KNKT: Pemeriksaan Black Box Pesawat ATR 42-500 Butuh 5-6 Hari

black box, pesawat ATR 42-500, KNKT, KNKT: Pemeriksaan Black Box Pesawat ATR 42-500 Butuh 5-6 Hari

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan memulai pemeriksaan kotak hitam (black box) pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) lalu.

Pemeriksaan black box ini merupakan bagian dari investigasi untuk mengetahui penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik maskapai penerbangan Indonesia Air Transport itu. 

"Hari ini (black box/kotak hitam) dibawa ke Jakarta, besok kita mulai (investigasi)," ujar Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono usai menerima kotak hitam pesawat ATR 42-500 di Kantor Basarnas Kelas A Makassar, Kamis (22/1/2026), dilansir dari Antara.

Menurut dia, pemeriksaan kotak hitam pesawat ATR 42-500 ini membutuhkan waktu hingga enam hari.

"(Sekitar) lima sampai enam hari, kalau tidak ada masalah. (Biasanya) ada kalau dari fisiknya (rusak). Ini belum tentu. Tapi, Alhamdulillah, mudah-mudahan tidak ada masalah. Fisiknya ini dalam kondisi bagus," tutur Soerjanto Tjahjono.

Ada Dua Perangkat Black Box Pesawat ATR 42-500

Soerjanto memaparkan bahwa black box pesawat terdiri dari dua perangkat utama, yakni Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).

"Lokasi penemuannya memang sangat ekstrem. Sebelumnya kami memperkirakan itu sulit untuk menemukannya. Alhamdulillah, dengan doa dan kerja keras bersama, black box berhasil ditemukan sebelum operasi SAR berakhir," terangnya.

CVR berfungsi merekam percakapan pilot dan suara di dalam kokpit melalui empat channel, meliputi:

  • Channel pertama: merekam komunikasi antara pilot dan petugas pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC).
  • Channel kedua: merekam komunikasi antarpilot
  • Channel ketiga: mencatat komunikasi dari kokpit ke kabin
  • Channel keempat: merekam seluruh suara yang terdengar di dalam kokpit.

Sementara itu, FDR menyimpan sekitar 88 parameter data penerbangan pesawat. Data tersebut meliputi ketinggian terbang, kecepatan pesawat, hingga berbagai parameter teknis lainnya yang merekam kondisi pesawat sebelum kecelakaan terjadi.

"Semua data-data ini akan membantu kami mengetahui secara akurat apa yang terjadi pada pesawat sebelum kecelakaan itu terjadi," tandasnya.

Hasil Investigasi Sebagai Pembelajaran

Soerjanto menegaskan bahwa investigasi yang dilakukan KNKT bertujuan memperoleh lesson learned atau pembelajaran keselamatan, sehingga kecelakaan serupa tidak terulang di masa mendatang.

"Hasil investigasi KNKT nantinya berupa laporan lengkap dan rekomendasi keselamatan. Bila dalam prosesnya kami memandang perlu adanya rekomendasi segera maka KNKT mengeluarkan rekomendasi tersebut tanpa menunggu laporan akhir," tukasnya.

Dengan ditemukannya kedua black box pesawat ATR 42-500, KNKT optimistis penyebab kecelakaan dapat diungkap secara objektif dan berbasis data, bukan sekadar perkiraan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang