Medan Ekstrem Hutan Bulusaraung, Tim SAR Bermalam di Gunung Demi Cari 8 Korban Pesawat ATR 42-500

Operasi pencarian korban dan material pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, terus dikebut.
Memasuki hari kelima, Rabu (21/1/2026), tim SAR gabungan fokus mencari delapan korban lainnya serta komponen vital pesawat.
Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026).
Serpihan pesawat pertama kali ditemukan di koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur, di kawasan pegunungan yang terjal.
Fokus Pencarian Black Box di Ekor Pesawat
Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, menyatakan bahwa selain mengevakuasi korban, tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, dan Basarnas tengah memprioritaskan penemuan black box atau kotak hitam.
"Kita masih berharap tim keenam yang saat ini mencari ekor pesawat itu bisa menemukan hasil. Sasarannya adalah black box," ujar Bangun saat ditemui di Post Mortem Biddokkes Polda Sulsel, Makassar, Selasa (20/1/2026) malam.
Meski demikian, Bangun mengakui bahwa kondisi medan yang terdiri dari hutan lebat dan kontur pegunungan ekstrem menjadi tantangan berat.
Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai ditemukannya perangkat perekam data penerbangan tersebut.
"Sampai hari ini saya belum menerima laporan dari tim terkait penemuan bagian penting pesawat," imbuhnya.
Sebagai informasi, black box yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) merupakan kunci utama untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat tersebut.
Alat ini didesain berwarna oranye terang agar mudah dikenali di tengah puing-puing.
Satu Jenazah Perempuan Mulai Diidentifikasi
Jenazah korban kedua pesawat ATR 42-500 yang tiba di Bidokkes Polda Sulsel, Selasa (19/1/2026)
Di sisi lain, upaya identifikasi korban terus berjalan. Satu kantong jenazah berjenis kelamin perempuan telah tiba di Post Mortem Biddokkes Polda Sulsel pada Selasa malam pukul 22.38 WITA.Korban tersebut diketahui merupakan pramugari pesawat dan merupakan korban kedua yang berhasil ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung.
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, mengonfirmasi bahwa tim DVI (Disaster Victim Identification) telah menerima jenazah tersebut dari Basarnas untuk diproses lebih lanjut di RS Bhayangkara Makassar.
"Secara fisik memang perempuan. Tapi karena korban perempuan ada dua, kami belum bisa memastikan identitasnya," jelas Didik.
Proses identifikasi dilakukan dengan mencocokkan data post mortem dari jenazah dengan data ante mortem yang telah diberikan oleh pihak keluarga. Didik menekankan bahwa pihaknya mengedepankan akurasi daripada kecepatan.
"Kami tidak boleh salah mengembalikan jenazah kepada keluarga korban. Karena jenazah baru masuk, kami mohon semua pihak bersabar," tegas Didik.
Terkait durasi operasi, sesuai prosedur standar (SOP), pencarian akan dilakukan selama tujuh hari. Namun, pihak TNI menegaskan kesiapannya jika operasi harus diperpanjang berdasarkan evaluasi di lapangan.
"Secara prosedural biasanya tujuh hari, tetapi untuk kami di TNI adalah atas perintah. Prinsipnya, kami siap mendukung penuh sampai tugas kemanusiaan ini selesai," pungkas Mayjen TNI Bangun Nawoko.
Saat ini, personel SAR gabungan dilaporkan masih bermalam di lokasi pencarian guna mengefektifkan penyisiran dan memperluas jangkauan di area kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Pencarian 8 Korban dan Black Box Pesawat ATR 42-500 Dikebut di Tengah Medan dan Cuaca Ekstrem
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang