Mengapa Jantung Berdebar Saat Mendengar Hujan atau Getaran? Ini Penjelasan Psikolog
Rasa cemas yang muncul saat mendengar hujan deras atau merasakan getaran kecil sering dialami oleh orang yang tinggal di daerah rawan bencana.
Psikolog menjelaskan reaksi seperti jantung berdebar atau napas menjadi cepat terjadi karena otak mengingat pengalaman bencana yang pernah dialami.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan rasa takut yang muncul dalam situasi tersebut berkaitan dengan cara otak memproses ingatan tentang peristiwa menakutkan.
Otak dapat mengaitkan suara atau situasi tertentu dengan bencana yang pernah terjadi sebelumnya.
Otak mengingat pengalaman yang menakutkan
Menurut Danti, otak memiliki sistem pertahanan yang bekerja untuk menjaga keselamatan seseorang.
Salah satu bagian otak yang berperan penting dalam respons ini adalah amigdala, yaitu pusat pengolah rasa takut.
“Amigdala atau pusat rasa takut di otak merekam trauma masa lalu,” ujar Danti saat dihubungi Kompas.com, Minggu (8/3/2026).
Ketika seseorang pernah mengalami bencana, pengalaman tersebut dapat tersimpan kuat di dalam ingatan.
Saat ada pemicu yang mirip, seperti suara hujan atau getaran, otak dapat langsung menganggap situasi itu sebagai ancaman.
Otak bereaksi sebelum logika bekerja
Ilustrasi trauma. Psikolog menjelaskan rasa cemas saat mendengar hujan atau getaran terjadi karena otak mengingat pengalaman bencana dan langsung mengaktifkan sistem pertahanan tubuh.
Danti menjelaskan bahwa reaksi takut sering muncul sebelum seseorang sempat berpikir secara rasional. Hal ini terjadi karena amigdala bekerja sangat cepat ketika mendeteksi kemungkinan bahaya.
Ketika otak menerima sinyal yang dianggap berbahaya, amigdala akan langsung mengirimkan peringatan ke seluruh tubuh.
Akibatnya, tubuh bisa bereaksi seolah-olah sedang menghadapi ancaman nyata, meskipun sebenarnya situasi tersebut belum tentu berbahaya.
Tubuh masuk mode siaga
Saat otak mendeteksi ancaman, tubuh akan masuk ke dalam kondisi yang dikenal sebagai fight-or-flight. Kondisi ini merupakan respons alami tubuh ketika menghadapi bahaya.
Dalam situasi tersebut, jantung bisa berdebar lebih cepat dan napas menjadi pendek. Tubuh sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman atau melarikan diri.
Reaksi ini sebenarnya merupakan cara tubuh melindungi diri dari bahaya.
Reaksi ini merupakan hal yang wajar
Danti menegaskan bahwa reaksi seperti cemas atau takut saat mendengar suara yang mengingatkan pada bencana merupakan hal yang wajar.
Pengalaman masa lalu dapat membuat otak lebih sensitif terhadap situasi yang dianggap berbahaya.
“Menghadapi alam yang tak menentu memang berat, namun memahami bahwa ada respons mental yang menyertainya adalah hal yang wajar dan merupakan langkah awal untuk menjadi lebih tangguh,” kata Danti.
Memahami cara kerja otak dalam merespons ancaman dapat membantu seseorang lebih mengerti mengapa rasa cemas bisa muncul secara tiba-tiba. Pengetahuan ini juga menjadi langkah awal untuk mengelola kecemasan dengan lebih baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang