Harga Emas dan Perak Naik Turun, Analis Beberkan Alasannya
Pergerakan harga emas dan perak global dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas ekstrem yang membuat pelaku pasar waspada. Setelah mencetak reli panjang hingga rekor tertinggi, dua logam mulia ini justru mengalami koreksi tajam sebelum kembali pulih sebagian.
Situasi ini memunculkan pertanyaan, apakah gejolak hanya sementara, atau ada perubahan fundamental dalam sentimen pasar?
Selama setahun terakhir, emas dan perak menjadi primadona aset lindung nilai atau safe haven. Ketidakpastian ekonomi global, tensi geopolitik, serta arah kebijakan Amerika Serikat menjadi pendorong utama.
Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih dikenal luas sebagai faktor yang meningkatkan volatilitas, mulai dari kebijakan tarif, tekanan terhadap independensi bank sentral AS, hingga manuver geopolitik yang tak terduga.
Secara historis, logam mulia diburu saat kondisi ekonomi tidak menentu. Pelemahan dolar AS juga ikut mendorong investor mencari aset yang dinilai lebih tahan nilai.
Sejak pelantikan Trump tahun lalu hingga akhir Januari 2026, harga emas hampir naik dua kali lipat, sementara perak melonjak hampir empat kali lipat. Sebagian analis melihat lonjakan ini sebagai cerminan krisis kepercayaan yang lebih dalam terhadap sistem ekonomi global, setelah periode inflasi tinggi dan utang negara yang membengkak.
Utang nasional AS sendiri kini mencapai US$38 triliun atau setara Rp634.600 triliun, tertinggi di dunia secara nominal. “Di dunia di mana hampir setiap aktivitas keuangan mengandung risiko kreditc baik dari negara, bank sentral, maupun perantara, emas tetap menjadi satu-satunya aset tanpa lawan," kata Diego Franzin, kepala strategi portofolio di Plenisfer Investments, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Rabu, 4 Februari 2026.
"Emas tidak menjanjikan apa pun, tidak membayar bunga, dan tidak bergantung pada keputusan politik. Ia hanya ada. Dan justru itulah yang memberinya keamanan,” sambungnya.
“Dalam sistem yang didasarkan pada tingkat utang publik dan swasta yang memecahkan rekor, karakteristik ini memperoleh nilai yang belum pernah terjadi sebelumnya,” papar Franzin.
Permintaan juga terdorong pembelian bank sentral negara berkembang seperti China dan Turki yang berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar. Pada Kamis silam, emas menyentuh rekor hampir US$5.595 per ounce atau setara Rp93.436.500, sementara perak mencapai hampir US$122 atau setara Rp2.037.400.
Namun reli itu terhenti mendadak. Pada Jumat lalu, harga emas anjlok sekitar 10 persen dan perak 28 persen. Penurunan berlanjut Senin sebelum keduanya rebound terbatas pada Selasa.
Penyebab koreksi masih diperdebatkan. Sebagian menilai keputusan Trump mencalonkan Kevin Warsh memimpin Federal Reserve memberi sinyal kebijakan yang lebih konvensional, meredakan kekhawatiran pasar. Harapan kesepakatan dengan Iran juga dinilai menurunkan tensi geopolitik.
Namun Mark Matthews, kepala riset Asia di Bank Julius Baer, berpendapat lain. “Penjelasan yang lebih mungkin adalah bahwa harga logam mulia runtuh semata-mata karena sebelumnya sudah naik secara parabolik pada pekan sebelumnya. Begitu aksi ambil untung dimulai, itu langsung bergulir seperti bola salju,” jelasnya.
Ke depan, prospek jangka menengah hingga panjang masih dinilai positif. Analis JP Morgan memperkirakan emas bisa mencapai US$6.300 per ounce atau setara Rp105.210.000 pada akhir 2026.
“Emas tetap menjadi lindung nilai portofolio yang dinamis dan multifaset dan permintaan investor terus datang lebih kuat dari perkiraan kami sebelumnya,” tulis JP Morgan.
“Dua pendorong fundamentalnya tetap tidak berubah, yakni dolar AS kemungkinan terus terdepresiasi, dan bank sentral akan meningkatkan kepemilikan emas mereka,” kata Matthews.
“Kenaikan harga mungkin tidak akan seterjal sebelumnya, tetapi itu justru hal yang baik,” pungkasnya.