Mengapa Orang Sumatera Gemar Mengolah Gulai Bersantan? Ini Jejak Sejarahnya

Masakan bersantan, terutama gulai, merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner di Pulau Sumatera.
Di berbagai wilayah seperti Sumatera Barat, Aceh, Jambi, Lampung, dan Sumatera Utara, gulai bersantan tidak hanya menjadi lauk sehari-hari, tetapi juga simbol tradisi dan identitas masyarakat setempat.
Keistimewaan ini tidak terlepas dari kondisi geografis dan sejarah budaya yang membentuk cara makan masyarakat sejak lama.
Lantas, bagaimana sejarahnya hingga orang Sumatera gemar mengolah dan menyantap sajian gulai?
Sejarah gulai di Sumatera
Kemelekatan orang Sumatera dengan gulai didorong oleh berbagai faktor yang sudah ada selama ratusan tahun.
Pertama, adalah adanya ketersediaan bahan baku lokal. Hal inilah yang menjadi faktor utama.
Pulau Sumatera berada di wilayah tropis yang subur, di mana pohon kelapa tumbuh melimpah dan mudah diolah menjadi santan.
Santan dari kelapa tua memberikan cita rasa gurih dan tekstur yang kaya sehingga menjadi bahan pokok dalam masakan seperti gulai dan rendang.
Dilansir dari Springer, studi budaya kuliner Minangkabau menyebut bahwa penggunaan santan kental sangat dominan dalam masakan lokal karena menjadi sumber rasa utama yang memberikan keunikan cita rasa pada hidangan mereka.
Kedua, pengaruh sejarah perdagangan dan interaksi budaya juga turut membentuk pola masak bersantan di Sumatera.
Selama berabad-abad, pedagang dari India, Arab, dan Asia Tenggara berinteraksi dengan masyarakat pesisir Sumatera, memperkenalkan teknik memasak kuah berempah yang kemudian diadaptasi dengan santan lokal.
Akulturasi ini menjadikan gulai bersantan suatu bentuk kuliner yang kaya rempah dan tekstur, serta cocok dengan selera masyarakat agraris dan pesisir yang membutuhkan makanan berenergi tinggi dan bernutrisi.
Di Sumatera Barat, teknik memasak dengan santan tidak hanya soal rasa, tetapi juga makna sosial.
Gulai dan hidangan bersantan lainnya sering hadir dalam upacara adat, perayaan keluarga, dan tradisi makan bersama, mencerminkan nilai kebersamaan dan penghormatan kepada tamu.
Santan yang kaya lemak membantu menyatukan rempah-rempah sehingga menghasilkan rasa yang kuat dan memuaskan, sesuai dengan budaya makan kolektif masyarakat setempat.
Dengan kombinasi kelimpahan bahan lokal, pengaruh sejarah perdagangan, dan makna budaya yang kuat, tidak mengherankan jika masyarakat Sumatera begitu menyukai hidangan gulai bersantan.
Hidangan ini bukan sekadar makanan, tetapi juga warisan budaya yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi di dapur-dapur tradisional mereka.
Beberapa sajian gulai khas Sumatera
Ilustrasi aneka masakan padang, Sumatera.
Masing-masing daerah di Sumatera memiliki sajian khas gulai masing-masing.Seperti di Lampung, masyarakat lokalnya gemar dan bangga mengolah gulai uleu sapei.
Dilansir dari laman Disparekraf Provinsi Lampung, gulai uleu sapei adalah kuliner khas Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.
Makanan khas ini sudah disajikan sejak ratusan tahun lalu. Resepnya diwariskan turun temurun dari nenek moyang.
Selain gulai ulei sapei, ada pula sajian gulai khas lampung lainnya, yaitu seruit.
Beralih ke Sumatera Utara, ada kuliner khas gulai asam ikan baung dari Kabupaten Asahan.
Gulai asam ikan baung merupakan hidangan tradisional masyarakat Melayu Asahan yang sarat nilai budaya.
Selain sering diolah jadi menu harian warga lokal, gulai ini juga disajikan sebagai simbol penghormatan di berbagai acara adat.
Namun, gulai ini terancam keberadaannya lantaran ikan baung, bahan utamanya, populasinya kini semakin terbatas.
Pemancing dan penampung ikan menyebut hasil tangkapan baung kini merosot drastis dibandingkan beberapa tahun lalu.
Ukuran juga semakin kecil, di mana ikan yang berbobot lebih dari 1 kilogram kini sangat jarang ditemukan.
Di pasar tradisional, baung bahkan hampir tak pernah terlihat lagi.
Hal ini yang membuat Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumatera Utara terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Nusantara melalui kegiatan Inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Gulai Asam Ikan Baung di Kabupaten Asahan.
Selain dua menu itu, ada pula gulai tunjang khas Sumatera Barat yang berbahan dasar kikil, dan gulai tambusu dari area yang sama.
Gulai tunjang sendiri diceritakan dari masa ke masa, lahir dari budaya anti-pemborosan dalam masyarakat Minangkabau.
Jadi segala yang ada, akan dimanfaatkan sebijak mungkin, termasuk kikil sapi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang