Kenapa Pengetahuan Dasar Penanggulan Kebakaran Wajib Dimiliki Setiap Orang?

ilustrasi kebakaran di dapur
ilustrasi kebakaran di dapur

Pernahkah kamu berpikir bahwa kebakaran rumah adalah sesuatu yang jauh dari kita? Banyak orang merasa rumah mereka aman karena jarang menyalakan kompor besar, tinggal di lingkungan yang tenang, atau sudah memakai listrik dengan benar. Namun kenyataannya, kebakaran bisa terjadi di mana saja mulai dari dapur kecil sampai kamar tidur   hanya karena satu momen lengah.

Di tengah semakin kompleksnya aktivitas rumah tangga modern, pengetahuan tentang bahaya kebakaran bukan lagi sekadar keahlian tambahan, tetapi life skill penting yang dapat menyelamatkan nyawa. Bahkan, sejumlah program edukasi keselamatan yang digelar di berbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan betapa pentingnya masyarakat memahami dasar-dasar pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

Salah satu program yang memberikan gambaran nyata adalah pelatihan bahaya api dan penanggulangan kebakaran yang digelar oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET) melalui Integrated Terminal (IT) Tanjung Uban awal November 2025 lalu. Kegiatan ini menjadi inspirasi kuat tentang bagaimana edukasi keselamatan dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat.

Bahaya Kebakaran Bisa Muncul dari Hal Sehari-Hari

Orang sering membayangkan kebakaran sebagai sesuatu yang besar seperti gas meledak atau kabel menyala besar. Padahal, banyak kebakaran berawal dari hal sederhana seperti:

  • Meninggalkan kompor saat memanaskan makanan
  • Kabel charger murahan yang korsleting
  • Rice cooker yang terus-menerus dibiarkan di mode warm
  • Colokan listrik yang bertumpuk
  • Lilin aromaterapi yang dibiarkan menyala sampai habis

Dalam pelatihan keselamatan yang digelar awal November 2025 tersebut, peserta diajak menyadari bahwa kebakaran tidak pernah memulai diri sebagai bencana besar. Selalu ada pemicunya, dan sering kali pemicu itu terjadi di rumah-rumah biasa seperti tempat kita tinggal.

Program pelatihan ini diikuti oleh warga dari empat kelurahan dan satu desa di Bintan Utara. Mereka berkumpul di area pelatihan khusus untuk mempelajari cara kerja api, bagaimana mencegahnya, dan bagaimana memadamkannya jika sudah muncul.

Pelatihan Bahaya Api dan Penanggulan Kebakaran

Pelatihan Bahaya Api dan Penanggulan Kebakaran

1. Mengenal “Segitiga Api” (Fire Triangle)

Salah satu materi yang paling membuka mata peserta adalah fire triangle.

Api hanya bisa menyala jika ada:

  • Panas
  • Oksigen
  • Bahan bakar

Jika satu elemen hilang, api padam. Meskipun konsep ini terdengar sederhana, pemahamannya bisa membuat seseorang lebih tenang saat menghadapi kejadian darurat. Misalnya, ketika minyak panas terbakar, menutup sumber api dengan penutup panci atau kain besar akan memutus suplai oksigen, sehingga api padam tanpa perlu panik menyiram air tindakan yang justru memperburuk keadaan.

2. Pengenalan dan Latihan Menggunakan APAR

Peserta pelatihan diajak mempraktikkan penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Mereka belajar teknik PASS:

  • Pull: tarik pin
  • Aim: arahkan ke sumber api
  • Squeeze: tekan tuas
  • Sweep: sapu kanan ke kiri

Latihan ini sangat relevan untuk rumah tangga. Banyak rumah belum memiliki APAR, padahal harganya terjangkau dan dapat mencegah kerugian besar.

3. Simulasi Pemadaman Api Skala Besar

Bagian ini menjadi momen yang paling dinanti peserta melihat bagaimana api besar dapat ditangani oleh tim berpengalaman. Simulasi ini mengajarkan bahwa tidak semua kebakaran bisa diatasi sendiri. Kadang, keputusan terbaik adalah evakuasi, menutup semua pintu, dan menghubungi pemadam. Simulasi seperti ini membuat masyarakat lebih siap dan tidak panik saat menghadapi kondisi serupa.

Aksi Sosial yang Menguatkan Komunitas

Pelatihan kebakaran bukan satu-satunya kegiatan yang digelar. Ada pula program BerSEAdekah, yaitu pemberian santunan kepada 53 warga prasejahtera, termasuk anak-anak yatim, piatu, dan keluarga di Desa Teluksasah. Program ini dijalankan sebagai bagian dari komitmen sosial perusahaan energi tersebut untuk membantu masyarakat sekitar.

Kombinasi antara bantuan sosial dan edukasi keselamatan membuktikan bahwa penguatan komunitas bukan hanya soal materi, tetapi juga soal meningkatkan kemampuan dasar masyarakat agar lebih tangguh menghadapi situasi darurat.

Direktur Utama PET, Bayu Prostiyono, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan operasional dan hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.

“Sebagai pengelola terminal energi strategis, PET tidak hanya fokus pada keandalan operasi, tetapi juga pada keselamatan dan ketangguhan masyarakat di sekitar wilayah kerja. Melalui kegiatan sosial dan edukasi keselamatan seperti ini, kami ingin memastikan bahwa manfaat kehadiran kami dapat dirasakan secara langsung dan berkelanjutan oleh masyarakat,” ujar Bayu dalam keterangannya.

Sebagai salah satu terminal terbesar di Pertamina Group, IT Tanjung Uban memegang peran vital dalam menjaga kelancaran distribusi energi nasional. Terminal ini mengelola fasilitas penyimpanan BBM dan LPG dalam skala besar serta menjadi simpul distribusi penting untuk wilayah Sumatra bagian utara–selatan hingga Kalimantan Barat. Peran strategis tersebut didukung oleh komitmen perusahaan dalam membangun hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar melalui program sosial dan edukasi yang berkelanjutan.