Pesan WA Terakhir Dwi Murdiono Sebelum Pesawat ATR 42-500 Jatuh
Dwi Murdiono, seorang mekanik pesawat yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500, meninggalkan seorang istri dan anak.
Warga Tajurhalang, Bogor, Jawa Barat ini bertugas sebagai engineer di PT Indonesia Air Transport.
Sebelum berangkat bersama sejumlah kru dan tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dwi sempat berbagi cerita dengan istrinya, Sinta Jayanti, mengenai perjalanan dinasnya yang panjang.
Dwi menjelaskan akan berangkat dari Bogor, singgah di Semarang, kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.
Sinta mengungkapkan bahwa Dwi mengatakan ia akan terbang ke Makassar pada Sabtu pagi untuk keperluan patroli.
"Suami saya berangkat dinas biasa untuk patroli di laut. Dia berangkat dari Semarang, setelah singgah sampai jam 5 sore, lalu melanjutkan ke Jogja dan menginap di sana. Keesokan harinya, ia akan berangkat lagi ke Makassar untuk tugas patroli," ungkap Sinta, seperti dikutip dari Tribun, Selasa (20/1/2026).
Setelah tiba di Makassar, rencananya Dwi dan rombongan akan kembali ke Jakarta.
"Jika pesawat aman, mereka akan menginap di Makassar, lalu kembali ke Jogja, dan baru pulang ke Jakarta," kata Sinta menjelaskan rencana suaminya.
Pesan Wa terakhir
Sinta juga membagikan isi percakapan terakhirnya dengan Dwi sebelum keberangkatan.
"Hari Sabtu jam 8, dia bilang, 'mi, abi nanti jam 8 kalau enggak diundur berangkat ya'. Saya balas, 'iya bismillah ya, hati-hati'. Setelah itu, tidak ada balasan lagi," ujarnya.
Sinta merasa aneh karena Dwi tidak menghubunginya hingga siang hari. Karena dia sudah berpesan agar suaminya memberi kabar setelah tiba di hotel.
"Biasanya kalau sudah sampai, Dwi selalu mengabari, 'abi sudah nyampe ya, sudah di hotel ya'. Sebelum berangkat, saya bilang, 'jangan lupa ngabarin ya', biasanya dia selalu ingat," tambah Sinta.
Kekhawatiran Sinta meningkat ketika pada pukul 14.00 WIB, ia menerima telepon dari perusahaan tempat Dwi bekerja yang memberitahukan bahwa pesawat yang ditumpangi suaminya hilang kontak.
"Jam 12 saya ditelepon, karena nomor saya sama suami kan ganti, jadi dipikir itu nomor suami. Awalnya, saya hanya mengira ada sesuatu dari kantor. Setelah itu, jam 2 saya di-WA untuk diminta doanya untuk mas Dwi yang katanya hilang kontak," jelas Sinta dengan penuh kesedihan.
Kesaksian tetangga Dwi
Tetangga Dwi, Willy (67), menyatakan bahwa mereka sangat terkejut mendengar kabar tentang Dwi.
"Kesehariannya baik, dia juga bagus di masyarakat," kata Willy.
Menurutnya, Dwi dikenal sebagai sosok yang sibuk bekerja dan jarang bertemu dengan tetangga setiap hari.
"Cuman jika hari libur, kadang-kadang ngobrol, dan kalau ada kegiatan lingkungan, dia ikut," tambahnya.
Willy juga menambahkan bahwa Dwi tidak banyak menceritakan pekerjaannya kepada tetangga.
"Dia jarang menceritakan bagian kerja, saya baru tahu bahwa dia mekanik pesawat. Saya pikir dia bekerja di bengkel mobil atau yang sejenis," ungkapnya.
Diketahui, Dwi Murdiono merupakan satu dari sepuluh penumpang pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan saat menabrak tebing Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026).
Basarnas berharap dapat temukan korban selamat
Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syafi'i berharap masih dapat menemukan korban selamat dari kecelakaan jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan.
Diberitakan , Selasa (20/1/2026), sejauh ini tim SAR baru menemukan dua korban meninggal dari total 10 penumpang.
"Pada hari ketiga ini, pada pukul 14.00 Wita, korban kedua diketemukan. Yang pertama tadi, berjenis kelamin laki-laki. Yang kedua berjenis kelamin wanita," ujar Syafi'i di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
"Dari dua korban yang kami temukan, kami sangat berharap bahwa kami segera bisa menemukan korban, dan berharap di golden time kami bisa menemukan korban yang masih hidup," sambungnya.
Menurut Syafi'i, saat ditemukan, antara satu serpihan pesawat dengan serpihan lainnya berjarak sekitar 700 meter. Jarak ini sempat membuat tim SAR pesimis.
Hanya saja, ketika melihat korban dalam kondisi utuh, tim SAR langsung berharap bisa menemukan korban yang masih hidup.
"Memang pada saat lihat reruntuhan pesawat, itu serpihan satu dan yang lain bisa mencapai 700 meter jauhnya. Awalnya kami agak pesimis, tapi saat menemukan kondisi korban dalam kondisi utuh, kami sangat berharap," ucap Syafi'i.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang