Efek Krisis Timur Tengah, Transaksi Minyak Mentah Melejit dari Belasan ke Ratusan

Ilustrasi minyak mentah.
Ilustrasi minyak mentah.

Kenaikan ini disebabkan adanya sejak krisis politik yang terjadi di Timur Tengah. COFU10 merupakan kontrak berjangka minyak mentah yang merepresentasikan 10 barel per lot.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Adapun jenis minyak mentah dalam kontrak berjangka ini adalah jenis West Texas Intermediate (WTI), yaitu minyak mentah ringan (light) dan manis (sweet), yang menjadi salah satu patokan (benchmark) harga minyak dunia utama.

“Lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah khususnya COFU10 ini menunjukkan tingginya minat pelaku usaha melakukan hedging atau lindung nilai atas komoditas tersebut,” ucap Direktur ICDX Nursalam di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Ia juga menyampaikan bahwa krisis di Timur Tengah cukup memberikan guncangan pada pasar energi global, khususnya minyak mentah. Dalam situasi seperti ini, hedging atau lindung nilai dapat mengatasi risiko yang terjadi atas perubahan harga pada pasar fisik (spot).

Selain kontrak berjangka minyak mentah, lanjutnya, ICDX telah memfasilitasi transaksi multilateral yang dapat dimanfaatkan para pelaku usaha untuk hedging dari beberapa komoditi seperti mata uang dan emas. “Kami akan terus mengembangkan kontrak-kontrak berjangka sesuai dengan kebutuhan para pelaku usaha,” tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Commodity Analyst Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan harga minyak mentah dalam jangka pendek masih cukup kuat untuk bergerak pada tren bullish, karena efek dari risiko geopolitik timur tengah yang saat ini menjadi katalis penggerak utama belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Risiko geopolitik dari perang Iran ini berdampak langsung pada gangguan pasokan di pasar global akibat aksi saling blokade di jalur pengiriman vital, terutama Selat Hormuz yang berkontribusi terhadap sekitar 20 persen pasokan energi global,” ucapnya.