Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog

lelucon, prank, Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog, Tawa dan hormon “bahagia” jadi alasan utama, Unsur kejutan dan pelepasan emosi, Cara membangun hubungan dan keterampilan sosial, Tidak semua orang nyaman dengan prank, Pentingnya batas dalam bercanda, Lebih dari sekadar iseng

April Fools atau April Mop adalah tradisi yang dirayakan setiap 1 April, ketika orang-orang saling mengerjai lewat lelucon dan prank ringan yang biasanya diakhiri dengan seruan “April Fools!”.

Meski terlihat sekadar iseng, kebiasaan ini ternyata berkaitan dengan cara kerja otak, emosi, dan hubungan sosial manusia.

Melansir Cleveland Clinic (31/3/2026), lelucon dan prank dapat memicu tawa yang memberi dampak positif bagi kesehatan. Humor berbasis prank melibatkan unsur kejutan, pelepasan emosi, hingga interaksi sosial yang kompleks.

Tawa dan hormon “bahagia” jadi alasan utama

Salah satu alasan utama orang suka mengerjai orang lain adalah karena efek tawa yang muncul setelah prank berhasil.

Psikolog Cleveland Clinic, Chivonna Childs, PhD, menjelaskan bahwa tertawa dapat meningkatkan hormon endorfin, yaitu zat kimia dalam tubuh yang membuat seseorang merasa lebih ringan, bahagia, dan tenang.

“Tertawa sangat baik untuk kita karena dapat meningkatkan hormon yang membuat kita merasa lebih bahagia dan lebih santai,” kata Childs.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa tertawa dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan membuat tubuh lebih rileks.

Selain endorfin, tawa memicu pelepasan dopamin dan oksitosin, dua hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan kedekatan sosial.

Dopamin berperan dalam sistem penghargaan di otak, sehingga seseorang merasa puas setelah tertawa. Sementara oksitosin membantu membangun rasa percaya dan koneksi dengan orang lain.

Unsur kejutan dan pelepasan emosi

lelucon, prank, Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog, Tawa dan hormon “bahagia” jadi alasan utama, Unsur kejutan dan pelepasan emosi, Cara membangun hubungan dan keterampilan sosial, Tidak semua orang nyaman dengan prank, Pentingnya batas dalam bercanda, Lebih dari sekadar iseng

Ilustrasi tertawa. Kebiasaan saling mengerjai saat April Fools ternyata punya penjelasan dari sisi psikologi dan cara kerja otak.

Mengutip Live Science (1/4/2026), humor dari prank sering kali muncul dari kejutan. Seseorang tidak menyangka akan dikerjai, sehingga reaksi spontan yang muncul menjadi bagian dari hal yang dianggap lucu.

Selain itu, prank juga menciptakan ketegangan kecil yang kemudian dilepaskan setelah situasi terungkap.

Proses ini membuat otak merasakan semacam kelegaan setelah sebelumnya berada dalam kondisi tegang.

Para ahli menyebut bahwa proses ini mirip dengan cara tubuh merespons situasi menegangkan, lalu kembali normal ketika merasa aman. Itulah sebabnya banyak orang tertawa setelah merasa kaget atau tertipu.

Cara membangun hubungan dan keterampilan sosial

Prank juga memiliki fungsi sosial yang penting. Pasalnya, candaan ringan dapat menjadi “perekat” dalam sebuah kelompok.

Seseorang yang terlibat dalam lelucon biasanya merasa lebih dekat dengan orang lain.

Humor juga membantu seseorang memahami norma sosial, seperti kapan harus bercanda dan kapan harus serius.

Selain itu, kemampuan membuat atau memahami lelucon juga melibatkan keterampilan berpikir, empati, dan komunikasi.

Seseorang perlu memahami bagaimana orang lain akan bereaksi agar prank tidak menyinggung. Dengan kata lain, humor tidak hanya soal tertawa, tetapi juga soal memahami orang lain.

Tidak semua orang nyaman dengan prank

Meski banyak orang menikmati lelucon, tidak semua orang merasa nyaman saat menjadi korban prank. Sebagian orang bisa merasa tidak suka atau bahkan malu ketika dikerjai.

Ada juga yang merasa tidak nyaman karena tidak ingin terlihat tertipu di depan orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa humor bersifat subjektif dan tidak selalu diterima dengan cara yang sama oleh setiap orang.

Karena itu, penting untuk memahami situasi dan karakter orang yang menjadi target lelucon.

Pentingnya batas dalam bercanda

Para ahli menekankan bahwa prank sebaiknya tetap dilakukan dalam batas yang aman.

Psikolog Susan Albers, PsyD, dari Cleveland Clinic mengingatkan bahwa tujuan utama lelucon adalah membuat semua orang tertawa, bukan mempermalukan.

Ia menyarankan agar orang memperhatikan kondisi, hubungan, dan perasaan orang lain sebelum melakukan prank.

Prank yang berlebihan atau berbahaya justru bisa merusak hubungan dan menimbulkan konflik. Karena itu, empati menjadi kunci agar lelucon tetap terasa menyenangkan bagi semua pihak.

Lebih dari sekadar iseng

Di balik kesannya yang ringan, kebiasaan mengerjai orang lain ternyata memiliki banyak makna.

Mulai dari reaksi biologis di otak, pelepasan emosi, hingga peran sosial dalam membangun hubungan.

April Fools pada akhirnya bukan hanya tentang menipu, tetapi juga tentang bagaimana manusia mencari cara untuk tertawa, merasa terhubung, dan menjaga keseimbangan emosi dalam kehidupan sehari-hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang