Kenali 5 Tanda Mertua Toksik, Termasuk Mengabaikan Aturan untuk Cucu
Realita kehidupan rumah tangga tidak selalu seindah ekspektasi. Tidak sedikit orang yang harus berhadapan dengan mertua bermasalah, sebuah situasi yang bisa sangat menguras energi emosional harian.
Walaupun kamu sama sekali tidak memiliki kendali untuk memilih siapa keluarga pasangan, mengenali perilaku toksik mertua sedini mungkin adalah langkah awal yang penting.
"Setiap perilaku yang membahayakan, katakanlah mengendalikan, manipulatif, atau tidak sopan, dapat dianggap toksik," ujar terapis trauma dan kesehatan mental perinatal, Becca Reed, LCSW.
Penting untuk mengetahui tanda perilaku toksik, karena dapat melindungi kesejahteraan psikologis dan menjaga keharmonisan rumah tangga dari potensi konflik yang berisiko merusak ikatan pernikahan kamu.
Tanda-tanda mertua toksik
1. Terus mencari kesalahan
Salah satu ciri utama dan paling umum dari mertua bermasalah adalah kebiasaan melontarkan kritik secara terus-menerus terhadap apa pun yang kamu lakukan.
Situasi penuh tekanan ini bisa membuat kamu merasa selalu salah langkah, yang pada akhirnya akan menggerus rasa percaya diri secara perlahan, tetapi pasti.
"Mereka mungkin sering mengkritik pilihan, penampilan, atau gaya pengasuhan kamu," ujar psikoterapis dan pendiri Uncover Mental Health Counseling, Kristie Tse, LMHC, dikutip dari Best Life, Sabtu (11/4/2026).
"Kritik yang terus-menerus dapat merusak harga dirimu dan menciptakan lingkungan yang buruk. Hal ini menunjukkan kurangnya rasa hormat dan dukungan," lanjut dia.
2. Melanggar batasan privasi
Sebuah hubungan keluarga yang sehat selalu dilandasi oleh rasa saling menghargai batasan privasi.
Jika keluarga dari pasangan terus-menerus menerobos aturan yang telah kamu tetapkan dengan susah payah, hal tersebut merupakan sinyal bahaya yang mutlak tidak boleh diabaikan demi kewarasan pikiran.
Contoh nyata pelanggaran batasan ini meliputi kebiasaan mengajukan pertanyaan intim meski kamu menolak menjawab, berkunjung ke rumah tanpa kabar, atau bersikeras ikut campur dalam urusan finansial.
Terkadang, mereka bersikap pasif-agresif dengan berpura-pura menyetujui batasan di awal, tetapi tindakannya sama sekali tidak sejalan.
"Jika tindakan atau kata-kata seseorang secara konsisten membuatmu merasa tidak nyaman, tertekan, cemas, atau kesal, itu pertanda baik bahwa perilaku mereka toksik," jelas psikoterapis yang berbasis di Manhattan, AS, Kathryn Smerling, LCSW.
3. Memanipulasi dengan rasa bersalah
Sebesar apapun pengorbanan dan usahamu untuk meluangkan waktu saat liburan atau melibatkan mereka dalam kehidupan cucunya, mertua yang bermasalah kerap membuat semuanya terasa tidak pernah cukup.
Mereka cenderung akan menggunakan berbagai taktik manipulatif demi memaksakan kehendak mereka sendiri.
"Mereka mungkin mengatakan hal-hal seperti, 'Jika kamu benar-benar peduli pada kami, kamu akan lebih sering berkunjung,' sehingga membuat kamu merasa bersalah karena tidak memenuhi harapan mereka," kata Reed.
4. Menjatuhkan wibawa orangtua
Memberikan nasihat pengasuhan tanpa diminta, atau secara diam-diam mengambil keputusan terkait anak tanpa berkonsultasi denganmu, adalah bentuk pelanggaran yang fatal.
Sikap intervensi ini secara langsung bertujuan meruntuhkan wibawamu sebagai orangtua, terlebih jika tindakan tersebut dilakukan langsung di hadapan anak-anakmu.
"Pengasuhan cucu adalah area umum untuk campur tangan oleh mertua," ungkap terapis berlisensi sekaligus salah satu pendiri dan presiden High Conflict Institute, Bill Eddy, LCSW.
Smerling menambahkan, mertua yang toksik mungkin mencoba mengesampingkan aturan apa pun yang kamu bua.
"Seperti memberi anakmu ponsel di meja makan meskipun tahu waktu tersebut seharusnya bebas layar. Ini bisa terasa meremehkan bagimu, dan membingungkan bagi anak-anakmu," kata Smerling.
5. Memancing keributan keluarga
Terakhir, mertua toksik biasanya sangat lihai dalam mencari celah untuk menciptakan drama dalam dinamika keluarga besar.
Tidak jarang, mereka secara sengaja menyulut api perpecahan dengan tujuan akhir menciptakan ketegangan yang merusak hubungan antara kamu dan pasangan.
"Mereka mungkin menyebarkan desas-desus, memihak dalam konflik, atau mengadu domba anggota keluarga," ucap Tse.
"Menimbulkan konflik dapat menciptakan lingkungan keluarga yang terpecah belah dan bermusuhan, yang mengarah pada kerusakan emosional dan stres yang berkepanjangan," pungkas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang