Fakta Baru Pembunuhan Sesama WNI di Jepang, Pelaku dan Korban Saling Kenal

Ilustrasi Pembunuhan, Korban dan Pelaku Diduga Sudah Saling Mengenal, Bermula dari Laporan Pria Membawa Pisau Dapur, Polisi Jepang Terluka Saat Menangkap Pelaku, Pelaku Mengaku Menusuk dengan Niat Membunuh, Polisi Masih Dalami Motif Pembunuhan
Ilustrasi Pembunuhan

Seorang wanita warga negara Indonesia (WNI) tewas setelah menjadi korban penikaman yang dilakukan oleh pria sesama WNI di Kota Chitose, Hokkaido, Jepang. Dalam perkembangan terbaru kasus tersebut, pihak kepolisian mengungkap bahwa korban dan pelaku diduga saling mengenal satu sama lain.

Kasus ini menyita perhatian publik tidak hanya karena melibatkan dua WNI di Jepang, tetapi juga karena proses penangkapan pelaku sempat membuat seorang anggota kepolisian Jepang mengalami luka-luka saat berusaha melumpuhkan tersangka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Peristiwa tragis itu terjadi pada Kamis malam, 4 Juni 2026, sekitar pukul 21.10 waktu setempat. Kepolisian setempat mengidentifikasi korban sebagai Sri Rahayu, perempuan berusia 21 tahun yang tinggal di kawasan Fuji 3-chome, Kota Chitose, Hokkaido.

Sementara itu, pelaku diketahui bernama Mahmudi Agung Laksana Aji, pria berusia 27 tahun yang bekerja sebagai karyawan paruh waktu dan berdomisili di Prefektur Chiba, Jepang.

Korban dan Pelaku Diduga Sudah Saling Mengenal

Dalam penyelidikan awal, kepolisian Jepang menemukan indikasi bahwa korban dan tersangka memiliki hubungan atau setidaknya saling mengenal sebelum insiden berdarah tersebut terjadi.

Meski demikian, hingga kini aparat kepolisian masih mendalami hubungan keduanya dan belum menyimpulkan apa yang menjadi latar belakang atau motif di balik aksi penikaman yang berujung maut tersebut.

Penyidik terus mengumpulkan keterangan dan bukti guna mengungkap penyebab pasti terjadinya pembunuhan tersebut.

Informasi mengenai pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari korban juga masih terbatas. Sri Rahayu diketahui tinggal di Chitose, namun identitas pekerjaannya belum diungkap oleh pihak berwenang.

Bermula dari Laporan Pria Membawa Pisau Dapur

Insiden tersebut pertama kali terungkap setelah layanan darurat Hokkaido menerima laporan dari seorang pejalan kaki yang melihat seorang pria membawa pisau dapur di trotoar kawasan Chitose.

Laporan itu segera ditindaklanjuti oleh personel dari Kepolisian Chitose dan Kepolisian Prefektur Hokkaido yang bergerak menuju lokasi kejadian.

Sesampainya di lokasi, petugas menemukan seorang perempuan dalam kondisi terluka parah akibat beberapa luka tusukan di tubuhnya. Salah satu luka yang ditemukan berada di bagian perut korban.

Petugas kemudian segera mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Namun, nyawa Sri Rahayu tidak berhasil diselamatkan. Korban dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit setempat.

Polisi Jepang Terluka Saat Menangkap Pelaku

Proses penangkapan Mahmudi Agung Laksana Aji tidak berlangsung mulus. Dalam upaya mengamankan tersangka di lokasi kejadian, seorang anggota kepolisian Jepang dilaporkan mengalami luka-luka.

Meski demikian, aparat berhasil melumpuhkan dan menangkap tersangka tidak lama setelah insiden terjadi.

Peristiwa tersebut menambah perhatian publik terhadap kasus ini karena selain menyebabkan hilangnya nyawa seorang WNI, aksi pelaku juga mengakibatkan petugas penegak hukum terluka saat menjalankan tugasnya.

Hingga saat ini, kondisi anggota polisi yang terluka belum dijelaskan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Pelaku Mengaku Menusuk dengan Niat Membunuh

Setelah diamankan, Mahmudi Agung Laksana Aji langsung menjalani pemeriksaan oleh penyidik.

Dalam keterangannya kepada polisi, tersangka mengakui telah melakukan penikaman terhadap korban.

Menurut pengakuannya, aksi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan nyawa korban.

"Saya telah menusuknya dengan niat membunuh," demikian pengakuan tersangka kepada penyidik.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu dasar bagi kepolisian untuk menjerat Mahmudi dalam kasus pembunuhan.

Meski tersangka telah mengakui perbuatannya, penyelidikan belum berhenti. Aparat Jepang masih berupaya mengungkap secara menyeluruh kronologi kejadian, hubungan antara korban dan pelaku, serta alasan yang mendorong terjadinya aksi penikaman tersebut.

Polisi Masih Dalami Motif Pembunuhan

Hingga saat ini, motif pembunuhan masih menjadi misteri. Kepolisian Jepang belum memberikan keterangan resmi mengenai kemungkinan penyebab konflik yang terjadi antara korban dan tersangka.

Fokus penyelidikan kini diarahkan pada hubungan pribadi keduanya, riwayat komunikasi, serta aktivitas sebelum insiden berlangsung.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Temuan bahwa korban dan pelaku saling mengenal menjadi salah satu petunjuk penting yang sedang didalami penyidik untuk mengungkap alasan di balik tragedi yang menewaskan Sri Rahayu.

Kasus pembunuhan sesama WNI di Jepang ini pun masih terus berkembang seiring proses penyelidikan yang dilakukan oleh aparat kepolisian setempat.