Merasa Sedih Usai Liburan? Simak Penjelasan Psikolog soal Post Holiday Blues

Berakhirnya masa libur panjang seringkali menyisakan perasaan tidak nyaman bagi sebagian orang. Kondisi emosional yang menurun saat harus kembali ke rutinitas pekerjaan atau sekolah ini dikenal dengan istilah post holiday blues.
Psikolog Klinis Virginia Hanny, M.Psi., menjelaskan bahwa post holiday blues adalah kondisi emosional sementara yang muncul tepat setelah periode liburan atau perayaan berakhir.
Kondisi ini tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga kelompok usia pelajar.
“Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peralihan dari aktivitas menyenangkan ke tuntutan sehari-hari, dan betul bisa dihadapi oleh siapa saja termasuk anak sekolah, mahasiswa maupun pekerja kantoran,” ujar Virginia, Senin (5/1/2026).
Mengenali Gejala Post Holiday Blues
Virginia yang merupakan lulusan Universitas Padjadjaran ini memaparkan bahwa ada sejumlah tanda fisik dan emosional yang patut diwaspadai. Seseorang yang mengalami kondisi ini biasanya merasakan kekosongan meskipun baru saja bersenang-senang.
Berikut adalah beberapa gejala umum post holiday blues:
- Perasaan Emosional: Muncul rasa sedih, murung, atau hampa tanpa alasan yang jelas.
- Penurunan Motivasi: Kehilangan semangat untuk kembali bekerja atau berangkat ke sekolah.
- Gangguan Fisik: Tubuh terasa mudah lelah, lesu, serta sulit untuk berkonsentrasi.
- Kualitas Tidur: Terjadinya gangguan tidur atau pola istirahat yang tidak teratur.
- Respon Cemas: Mudah tersinggung atau merasa cemas saat dihadapkan pada kewajiban rutin.
“Ada perasaan 'tidak siap' untuk menghadapi rutinitas kembali,” tutur psikolog yang berpraktik di Personal Growth tersebut.
Bukan Gangguan Mental, Melainkan Respon Adaptif
Meskipun terasa mengganggu, Virginia menegaskan bahwa post holiday blues pada dasarnya bukanlah sebuah gangguan mental. Hal ini lebih merupakan bentuk respon adaptif tubuh dan pikiran terhadap perubahan transisi rutinitas.
Secara umum, kondisi ini dianggap masih dalam batas wajar apabila berlangsung selama beberapa hari hingga maksimal dua minggu ke depan.
Seiring berjalannya waktu, suasana hati (mood) dan energi seseorang biasanya akan kembali stabil.
“Tidak ada waktu yang pasti untuk menentukan sampai kapan post holiday blues akan bertahan," jelas Virginia.
Kapan Harus Menghubungi Profesional?
Meskipun bersifat sementara, masyarakat diminta tetap waspada jika gejala yang dirasakan menetap dalam waktu lama. Batas waktu dua minggu menjadi indikator penting untuk membedakan kondisi ini dengan masalah psikologis yang lebih serius.
Virginia menyarankan untuk segera mencari bantuan profesional seperti psikolog klinis atau psikiater jika memenuhi kriteria berikut:
- Gejala bertahan lebih dari dua minggu.
- Intensitas gejala semakin berat dari hari ke hari.
- Sudah mengganggu fungsi individu dalam akademik maupun pekerjaan.
“Kita perlu waspada apabila mereka bertahan lebih dari dua minggu, gejalanya semakin berat atau sudah mengganggu keberfungsian individu, karena bisa jadi itu bukan lagi post holiday blues,” pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang