Saham Toyota Industries Tembus Rekor Tertinggi Usai Buyout Dinaikkan, Investor Cium Peluang Cuan

Toyota Industries
Toyota Industries

Saham produsen forklift asal Jepang, Toyota Industries, melesat ke rekor tertinggi sepanjang masa (all high time/ATH) pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. Saham Toyota Industries melonjak hampir 6 persen ke level 19.080 Yen. 

Harga tersebut melampaui harga penawaran yang direvisi oleh perseroan. Peningkatan harga saham Toyota Industries menandakan investor kemungkinan mengharapkan kesepakatan yang lebih baik lagi.

Penguatan harga saham terjadi sehari setelah Toyota Motor menaikkan harga penawaran tender untuk mengambilalih lebih dari 15 persen dengan nilai transaksi lebih dari US$35 miliar atau Rp 590,7 triliun (estimasi kurs Rp 16.880 per dolar AS). 

Harga beli (buyout) bahkan melampaui penawaran terbaru Toyota Motor, mengindikasikan investor memperkirakan potensi kesepakatan dengan valuasi yang lebih tinggi.

Di saat yang sama saham produsen otomotif terbesar dunia ini, Toyota Motor, ikut membukukan lompatan signifikan lebih dari 2 persen.

Ilustrasi Investasi

Toyota Motor menaikkan harga penawaran akuisisi Toyota Industries menjadi 18.800 Yen atau setara US$118,11 per saham, dari sebelumnya 16.300 yen per saham yang diumumkan pada Juni 2024. Langkah ini menandai percepatan rencana Toyota Motor untuk membawa perusahaan grup tersebut menjadi entitas tertutup (go private).

Pada tahun 2025, Toyota Motor mengajukan rencana untuk mengakuisisi grup korporasi terbesar di Jepang tersebut dengan nilai mencapai 4,7 triliun yen. Kesepakatan itu mencakup kontribusi pribadi sebesar 1 miliar yen dari Chairman Akio Toyoda, serta investasi Toyota Motor sekitar 700 miliar yen dalam bentuk saham preferen tanpa hak suara.

Namun pada Desember 2025, Toyota Industries mengungkapkan telah meminta harga yang lebih tinggi. Permintaan itu dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa peluang keberhasilan transaksi masih terbatas dengan penawaran sebelumnya.

“Walaupun penawaran yang direvisi ini merupakan yang tertinggi sepanjang masa, nilainya masih bisa diperdebatkan terlalu rendah,” ujar analis riset ekuitas global SmartKarma, Arun George, dikutip dari CNBC Internasional pada Kamis, 15 Januari 2026.

Ia menambahkan, harga penawaran tersebut berada di bawah rata-rata rentang valuasi yang ditetapkan penasihat independen. Kondisi ini menunjukkan Toyota Industries masih berpotensi dinilai lebih rendah dari nilai wajarnya.

Sebagaiamana diketahui, Toyota Industries merupakan perusahaan yang mendirikan Toyota Motor dan memproduksi beragam produk. Mulai dari forklift, mesin, komponen elektronik, hingga cetakan logam (stamping dies).

Sementara itu, Toyota Motor melaporkan kinerja produksi dan penjualan global yang melemah. Produksi global perusahaan turun 5,5 persen secara tahunan menjadi 821.723 unit pada November 2025 yang menandai penurunan tahunan pertama dalam enam bulan terakhir. 

Penjualan global terkoreksi 2,2 persen. Penurunan seiring turunnya penjualan di Tiongkok setelah negara tersebut mengurangi subsidi pembelian kendaraan di sejumlah wilayah.

Manajemen Toyota Motor memperkirakan dampak signifikan dari kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) memberikan tekanan sebesar 1,45 triliun yen atau lebih dari US$9 miliar pada tahun buku yang berakhir Maret 2026. Meski demikian, Toyota Motor tetap melanjutkan ekspansi di negara Paman Sam itu. 

Pada November 2025, perusahaan mengumumkan investasi sebesar US$912 juta di fasilitas manufaktur AS yang tersebar di lima negara bagian selatan. Langkah ini sebagai bagian dari rencana investasi hingga US$10 miliar di AS hingga tahun 2030.