Di Tengah Konflik dan Krisis Ekonomi, Iran Naikkan Upah Minimum hingga 60 Persen
Menteri Tenaga Kerja Iran mengumumkan kenaikan upah minimum lebih dari 60 persen, seperti dilaporkan media lokal pada Minggu 15 Maret 2026 lalu. Kebijakan ini muncul beberapa bulan setelah gelombang protes anti-pemerintah yang awalnya dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang memburuk.
Menurut laporan kantor berita Tasnim yang mengutip pernyataan Menteri Tenaga Kerja Iran, dengan persetujuan pemerintah, upah minimum bulanan akan naik dari 103 juta rial atau setara Rp 1,3 juta menjadi 166 juta rial atau setara Rp 2,1 juta pada tahun kalender Persia berikutnya, yang akan dimulai dalam beberapa hari ke depan.
Tak hanya upah minimun saja yang mengalami kenaikan. Pemerintah Iran juga mengumumkan kenaikan serupa untuk tunjangan anak, demikian seperti mengutip dari laman Arab News, Selasa 17 Maret 2026.
Berdasarkan data dari situs pemantau nilai tukar Bonbast, mata uang Iran saat ini diperdagangkan sekitar 1,47 juta rial per dolar AS atau setara Rp 15.500.
Setiap tahun, Iran memang menyesuaikan upah minimum untuk mengikuti tingkat inflasi. Dalam beberapa bulan terakhir, inflasi melonjak tajam akibat sanksi internasional yang diberlakukan terhadap negara itu, menjelang konflik yang masih berlangsung antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Gelombang Demonstrasi
Gelombang demonstrasi terkait kondisi ekonomi sempat pecah pada Desember tahun lalu. Aksi tersebut dipicu oleh tingginya biaya hidup dan melemahnya nilai mata uang nasional.
Seiring waktu, protes itu berkembang menjadi gerakan yang meluas di berbagai wilayah Iran dengan tuntutan agar kepemimpinan ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979 diakhiri.
Pemerintah kemudian melakukan penindakan keras terhadap aksi-aksi tersebut. Sejumlah kelompok hak asasi manusia menyebutkan bahwa ribuan orang tewas dalam penindakan itu, yang kemudian mendorong Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan melakukan intervensi militer.
Tujuan Trump dalam melancarkan kampanye terhadap Republik Islam Iran sendiri belakangan disebut mengalami perubahan. Namun, ia berulang kali menyerukan agar rakyat Iran memanfaatkan situasi ini untuk bangkit dan mengambil alih kendali atas negara mereka.