Kisah Evakuasi Pramugari Pesawat ATR 42-500, Terjang Hujan Lebat dan Medan Terjal Bulusaraung

Makassar, Kisah Evakuasi Pramugari Pesawat ATR 42-500, Terjang Hujan Lebat dan Medan Terjal Bulusaraung

Jenazah Florencia Lolita Wibisono, kru pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, akhirnya diterbangkan ke kampung halamannya di Jakarta pada Rabu (21/1/2026) malam.

Pramugari malang tersebut ditemukan meninggal dunia setelah pesawat yang ditumpanginya jatuh di kawasan perbukitan terjal Gunung Bulusaraung.

Jenazah Florencia tiba di Terminal Cargo Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar sekitar pukul 17.15 Wita. Setelah menyelesaikan seluruh prosedur administrasi, jenazah mulai dimasukkan ke dalam pesawat (loading) pada pukul 21.30 Wita.

"Pukul 21.55 Wita, pesawat Batik Air ID-6231 take off menuju Jakarta," demikian laporan jadwal penerbangan.

Lokasi Penemuan dan Medan Berat

Titik koordinat jatuhnya pesawat berada di 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur. Secara geografis, lokasi ini berada sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Makassar atau 26 kilometer arah timur laut dari Bandara Sultan Hasanuddin.

Medan evakuasi tergolong sangat ekstrem.

Tubuh korban ditemukan pada Senin (19/1/2026) dalam kondisi tersangkut di pepohonan di dalam jurang dengan kedalaman 350 hingga 400 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.

Hujan lebat, kabut tebal, serta kemiringan lereng yang curam membuat proses evakuasi memakan waktu hingga dua hari.

Pada hari pertama ditemukan, tim SAR gabungan hanya mampu memasukkan jenazah ke kantong mayat dan menggesernya sejauh 25 meter karena cuaca buruk.

Perjuangan Tim SAR: Gunakan Sistem "4 Banding 1"

Makassar, Kisah Evakuasi Pramugari Pesawat ATR 42-500, Terjang Hujan Lebat dan Medan Terjal Bulusaraung

Tim SAR gabungan melakukan pencarian pesawat ATR 42-500 pada hari kedua di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Minggu (18/1/2026). Pencarian pesawat dari maskapai Indonesia Air Transport yang hilang kontak pada Sabtu (17/1) di wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tersebut dilanjutkan dengan mengerahkan sedikitnya 476 personel gabungan. ANTARA FOTO/Arnas Padda/nym.

Salah satu sosok di balik keberhasilan evakuasi ini adalah Alfian Rauf (40), anggota SAR Rescue PT Vale yang tergabung dalam tim khusus.

Alfian menceritakan betapa sulitnya mengangkat jenazah dari dasar jurang menuju puncak gunung.

"Cuaca sangat tidak bersahabat dengan kami. Begitu ada cerah sedikit tadi, kurang lebih setengah jam terbuka, kami briefing dan kami yakin bisa evakuasi dari bawah ke atas," ujar Alfian saat ditemui di Pos AJU SAR Desa Tompobulu, Selasa (20/1/2026) malam.

Karena medan yang nyaris vertikal, pengangkatan secara manual mustahil dilakukan. Tim SAR menggunakan teknik rope rescue dengan sistem mekanikal.

"Untuk pengangkatan secara manual itu sangat tidak bisa karena medan sangat terjal. Jadi kami pakai sistem 4 banding 1 menggunakan alat khusus seperti rope grab," jelas Alfian yang telah 20 tahun bergelut di dunia SAR.

Rope grab sendiri merupakan perangkat pengaman pada tali cadangan untuk mengantisipasi jika tali utama terputus saat menarik beban berat.

Mengejar Waktu Sebelum Gelap

Proses penarikan jenazah dari lereng ke puncak memakan waktu lebih dari empat jam. Alfian terus memotivasi rekan-rekannya agar tidak menyerah meski diguyur hujan, mengingat risiko tinggi jika hari mulai gelap.

"Saya bilang, kalau memang jam 5 nanti kita tidak sampai di puncak, kita simpan paketnya (jenazah), kita balik besok. Tapi ternyata dengan semangat teman-teman, pukul 17.10 Wita sudah sampai di puncak," kenangnya sambil menggigil kedinginan.

Setelah mencapai puncak, jenazah digotong secara estafet melewati sembilan pos menuju Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci.

Jenazah tiba di Pos DVI pukul 20.10 Wita untuk kemudian diidentifikasi oleh tim Biddokkes Polda Sulsel dan dibawa ke RS Bhayangkara Makassar sebelum akhirnya dipulangkan ke pihak keluarga.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Kisah Alfian Rauf, 4 Jam Tarik Jenazah Pramugari ATR dari Jurang Bulusaraung

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang