Harga Emas Global Pecah Rekor Tertinggi, IHSG Ikut Disorot Investor Global

Harga Emas, Logam Mulia
Harga Emas, Logam Mulia

 Lonjakan harga emas kembali menjadi sorotan pelaku pasar global. Logam mulia tersebut mencetak rekor baru setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan menahan suku bunga acuannya. 

Di saat yang sama, pergerakan pasar saham Asia menunjukkan arah yang beragam, dengan Indonesia ikut menjadi perhatian investor asing.

Melansir dari CNBC, Kamis, 29 Januari 2026, harga emas spot melonjak lebih dari 3 persen dan untuk pertama kalinya menembus level US$5.500 per ons, atau setara sekitar Rp91,8 juta per ons (asumsi kurs Rp16.700). Kenaikan tajam ini terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran target 3,5 hingga 3,75 persen. 

Keputusan tersebut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global. Di kawasan Asia-Pasifik saja, mayoritas bursa bergerak melemah. Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,69 persen. 

Di Jepang, Nikkei 225 yang sempat menguat justru berbalik turun 0,14 persen, sementara Topix melemah 0,33 persen. Korea Selatan mencatat pergerakan campuran, dengan Kospi stagnan dan Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil melonjak 1,87 persen.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng naik tipis 0,23 persen di tengah perdagangan fluktuatif, sedangkan indeks CSI 300 China daratan turun 0,31 persen. 

Di lain sisi, investor global juga memantau perkembangan di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 8 persen pada Rabu setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan potensi penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier. 

Perdagangan bahkan sempat dihentikan setelah indeks acuan jatuh 8 persen pada Kamis, menurut pernyataan resmi bursa. Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah tipis ke level 16.778 per dolar AS.

Goldman Sachs menurunkan rekomendasi Indonesia menjadi underweight dengan alasan potensi tekanan jual pasif lanjutan. Dalam catatannya, bank investasi tersebut menyebut perkembangan ini sebagai “beban yang akan menghambat kinerja pasar.”

Kemudian, Singapura mempertahankan kebijakan moneternya, namun tetap memperingatkan adanya risiko kenaikan inflasi dan permintaan, seiring prospek ekonomi yang dinilai tetap tangguh. Indeks Straits Times naik tipis 0,19 persen.

Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 sempat menyentuh tonggak sejarah 7.000 untuk pertama kalinya sebelum terkoreksi. Indeks tersebut akhirnya ditutup turun tipis 0,01 persen di 6.978,03. Dow Jones naik 0,02 persen  ke 49.015,60, sementara Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan kenaikan 0,17 persen ke 23.857,45.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut naik setelah keputusan The Fed. Dalam pernyataannya, bank sentral menyebut aktivitas ekonomi telah berkembang pada laju yang solid dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi. 

Kombinasi suku bunga yang ditahan, ekonomi AS yang masih kuat, serta ketidakpastian global inilah yang membuat emas semakin dilirik sebagai aset aman.