Top 40+ Persen Orang Kini Menghindari Berita, Ini Penjelasan Psikolog
Di tengah derasnya arus informasi, semakin banyak orang memilih menjauh dari berita. Bukan karena tidak peduli pada apa yang terjadi di dunia, melainkan karena merasa lelah, kewalahan, dan sulit mengelola dampaknya terhadap kesehatan mental.
Fenomena ini ternyata tidak hanya dirasakan segelintir orang. Melansir SciTechDaily (3/6/2026), sekitar 40 persen masyarakat dunia mengaku setidaknya kadang-kadang atau sering menghindari berita. Angka tersebut menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat.
Psikolog perkembangan dari Wilfrid Laurier University, Ali Jasemi, menjelaskan bahwa kondisi ini bukan tanda kemalasan atau menurunnya kepedulian masyarakat terhadap isu publik.
Sebaliknya, hal itu merupakan respons yang dapat diprediksi dari otak manusia ketika menghadapi lingkungan informasi yang tidak pernah dirancang untuk dihadapi sepanjang sejarah evolusi manusia.
Mengapa berita negatif lebih sulit diabaikan?
Menurut Jasemi, manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih memperhatikan ancaman dibandingkan informasi positif.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai negativity bias atau bias negatif. Selama ribuan tahun, kemampuan memperhatikan ancaman membantu manusia bertahan hidup.
"Otak yang memperhatikan ancaman adalah otak yang bertahan hidup," tulis Jasemi.
Karena itu, informasi negatif cenderung lebih cepat menarik perhatian, lebih lama diingat, dan dianggap lebih penting dibandingkan informasi positif.
Di masa lalu, ancaman yang dihadapi manusia biasanya bersifat lokal, seperti kekeringan, penyakit, atau konflik di lingkungan sekitar.
Namun kini, sistem saraf yang sama harus memproses perang di satu negara, krisis ekonomi di negara lain, bencana iklim, hingga berbagai tindak kejahatan dari seluruh dunia dalam waktu yang hampir bersamaan.
Otak manusia tidak dirancang untuk banjir informasi
Ilustrasi stres. Semakin banyak orang memilih menjauh dari berita karena merasa kewalahan oleh banjir informasi dan kabar buruk yang terus datang setiap hari.
Jasemi menilai masalah utama bukan terletak pada manusia yang menjadi lebih lemah, melainkan pada lingkungan informasi yang berubah sangat cepat.
Secara biologis, otak manusia saat ini tidak jauh berbeda dengan manusia ribuan tahun lalu. Yang berubah adalah jumlah informasi yang harus diproses setiap hari.
"Pada 2026, sistem neurologis yang sama diminta menyerap perang di satu wilayah, guncangan ekonomi di wilayah lain, bencana iklim di tempat berbeda, dan tindak kekerasan di lokasi lain sebelum waktu makan siang," tulisnya.
Akibatnya, banyak orang merasa terus-menerus berada dalam kondisi siaga terhadap berbagai ancaman yang sebenarnya berada jauh di luar kendali mereka.
Mengapa judul berita negatif lebih menarik?
Salah satu alasan berita negatif mendominasi perhatian publik adalah karena memang lebih mudah menarik klik.
Jasemi mengutip penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour yang menganalisis lebih dari 105.000 judul berita dan hampir enam juta kali tayang.
Hasilnya menunjukkan bahwa setiap tambahan kata bernuansa negatif meningkatkan kemungkinan seseorang mengklik berita tersebut.
kata positif justru menurunkan tingkat klik.
Penelitian lain juga menemukan bahwa tubuh manusia memberikan respons fisiologis yang lebih kuat terhadap berita negatif dibandingkan berita positif.
Dengan kata lain, tubuh sering kali bereaksi terhadap ancaman bahkan sebelum otak memutuskan apakah informasi tersebut benar-benar relevan.
Ketika konsumsi berita mulai mengganggu kehidupan
Para peneliti bahkan mengenalkan istilah Problematic News Consumption (PNC), yaitu pola konsumsi berita yang menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini ditandai dengan keterikatan berlebihan pada berita, kesulitan mengendalikan konsumsi informasi, serta dampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis.
Dalam studi tahun 2022 yang dikutip Jasemi, sebanyak 17 persen orang dewasa di Amerika Serikat masuk kategori PNC tingkat berat.
Dari kelompok tersebut, 61 persen melaporkan kondisi kesehatan yang buruk atau merasa tidak sehat dalam tingkat yang cukup tinggi.
Sebaliknya, hanya enam persen dari kelompok tanpa PNC yang melaporkan kondisi serupa.
Haruskah berhenti membaca berita?
Menurut Jasemi, solusi terhadap kelelahan akibat berita bukanlah berhenti mengikuti informasi sama sekali.
Masyarakat tetap membutuhkan informasi yang akurat untuk mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam kehidupan demokratis.
Karena itu, yang perlu diatur adalah cara mengonsumsi berita.
Ia menyarankan masyarakat membatasi waktu khusus untuk membaca berita agar tidak terus-menerus terpapar informasi sepanjang hari.
Selain itu, memilih satu artikel mendalam dari sumber terpercaya dinilai lebih bermanfaat dibandingkan mengonsumsi puluhan unggahan singkat yang emosional dan belum tentu akurat di media sosial.
Jasemi juga menekankan pentingnya membedakan antara informasi dan tindakan.
Penelitian mengenai stres menunjukkan bahwa kesenjangan antara mengetahui suatu masalah dan merasa mampu melakukan sesuatu terhadap masalah tersebut menjadi salah satu pemicu tekanan psikologis terbesar.
Karena itu, fokus pada hal-hal yang masih bisa dilakukan atau dikendalikan dapat membantu mengurangi rasa tidak berdaya saat mengikuti berita.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih waspada terhadap rage bait, yakni konten yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan demi meningkatkan keterlibatan pengguna di media sosial.
"Berita tidak akan menjadi lebih ringan. Namun hubungan kita dengan berita bisa menjadi lebih disengaja," tulis Jasemi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang