Emas dan Perak Kompak Perpanjang Reli, Konflik Iran-AS Dongkrak Permintaan Safe Haven

Logam mulia emas dan perak.
Logam mulia emas dan perak.

Harga emas dan perak kompak melanjutkan reli dan mencetak rekor tertinggi pada sesi perdagangan Rabu, 14 Januari 2026. Lonjakan harga kedua logam mulai ini dipicu sejumlah sentimen global.

Harga emas spot melonjak 1,1 persen ke level US$4.635,39 atau Rp 78,2 juta (estimasi kurs Rp 16.880 per dolar AS) per ons. Lonjakan ini setelah emas menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah (all high time).

Seiring reli emas, harga perak melonjak lebih agresif. Harga perak spot meroket 6,4 persen ke level US$92,53 per ons, sekaligus mencetak rekor tertinggi baru.

"Semua jalan mengarah ke emas dan perak,” ujar COO Allegiance Gold, Alex Ebkarian, dikutip dari CNBC Internasional pada Kamis, 15 Januari 2026. 

Ilustrasi emas batangan dan uang kertas dolar AS dalam brankas.

Ia melihat lonjakan permintaan emas datang dari beragam pembeli. Kondisi ini menegaskan pasar ini berada dalam fase bullish struktural.

Ebkarian menambahkan, harga logam mulia cenderung volatil. Namun, ia memprediksi emas dan perak akan mempertahankan tren kenaikan setidaknya hingga kuartal I-2026. 

“Kami memperkirakan akan ada volatilitas, tetapi saya melihat perak di US$100 tidak berbeda dengan di US$90. Proyeksi jangka pendek kami berada di kisaran US$100 hingga US$144,” ujar Ebkarian. 

Kinclongnya harga emas dan perak seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang mendorong investor memburu aset safe haven. Faktor pendorong juga didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Meskipun tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung menguat di tengah suku bunga rendah dan meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi ini kembali terlihat seiring memanasnya tensi geopolitik dan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Dari sisi geopolitik, Iran memperingatkan negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah pasukan Amerika Serikat (AS) bahwa pihaknya akan menyerang pangkalan militer AS jika Washington ikut campur.  Di saat bersamaan, para menteri Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu Wakil Presiden AS, JD Vance, setelah Presiden Donald Trump kembali menegaskan tuntutan penguasaan AS atas Tanah Hijau ini.

Sentimen pasar juga dipengaruhi data ekonomi AS, dimana penjualan ritel tercatat naik di atas ekspektasi pada November 2025. Indeks harga produsen (PPI) sesuai perkiraan bulanan namun melampaui estimasi tahunan sedangkan inflasi bulan Desember 2025 lebih rendah dari perkiraan. 

Investor juga mengantisipasi dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap independensi The Fed kembali mencuat. 

Para kepala bank sentral dunia menyatakan dukungan kepada Ketua The Fed, Jerome Powell, setelah pemerintahan Trump melontarkan ancaman dakwaan pidana terhadapnya. Lonjakan serempak emas dan perak menegaskan kembali minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.