum?”, atau “gajinya berapa?” bisa memicu seseorang merasa harus tampil meyakinkan.
Dalam kondisi tertentu, dorongan ini bahkan membuat orang rela membangun citra yang lebih tinggi dari kondisi sebenarnya, misalnya dengan menonjolkan barang bermerek atau gaya hidup tertentu.
Phoebe menyebut perilaku ini berkaitan dengan tekanan sosial, harga diri yang belum stabil, dan dorongan Fear of missing out, yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain.
Di era media sosial, kebiasaan melihat pencapaian orang lain juga memperkuat keinginan untuk tampil sukses.
“Di era yang sangat menekankan pencitraan, penampilan eksternal sering kali dianggap lebih penting daripada keaslian, sehingga individu rela melakukan berbagai cara untuk memenuhi ekspektasi sosial tersebut,” ungkapnya dikutip dari ANTARA, Rabu (18/3/2026).
Perubahan kondisi ekonomi membuat kelas menengah perlu meninjau ulang kebiasaan belanja. Sejumlah pengeluaran yang dulu dianggap wajar kini berpotensi menggerus keuangan.
Cara menyikapi anggota keluarga yang suka flexing
Saat menghadapi anggota keluarga yang suka pamer, respons yang sehat adalah tetap netral dan tidak ikut masuk ke dalam percakapan kompetitif.
“Respon yang netral dan tidak memperpanjang diskusi ke arah kompetisi sudah cukup, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” jelas Phoebe.
Tidak perlu merasa harus mengimbangi cerita atau pencapaian yang ditampilkan.
Menurut Phoebe, penting untuk menyadari bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya.
Menjaga jarak emosional juga diperlukan jika percakapan mulai terasa melelahkan, sambil tetap memahami bahwa perilaku tersebut bisa menjadi cara seseorang mencari penghargaan.
Agar Lebaran lebih hangat, arahkan obrolan ke hal yang lebih personal
Supaya suasana kumpul keluarga tidak hanya dipenuhi perbandingan pencapaian, percakapan bisa diarahkan ke hal-hal yang lebih mempererat hubungan.
Misalnya berbagi pengalaman hidup, cerita tantangan yang pernah dihadapi, mengenang momen keluarga, atau saling memberi apresiasi secara tulus.
Obrolan sederhana tentang kondisi emosional, rencana ke depan, atau hal-hal kecil yang sedang dijalani sehari-hari justru dapat menciptakan suasana yang lebih hangat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang