Mom Guilt Tak Ditangani Bisa Berujung Depresi, Ini Penjelasan Psikolog

Mom guilt, Mom Guilt Tak Ditangani Bisa Berujung Depresi, Ini Penjelasan Psikolog, Saat rasa bersalah berubah menjadi penilaian negatif pada diri, Merasa sendirian dan tidak dipahami, Riwayat kecemasan dan depresi meningkatkan kerentanan, Mengapa intervensi dini sangat penting?, Mom guilt jangan sampai diabaikan

Perasaan bersalah ketika menjadi ibu atau mom guilt kerap dianggap sebagai bagian wajar dari proses menjadi ibu. 

Namun, ketika perasaan tersebut terus berulang, semakin dalam, dan tidak tertangani, dampaknya bisa lebih serius dari yang dibayangkan. Salah satunya adalah risiko berkembang menjadi depresi.

“Bisa banget kalau memang sangat dalam, karena kalau udah di fase depresi biasanya perasaannya bisa menganggap dirinya enggak berguna, enggak berdaya, dan enggak punya siapa-siapa,” ucap Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Farraas Afiefah Muhdiar saat diwawancarai Kompas.com di Jakarta Selatan, (10/12/2025).

Mom guilt memang bisa berkembang menjadi depresi apabila sudah berada pada tingkat yang sangat intens dan berlangsung lama.

Menurut Farraas, perubahan dari rasa bersalah menjadi depresi sering kali terjadi secara perlahan dan tidak disadari oleh ibu maupun lingkungan sekitarnya.

Mom guilt berkepanjangan bisa memicu depresi

Saat rasa bersalah berubah menjadi penilaian negatif pada diri

Mom guilt, Mom Guilt Tak Ditangani Bisa Berujung Depresi, Ini Penjelasan Psikolog, Saat rasa bersalah berubah menjadi penilaian negatif pada diri, Merasa sendirian dan tidak dipahami, Riwayat kecemasan dan depresi meningkatkan kerentanan, Mengapa intervensi dini sangat penting?, Mom guilt jangan sampai diabaikan

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Farraas Afiefah Muhdiar saat diwawancarai Kompas.com di Jakarta Selatan, (10/12/2025).

Farraas menjelaskan, perbedaan utama antara mom guilt yang masih wajar dan yang berbahaya terletak pada cara ibu memandang dirinya sendiri. 

Rasa bersalah yang sehat biasanya bersifat sementara dan tidak menggerus harga diri.

Akan tetapi, jika perasaan tersebut berkembang menjadi kebiasaan menyalahkan diri secara terus-menerus, risiko gangguan mental menjadi lebih besar.

“Kalau memang perasaan bersalahnya itu sampai ke titik menyalahkan diri sendiri hingga merasa tidak ada yang mengerti perasaannya, itu bisa berkembang jadi depresi jika tidak diintervensi lebih lanjut,” jelas Farraas.

Pada fase ini, ibu tidak hanya merasa gagal dalam peran pengasuhan, tetapi juga mulai mempertanyakan nilai dirinya sebagai individu.

Merasa sendirian dan tidak dipahami

Salah satu ciri yang mengkhawatirkan dari kondisi ini adalah munculnya perasaan terisolasi. 

Ibu merasa tidak ada orang yang benar-benar memahami apa yang ia rasakan, meskipun secara fisik dikelilingi keluarga.

Ibu yang merasa tidak punya siapa-siapa menjadi sinyal penting bahwa kondisi emosionalnya sudah membutuhkan perhatian serius.  Ketika rasa bersalah tidak lagi mendorong refleksi sehat, melainkan menutup ruang komunikasi, risiko depresi semakin meningkat.

Riwayat kecemasan dan depresi meningkatkan kerentanan

Farraas menambahkan, tidak semua ibu memiliki tingkat kerentanan yang sama. Faktor riwayat kesehatan mental sebelum memiliki anak juga berperan besar.

“Terlebih kalau sebelum punya anak, si ibu ini punya banyak kecemasan tentanh dirinya atau pernah mengalami depresi, maka kerentanannya lebih tinggi,” ujarnya.

Ibu dengan riwayat kecemasan atau depresi cenderung lebih mudah terjebak dalam pola pikir negatif, terutama ketika menghadapi tekanan pengasuhan dan ekspektasi sosial yang tinggi.

Dalam kondisi seperti ini, dukungan dari suami dan keluarga menjadi sangat krusial. 

“Maka suami dan keluarga bisa berikan dukungan dan jangan ragu untuk mengunjungi profesional untuk mencegah kondisinya lebih parah,” terang Farraas.

Dukungan yang dimaksud tidak hanya berupa kata-kata penguatan, tetapi juga kehadiran emosional, validasi perasaan, dan bantuan nyata dalam keseharian.

Mengapa intervensi dini sangat penting?

Ia menegaskan, depresi bukan kondisi yang muncul secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang sering kali diawali oleh perasaan bersalah, kelelahan emosional, dan kurangnya dukungan.

Intervensi sejak dini, baik melalui dukungan keluarga maupun bantuan profesional, dapat mencegah kondisi ibu memburuk. 

Semakin cepat ibu mendapatkan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan dan mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang pemulihan.

Mom guilt jangan sampai diabaikan

Mom guilt sejatinya adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab ibu terhadap anak. 

Namun, ketika perasaan tersebut berubah menjadi beban emosional yang merusak cara ibu memandang dirinya sendiri, kondisi ini tidak boleh diabaikan.

Menyadari bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan keluarga.

Dengan dukungan yang tepat dan intervensi profesional bila diperlukan, mom guilt dapat dikelola agar tidak berkembang menjadi depresi yang lebih serius.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang