Mudah Menangis Tanpa Sebab? Ini Penjelasan Psikolog tentang Sensitivitas

psikolog, Mudah Menangis Tanpa Sebab? Ini Penjelasan Psikolog tentang Sensitivitas, Sensitivitas bukan sekadar “baper”, Tanda kelelahan emosional, Bisa memicu kecemasan hingga panik, Berpengaruh pada kepercayaan diri, Sensitivitas adalah kekuatan, Pentingnya ruang aman untuk bercerita

tiba ingin menangis tanpa alasan yang jelas mungkin pernah dialami banyak orang.

Misalnya, saat sedang berada di tempat ramai, tidak terjadi apa-apa, tetapi perasaan mendadak terasa penuh dan sulit dijelaskan.

Kondisi ini kerap membuat seseorang bingung, bahkan mempertanyakan dirinya sendiri.

Namun, menurut psikolog Indah Sundari Jayanti, kondisi tersebut bisa menjadi bagian dari sensitivitas emosional, sebuah sinyal alami dari tubuh bahwa ada hal yang perlu diperhatikan.

Sensitivitas bukan sekadar “baper”

Dalam perspektif psikologi, sensitivitas tidak hanya berkaitan dengan reaksi fisik yang terlihat, tetapi juga melibatkan kondisi mental.

Sensitivitas adalah cara tubuh dan pikiran memproses pengalaman, tekanan, hingga emosi yang tidak selalu disadari.

“Bicara sensitivitas, tidak boleh lupa bahwa diri kita terdiri dari fisik dan mental. Sensitivitas bukan hanya tentang hal yang terlihat dari luar, tetapi juga dari dalam,” ujar Indah dikutip dari ANTARA, Sabtu (18/4/2026).

Artinya, respons seperti ingin menangis atau merasa lebih emosional bukan sekadar “terlalu perasa”, melainkan bentuk komunikasi dari diri sendiri.

psikolog, Mudah Menangis Tanpa Sebab? Ini Penjelasan Psikolog tentang Sensitivitas, Sensitivitas bukan sekadar “baper”, Tanda kelelahan emosional, Bisa memicu kecemasan hingga panik, Berpengaruh pada kepercayaan diri, Sensitivitas adalah kekuatan, Pentingnya ruang aman untuk bercerita

Ilustrasi sedih, ilustrasi menangis, ilustrasi depresi.

Tanda kelelahan emosional

Salah satu dampak dari sensitivitas adalah munculnya kelelahan emosional atau emotionally drained.

Dalam kondisi ini, energi yang terkuras bukan hanya fisik, tetapi juga mental.

Gejalanya bisa muncul secara halus, seperti:

  • Merasa kosong atau hampa
  • Tiba-tiba ingin menangis
  • Merasa sendirian meski berada di keramaian
  • Kondisi tersebut menjadi semacam “peringatan” bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.

Bisa memicu kecemasan hingga panik

Sensitivitas yang tidak dikelola dengan baik juga dapat memicu kecemasan berlebih (anxiety).

Bahkan, dalam beberapa kasus, seseorang bisa mengalami gejala seperti serangan panik (panic attack) tanpa pemicu yang jelas.

Misalnya, tiba-tiba merasa sesak napas, tubuh kaku, tangan gemetar, atau dorongan untuk menangis.

Meski terlihat datang mendadak, kondisi ini sebenarnya merupakan respons dari tekanan yang terakumulasi.

Berpengaruh pada kepercayaan diri

Tidak hanya berdampak pada kondisi emosional, sensitivitas juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Kurangnya validasi dari lingkungan sering kali membuat seseorang merasa tidak cukup baik.

Hal ini bisa berkembang menjadi:

  • Low self-esteem (rasa percaya diri rendah)
  • Negative body image (pandangan negatif terhadap tubuh)

Stigma seperti “jangan cengeng” atau “tidak boleh menangis” justru dapat memperburuk kondisi, karena mendorong seseorang untuk menekan emosi alih-alih memahaminya.

Sensitivitas adalah kekuatan

Di sisi lain, sensitivitas bukanlah kelemahan. Justru, kemampuan merasakan emosi secara mendalam berkaitan dengan empati dan kecerdasan emosional.

Menangis, misalnya, adalah respons manusiawi saat menghadapi tekanan atau situasi sulit.

Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan diri.

“Jangan pendam itu semua sendirian karena emosi bukan untuk dipendam, tapi untuk dikendalikan, untuk diekspresikan selama tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Bangkit dimulai dari ketika kita berani mengakui bahwa saya sedang tidak baik-baik saja,” tuturnya.

Pentingnya ruang aman untuk bercerita

Alih-alih memendam perasaan, penting untuk mencari cara mengekspresikan emosi secara sehat.

Berbagi cerita dengan orang terdekat, seperti teman, pasangan, atau keluarga, dapat membantu meringankan beban emosional.

Memiliki safe space juga menjadi kunci agar seseorang merasa diterima tanpa dihakimi. Dari situ, proses memahami diri dan memulihkan kondisi mental bisa dimulai.

"Ketika kita speak up, bisa menemukan diri kita sendiri, artinya kita sudah memanfaatkan safe space untuk diri kita. Women empowerment itu bukan cuman 'semangat ya kak', tapi ketika kita bisa saling menerima momen sensitivitas kita, untuk lebih paham diri sendiri,“ kata Indah.

Pada akhirnya, sensitivitas adalah bagian alami dari diri manusia. Ketika dikelola dengan baik, ia tidak hanya membantu seseorang lebih memahami dirinya sendiri, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang