Prospek Perak 2026, Masih Layak Dibeli atau Lebih Baik Pilih Emas?

Ilustrasi Perak
Ilustrasi Perak

 Memasuki tahun 2026, perhatian investor global kembali tertuju pada aset lindung nilai seperti emas dan perak. Setelah mencatatkan reli historis sepanjang 2025, pergerakan harga logam mulia kini dinilai berada di fase yang lebih menantang. 

Volatilitas tinggi, valuasi yang semakin mahal, serta ketidakpastian geopolitik membuat investor perlu lebih selektif dalam mengatur strategi portofolio.

Perak menjadi sorotan khusus karena lonjakan harganya dalam satu tahun terakhir terbilang agresif. Namun, di balik performa tersebut, muncul pertanyaan penting, apakah reli perak masih berlanjut, atau justru saatnya mulai mengalihkan fokus ke emas? 

Mirae Asset Mutual Fund (MF) dalam outlook 2026 memberikan pandangan hati-hati terkait prospek kedua logam mulia ini. Berikut informasi lengkapnya sebagaimana dirangkum dari Business Today, Senin, 5 Januari 2026.

Valuasi Perak Dinilai Mulai Mahal

Mirae Asset MF menilai perak kini relatif "mahal" dibandingkan emas. Dalam catatan outlook 2026, rasio emas terhadap perak (gold–silver ratio) tercatat berada di level 59,42, jauh di bawah rata-rata jangka panjang 67,90 sejak Maret 1998. Kondisi ini menunjukkan bahwa valuasi perak sudah cukup teregang.

Sebelumnya, rasio emas-perak sempat melonjak hingga 120 pada 2020 dan masih bertahan di atas 100 pada paruh pertama 2025, yang menegaskan betapa ekstremnya pergerakan harga perak dalam beberapa tahun terakhir.

Diperkirakan, setelah reli bersejarah tersebut, imbal hasil perak ke depan akan cenderung melambat dan disertai risiko koreksi yang lebih tinggi dibandingkan emas. “Kami memperkirakan perak memiliki risiko penurunan yang lebih tinggi dibandingkan emas, karena emas dapat menemukan dukungan dari bank sentral pada level yang lebih rendah. Saat ini, di dalam komoditas, alokasi yang seimbang antara logam mulia tetap tepat, dengan penekanan yang sama antara emas dan perak pada tahap ini,” ungkap Mirae Asset MF. 

Strategi Investasi: Bertahap Beralih ke Emas

Ilustrasi Emas.

Untuk mengelola risiko, investor disarankan mulai mempertimbangkan pergeseran bertahap ke emas apabila reli perak menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Langkah ini juga dapat disertai dengan realisasi keuntungan setelah lonjakan harga yang signifikan.

“Peralihan bertahap ke emas mungkin perlu dipertimbangkan jika reli perak menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Ini untuk mengelola risiko, bersama dengan niat untuk merealisasikan keuntungan setelah reli bersejarah.”

Selain itu, investor baru diimbau agar lebih berhati-hati. “Setiap investasi baru saat ini harus siap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi, sebaiknya dilakukan untuk jangka waktu yang lebih panjang dan berupaya menghindari alokasi yang berlebihan.”

Outlook Emas 2026 Masih Didukung Faktor Global

Sementara itu, prospek emas dinilai masih cukup solid memasuki 2026. Hal ini karena emas memasuki tahun ini dengan latar belakang ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan, inflasi Amerika Serikat yang masih lengket, siklus penurunan suku bunga, serta pelemahan dolar AS, kondisi yang serupa dengan tahun 2025.

Meskipun kenaikan harga terbaru meningkatkan risiko jangka pendek, tetapi faktor makroekonomi dan geopolitik justru masih mendukung emas. Pembelian oleh bank sentral, sengketa perdagangan yang belum terselesaikan, serta ketegangan geopolitik diperkirakan akan terus memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe haven. Bahkan dalam skenario pesimistis, permintaan investasi tetap menjadi penopang utama harga emas.

Outlook Perak 2026

Untuk perak, reli sepanjang 2025 didorong oleh kombinasi defisit pasokan struktural, permintaan industri yang kuat, serta keterbatasan ketersediaan fisik. Persediaan terdaftar di COMEX dilaporkan turun hampir 70 persen dibandingkan level 2020.

Tekanan pasokan semakin meningkat setelah China mengumumkan aturan perizinan ekspor yang lebih ketat mulai Januari 2026, memicu kekhawatiran terhadap stres pengiriman global. Reli harga juga diperkuat oleh posisi spekulatif dan arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) setelah perak menembus level harga kunci.

Ke depan, harga emas dan perak diperkirakan sama-sama berada di level tinggi, sehingga potensi volatilitas dan risiko penurunan jangka pendek meningkat. Namun, kuatnya permintaan industri dan ketatnya persediaan dinilai masih memberikan dukungan jangka panjang, sehingga koreksi harga kemungkinan terjadi dalam tren besar yang tetap positif.