Pencarian Korban Pesawat ATR di Pangkep Pakai Metode “Obat Nyamuk”, Apa Itu?
Proses pencarian korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus dilanjutkan dengan strategi khusus oleh tim SAR gabungan.
Pesawat pertama kali dilaporkan hilang lalu diduga jatuh di Pangkep pada Sabtu (17/1/2026) siang.
Pesawat rute Yogyakarta-Makassar tersebut diduga kuat jatuh di Gunung Bulusaraung setelah beberapa pendaki menemukan sejumlah serpihan.
Memasuki hari keempat operasi, jumlah personel dan tim pencarian ditambah untuk mempercepat proses evakuasi di medan pegunungan yang curam dan tertutup hutan lebat.
Sebanyak lebih dari 500 personel SAR gabungan dikerahkan yang terdiri dari tujuh tim pencarian, termasuk satu tim khusus yang difokuskan menyisir bagian ekor pesawat.
Setiap tim didampingi warga lokal, termasuk pencari madu yang dinilai memahami karakter medan Gunung Bulusaraung.
Metode “Obat Nyamuk” Jadi Pola Penyisiran
Sebelum diberangkatkan ke lokasi, seluruh tim mengikuti briefing di halaman masjid depan Kantor Desa Tompobulu yang menjadi posko utama pencarian, Selasa (20/1/2026).
Briefing dipimpin Danrem 141/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan bersama jajaran TNI, Polri, dan Basarnas.
Cuaca buruk menjadi tantangan utama, bahkan hujan deras dan angin kencang masih terjadi saat pengarahan berlangsung.
Dalam operasi ini, tim SAR menggunakan pola penyisiran yang disebut metode obat nyamuk.
“Polanya obat nyamuk, yang di dalam memutar ke luar dan yang di luar memutar ke dalam,” jelas Kolonel Inf Abi Kusnianto dikutip dari TribunTimur, Selasa (20/1/2026).
Saat briefing, ia menekankan pentingnya pelaporan rutin dari setiap tim lapangan.
“Pokoknya masing-masing dantim wajib laporan setiap jam-jam ganjil,” katanya.
Selain itu, setiap temuan diwajibkan dilaporkan terlebih dahulu ke posko utama dan dilarang disebarkan ke media sosial.
“Laporkan pertama ke posko, jangan langsung share masing-masing. Dantim bertanggung jawab,” tegas Brigjen Andre Clift Rumbayan.
“Kalau menemukan serpihan pesawat, jenazah korban, ataupun korban yang masih hidup, kirim videonya langsung ke posko, tidak ke mana-mana,” tambahnya.
Dua Korban Ditemukan, Evakuasi Udara Diperkuat
Hingga Selasa (20/1/2026), tim SAR gabungan telah menemukan dua jenazah korban pesawat ATR 42-500.
Korban pertama ditemukan pada Minggu (18/1/2026) pukul 14.20 WITA oleh Tim Rescue 3 di koordinat 04°54'44"S dan 119°44'48"E.
Sementara korban kedua, seorang perempuan, ditemukan pada Senin (19/1/2026) sekitar pukul 14.00 Wita setelah laporan dari tim pencarian di lapangan.
Untuk mempercepat evakuasi korban lainnya, TNI AU turut mengerahkan helikopter Caracal dan pesawat Boeing.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana mengatakan, langkah tersebut diambil untuk mendukung proses pencarian dan evakuasi.
Helikopter Caracal ditugaskan mengangkut personel Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) bersama Basarnas ke titik terdekat lokasi jatuhnya pesawat sebelum melanjutkan perjalanan darat ke area pencarian.
“Tim disiapkan untuk mempercepat proses evakuasi korban sekaligus mendorong distribusi logistik bagi tim SAR gabungan,” kata I Nyoman dikutip dari Antara, Selasa (20/1/2026).
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang