Cerita 3 Perempuan tentang Strategi Memimpin di Tengah Krisis dan Perubahan

Bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia 2026 beberapa waktu lalu, Citi Indonesia melalui kelompok afinitas karyawan Citi Indonesia Women Network (IWN) menggelar diskusi interaktif bertajuk “Leading with Agility: Shaping the Future”.
Acara yang berkolaborasi dengan Indonesia Business Coalitin for Women Empowerment (IBCWE), Shell Indonesia, dan Bank Mandiri Srikandi ini menjadi panggung bagi tiga pemimpin perempuan untuk saling berbagi kisah tentang bagaimana agility menjadi kunci dalam menghadapi lanskap bisnis yang kian kompleks.
Harus Hadir untuk Tim
Membuka diskusi, Vera Sihombing, Country Counsel Citi Indonesia yang telah berkarier selama lebih dari 30 tahun, menekankan bahwa kepemimpinan yang tangkas dimulai dari kehadiran seorang pemimpin bagi timnya, terutama saat menghadapi tantangan besar.
Ia merefleksikan bagaimana peran kepemimpinan harus tetap stabil, meski di tengah ketidakpastian.
"Leadership signature tentunya adalah kehadiran kita ya sebagai pemimpin. Walaupun kita tidak hadir secara fisik, tapi I’m there for them, gitu ya. Jadi saya untuk mereka, untuk tim saya," ungkap Vera mengenai filosofi kepemimpinannya di acara Citi Indonesia Women Network Talk Show di Citi Indonesia Pacific Century Place, Jakarta, belum lama ini.
Bagi Vera, seorang pemimpin di bidang hukum harus mampu menjadi mitra strategis yang tetap tenang dan positif, untuk memberikan koridor mitigasi risiko yang praktis bagi bisnis.
Siap Memimpin di Masa Krisis
Senada dengan pentingnya ketangguhan, President Director & Managing Director Mobility PT Shell Indonesia Ingrid Siburian, menceritakan pengalamannya saat memimpin di masa krisis perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022.
Ingrid dihadapkan pada situasi sulit, yang mana saat itu ia harus mengambil keputusan besar untuk menutup beberapa site SPBU dan merubah strategi secara cepat demi keberlangsungan bisnis.
Ia menyoroti fenomena glass cliff, di mana pemimpin perempuan seringkali ditempatkan pada posisi kepemimpinan justru di saat situasi sedang sulit. Namun, alih-alih merasa terjebak, Ingrid memilih untuk melakukan reframing.
"Mungkin kalau kita membawa bisnis itu pada saat bisnis itu sudah bagus, ya then we continue to grow, mungkin meaning-nya akan berbeda dengan pada saat bisnis itu di lowest moment, tapi kita turn around the situation," tutur Ingrid.
Baginya, keberhasilan memimpin di titik terendah memberikan makna yang jauh lebih dalam dan menjadi kesempatan untuk menunjukkan pada industri, bahwa pemimpin perempuan juga memiliki kemampuan dan keahlian yang mumpuni.
Mengadapi Berbagai Generasi
Di sisi lain, tantangan kepemimpinan juga muncul dari pesatnya perkembangan teknologi dan data.
Group Head Enterprise Data Analytics Bank Mandiri, Kurnia Sofia Rosada, menceritakan bagaimana ia harus merangkul tim yang didominasi oleh Gen Z dan milenial untuk segera beradaptasi dengan teknologi AI.
Ia dipercaya memimpin pengelolaan data analitik perrusahaan, untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis. Satu hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Bagi saya waktu itu, ini hal baru, karena sebelumnya saya berkarier di bidang bisnis dan pemasaran. Namun ternyata, data is the new oil. Banyak data yang bisa dimanfaatkan dan dimonetisasi untuk mendukung pertumbuhan bisnis,” papar perempuan yang akrab disapa Nia ini.
Terlebih lagi, ia percaya, bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari jika ada kemauan dan keberanian.
"As long as it is not a nuclear engineering, you can learn it. Even nuclear engineering you can still learn it," katanya dengan mantap.
Tantangan lainnya adalah ketika harus meyakinkan manajemen senior terhadap inovasi baru. Menurutnya, salah satu caranya dengan menunjukkan hasil nyata.
"Strateginya sebenarnya yang paling tepat adalah prove it with the outcomes. Bagaimana pun angka dan dampak nyata jauh lebih berbicara dibandingkan sekadar teori di atas kertas,” ujar Nia.
Ketiga pemimpin perempuan ini sepakat, bahwa karier tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah, melainkan harus didesain secara sadar.
Baik melalui keberanian untuk menyuarakan aspirasi, mengambil risiko di masa sulit, hingga membuktikan kapabilitas melalui inovasi. Ketiganya membuktikan bahwa kepemimpinan yang tangkas adalah tentang kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi tanpa kehilangan integritas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang