Modifikasi Cuaca Dilakukan untuk Memudahkan Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500
Proses evakuasi dan pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan bersama dukungan masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaannya, proses pencarian dan evakuasi terhambat oleh kondisi medan yang terjal dan berisiko tinggi.
Medan menuju Bulusaraung dikenal dengan lereng yang curam dengan kemiringan antara 45 hingga 75 derajat, sehingga tim harus menggunakan peralatan mountaineering untuk mencapai lokasi.
Selain itu, proses evakuasi juga terkendala oleh kondisi cuaca yang kurang mendukung dan sering kali tertutup kabut tebal yang menyulitkan navigasi.
Untuk diketahui, pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan mengalami hilang kontak (lost contact) saat melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1/2026).
Pertimbangkan modifikasi cuaca untuk pencarian korban
Menanggapi kendala pencarian tersebut, Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Sudirman Sulaiman merespons opsi modifikasi cuaca dalam membantu proses pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500.
"Memang ada kendala-kendala cuaca. Kita hari ini Insya Allah bersurat (ke BMKG) untuk melaksanakan modifikasi cuaca. Mudah-mudahan nanti bisa kita diberikan akses-akses lebih luas, terutama evakuasi dari udara," kata Andi di Posko SAR AJU, Pangkep, Senin (19/1/2026).
Dia mengatakan, modifikasi cuaca secepatnya dilaksanakan oleh pihak BMKG agar hujan tidak menghambat evakuasi, khususnya jalur udara.
"Hari ini kami sudah proses (menyurat) dan mudah-mudahan ini bisa dilakukan dengan cepat. Nanti kita koordinasikan dengan BMKG,” ujarnya.
Merespons permintaan itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMKG Wilayah IV Makassar Nasrol Adil menyatakan pihaknya melaksanakan modifikasi cuaca demi mendukung kelancaran evakuasi maupun pencarian korban lainnya.
"Modifikasi cuaca ini supaya teman-teman bisa lihat, ini cuaca yang mungkin agak mengganggu dari operasi udara. Harapannya, di udara nanti bisa dimodifikasi sehingga tim udara bisa lebih maksimal lagi," papar Nasrol.
Untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), BMKG telah menyiapkan pesawat khusus BKSSN dari Semarang, Jawa Tengah, menuju Kota Makassar.
Sistem OCM ini dengan menaburkan bahan tertentu seperti Kalsium Oksida (CaO) di lokasi pencarian guna mengendalikan curah hujan maupun mengurangi pembentukan awan hujan.
"Biasanya kalau untuk darat itu CaO kapur, untuk menghilangkan potensi awan-awan hujan. Jadi akan lebih menguap, karena kapur seperti sistem kapur barus, lebih menguap," paparnya.
Sembari menunggu pelaksanaan modifikasi cuaca, proses evakuasi jalur darat terus bergerak dan dilakukan.
Medan yang sulit dan membutuhkan waktu lama untuk dicapai, tim SAR juga melibatkan masyarakat setempat untuk memberikan petunjuk jalur alternatif yang dapat mempercepat evakuasi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang