BMKG Modifikasi Cuaca untuk Percepat Evakuasi Pesawat ATR di Pegunungan Sulsel

operasi modifikasi cuaca, BMKG Modifikasi Cuaca untuk Percepat Evakuasi Pesawat ATR di Pegunungan Sulsel, Mengapa BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca?, Bagaimana mekanisme operasi modifikasi cuaca dilakukan?, Seberapa berat tantangan medan di lokasi evakuasi?, Bagaimana kondisi cuaca saat dan setelah kejadian?

 Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) guna mendukung percepatan evakuasi korban serta bangkai pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, yang mencakup wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan.

Langkah ini diambil di tengah kondisi cuaca yang dinilai masih menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pencarian dan evakuasi.

Upaya modifikasi cuaca tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Sulawesi Selatan agar seluruh sumber daya yang memungkinkan dapat dimaksimalkan demi mempercepat proses evakuasi.

Operasi ini diharapkan mampu mengendalikan curah hujan dan mengurangi tutupan awan serta kabut tebal yang kerap menyelimuti area pegunungan.

Mengapa BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca?

Pelaksana Tugas Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca dilakukan sebagai respons atas tantangan cuaca ekstrem di lokasi pencarian.

“Hal ini menindaklanjuti dari arahan Gubernur Sulsel untuk menyiapkan modifikasi cuaca dalam mempercepat evakuasi korban pesawat tersebut,” kata Nasrol Adil di Makassar, Senin (191/2026) dikutip dari Antara.

Menurut dia, BMKG telah menyiapkan satu unit pesawat khusus yang diberangkatkan dari Semarang, Jawa Tengah, menuju Makassar.

Pesawat ini akan digunakan untuk mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Bagaimana mekanisme operasi modifikasi cuaca dilakukan?

Nasrol menjelaskan, operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan cara menaburkan bahan tertentu di wilayah sasaran pencarian.

Tujuannya adalah mengendalikan curah hujan, termasuk mengurangi pembentukan awan hujan yang dapat menghambat jarak pandang dan mobilitas tim SAR.

Dengan teknik tersebut, potensi terbentuknya awan-awan hujan maupun kabut tebal dapat diminimalkan.

“Dengan teknik tersebut, potensi awan-awan ataupun kabut dapat dieliminasi dengan cara menabur zat kapur di area itu,” ujarnya.

BMKG menilai metode ini dapat membuka peluang cuaca yang lebih kondusif, terutama untuk mendukung operasi evakuasi melalui jalur udara yang sangat bergantung pada jarak pandang dan stabilitas cuaca.

Seberapa berat tantangan medan di lokasi evakuasi?

operasi modifikasi cuaca, BMKG Modifikasi Cuaca untuk Percepat Evakuasi Pesawat ATR di Pegunungan Sulsel, Mengapa BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca?, Bagaimana mekanisme operasi modifikasi cuaca dilakukan?, Seberapa berat tantangan medan di lokasi evakuasi?, Bagaimana kondisi cuaca saat dan setelah kejadian?

Tim SAR gabungan menemukan puing-puing pesawat di kawasan kaki Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Minggu (18/1/2026). Proses pencarian diwarnai kabut tebal dan medan pegunungan yang terjal.

Selain cuaca, medan di kawasan Pegunungan Bulusaraung juga menjadi tantangan tersendiri. Wilayah ini dikenal memiliki kontur yang sangat terjal dengan jurang dan tebing curam.

Kondisi tersebut memaksa tim evakuasi menggunakan teknik khusus dalam menjangkau lokasi korban.

Pada Minggu (18/1/2026), tim evakuasi dilaporkan menggunakan teknik rappeling untuk mengevakuasi korban yang telah ditemukan.

Teknik rappeling merupakan metode turun dari ketinggian, seperti tebing atau jurang, dengan menggunakan tali khusus dan alat pengaman seperti descender yang terhubung ke harness atau alat pelindung diri.

Penggunaan teknik ini menunjukkan tingkat kesulitan evakuasi di lapangan, terutama ketika jalur darat sulit ditembus dan akses udara terbatas akibat cuaca.

Bagaimana kondisi cuaca saat dan setelah kejadian?

Berdasarkan prakiraan cuaca yang dirilis BMKG Wilayah IV Makassar, kondisi cuaca di lokasi kejadian saat pesawat mengalami kecelakaan pada Sabtu (17/1/2026) siang hingga malam hari masih didominasi kabut tebal dan hujan yang turun secara berkala.

Kondisi tersebut berlanjut hingga hari-hari berikutnya dan berdampak langsung pada keterlambatan proses pencarian.

Kabut tebal menurunkan jarak pandang secara signifikan, sementara hujan meningkatkan risiko longsor dan membahayakan keselamatan tim penyelamat yang bekerja di medan pegunungan.

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyatakan optimismenya terhadap pelaksanaan operasi modifikasi cuaca ini.

Ia berharap langkah tersebut dapat mengurangi hambatan yang dihadapi tim SAR gabungan bersama masyarakat setempat.

“Mudah-mudahan dengan modifikasi cuaca itu dapat membuka akses yang lebih luas sehingga proses evakuasi dari udara bisa dilakukan dengan cepat dan menemukan beberapa bukti di lokasi,” ujarnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang