Kisah Kepala SLB Negeri Tual Antar Jemput 32 Siswa Berkebutuhan Khusus dengan Tosa

Di balik ketegasannya sebagai seorang Kepala Sekolah, Muhammad Said (39) memiliki sisi lain yang penuh pengabdian.
Setiap hari, ia menjadi tumpuan harapan bagi 32 siswa berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tual, Desa Fiditan, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual, Maluku.
Tak hanya mengajar, Said juga berperan sebagai pengantar jemput siswa menggunakan kendaraan roda tiga (tosa).
Ia menempuh rute panjang melintasi wilayah Kota Tual hingga Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), dalam kondisi cuaca panas terik maupun hujan.
“Anak-anak ini kalau tidak dijemput enggan berangkat ke sekolah, apalagi jika orang tuanya sibuk dan kurang peduli. Karena itu, sejak 2023 saya berinisiatif meminta bantuan kendaraan tosa ke Dinas Pendidikan Provinsi Maluku. Beberapa bulan kemudian bantuan langsung diberikan,” kata Said, Selasa (16/9/2025).
Antar Jemput Siswa Sejak 2023
Said menceritakan, sebelum adanya tosa, antar jemput siswa dilakukan dengan motor oleh guru. Namun, keterbatasan kapasitas membuat banyak siswa tidak hadir ke sekolah.
Setiap pagi, ia memulai aktivitas sekitar pukul 07.00 WIT. Rute penjemputan juga disesuaikan dengan kondisi anak.
“Biasanya untuk siswa tuna grahita dan tuna wicara saya jemput duluan. Sementara yang down syndrome biasanya paling belakangan karena susah bangun pagi,” ujarnya.
Kebersamaan itu membuat Said memiliki ikatan batin yang erat dengan siswa-siswinya.
“Pernah saya digantikan guru lain untuk menjemput, mereka justru menolak sambil menangis. Kalau saya terlambat datang, mereka rela menunggu sampai pukul 10.00 atau 11.00 WIT,” tutur Said dengan mata berkaca-kaca.
Setelah proses belajar mengajar selesai, sekitar pukul 12.00 WIT, Said kembali mengantar para siswa ke rumah masing-masing.
Permintaan Rehabilitasi Asrama SLB Negeri Tual
SLB NEGERI TUAL : Kondisi terkini asrama siswa sekolah luar biasa di Kota Tual, Provinsi Maluku, Selasa (16/9/2025).
Meski terus berjuang agar anak-anak mendapatkan akses pendidikan yang layak, Said menghadapi persoalan besar lain, yakni kerusakan asrama siswa SLB Negeri Tual.“Asrama ini dibangun sejak 2012, tetapi sejak lama minim digunakan hingga akhirnya rusak. Padahal, sesuai prosedur, SLB harus memiliki asrama. Sejak 2021 kondisinya tidak bisa ditempati lagi,” kata Said.
SLB Negeri Tual sendiri pernah vakum sejak 2012 hingga 2021. Saat Said ditunjuk sebagai kepala sekolah, barulah sekolah kembali beroperasi dengan proses perekrutan siswa baru.
Beberapa upaya sudah dilakukan untuk merehabilitasi asrama.
Bahkan tim dari Direktorat Jenderal Pendidikan sempat meninjau dan mendokumentasikan bangunan yang akan direvitalisasi. Namun, program itu terhambat karena masalah administrasi.
“Kami hanya punya dokumen pelepasan lahan, tapi tidak ada sertifikat resmi. Syarat bantuan revitalisasi dari pemerintah pusat itu harus ada sertifikat lahan,” jelasnya.
Harapan Dukungan Pemerintah
Menurut Said, keberadaan asrama sangat penting karena siswa SLB Negeri Tual tidak hanya berasal dari Kota Tual, tetapi juga dari Kabupaten Maluku Tenggara, bahkan dari wilayah Danar hingga Kei Besar.
“Asrama ini sangat urgen. Kami berharap ada solusi dari Pemkot Tual untuk mendata fasilitas pendidikan yang belum memiliki sertifikat lahan. Dengan begitu, kami bisa mendapatkan bantuan perbaikan dari pemerintah,” katanya.
Ia juga menegaskan, anak dengan kebutuhan khusus memiliki hak yang sama dengan siswa lain dalam mendapatkan pendidikan yang layak.
“Kami meminta kebijakan dari Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Pendidikan untuk membantu merehabilitasi asrama SLB Negeri Tual. Ini demi masa depan anak-anak berkebutuhan khusus,” pungkas Said.
Sebagian Artikel ini telah tayang di TribunAmbon.com dengan judul Kisah Said, Kepsek Sekolah Luar Biasa Antar Jemput Siswa di Tual-Malra Pakai Tosa,
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.