Mengenal Ptosis, Kondisi Mata Gibran di Materi Mens Rea Pandji Pragiwaksono yang Dikritik Tompi
Materi stand-up comedy Mens Rea Pandji Pragiwaksono terkait kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat kritikan dari penyanyi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi.
Sebagai informasi, dalam pertunjukan stand-up comedy Mens Rea yang dirilis di Netflix, Pandji melontarkan materi tentang alasan pemilih dalam menentukan pemimpin berdasarkan fisik.
Salah satu bit dalam materi tersebut adalah mengenai mata Wapres Gibran yang terlihat sayu dan ngantuk.
"Ada yang milih pemimpin berdasarkan tampang, banyak. Ganjar, ganteng ya. Anies, manis ya. Prabowo, gemoy ya. Atau Wakil Presidennya, Gibran, ngantuk ya. Salah nada salah nada, maaf, Gibran ngantuk ya? Nah gitu nadanya. Gibran ngantuk ya? Kayak orang ngantuk ya dia," ucap Pandji dalam materi komedinya tersebut.
Tompi kemudian menanggapi hal itu melalui akun instagram pribadinya, @dr_tompi, dan menyebut bahwa menertawakan kondisi fisik Gibran bukanlah bentuk kritik yang cerdas.
"Apa yang terlihat 'mengantuk' pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON," tulis Tompi di Instagramnya, Senin (4/1/2026).
Apa itu ptosis?
Ptosis adalah kondisi di mana kelopak mata atas terkulai, bisa sedikit atau sangat terkulai hingga menutupi pupil.
Hal ini biasanya terjadi karena otot levator Anda—otot yang mengangkat kelopak mata—tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Menurut American Academy of Ophthalmology, anak-anak dan orang dewasa dapat mengalami ptosis. Dan beruntung, kondisi ini dapat diobati untuk memperbaiki penglihatan.
Anak-anak yang lahir dengan kondisi ptosis disebut ptosis kongenital. Hal ini dapat disebabkan oleh masalah pada otot yang mengangkat kelopak mata (disebut otot levator).
Tanda ptosis yang paling jelas adalah kelopak mata yang kendur atau ketika lipatan kelopak mata atas tidak sejajar satu sama lain.
Anak dengan ptosis mungkin menengadahkan kepala, mengangkat dagu, atau mengangkat alis untuk mencoba melihat lebih baik.
Sementara itu, kondisi ptosis pada orang dewasa disebut ptosis involusional (ptosis yang didapat), terjadi ketika otot levator meregang atau terpisah dari kelopak mata.
Kondisi ini dapat disebabkan oleh penuaan, cedera mata, atau terkadang terjadi sebagai efek samping setelah operasi mata tertentu.
Bisakah ptosis diobati?
Dilansir dari laman Cleveland Clinic, kondisi ptosis dapat diobati dan bergantung pada seberapa baik fungsi otot kelopak mata penderitanya.
Jika kondisi tersebut tidak memengaruhi penglihatan dan penampilannya, mereka mungkin tidak memerlukan perawatan sama sekali.
Namun, jika ptosis sudah menyebabkan masalah pada penglihatan, penampilan, atau keduanya, penderita bisa memilih perawatan tertentu.
Jenis perawatan tergantung pada apakah ptosis disebabkan oleh penyakit atau penuaan. Perawatan ptosis yang disebabkan oleh penuaan biasanya melibatkan pembedahan.
Operasi ptosis dilakukan untuk memperbaiki kelopak mata yang kendur. Ini dilakukan di bawah anestesi lokal dengan sedasi (Anda tetap sadar tetapi tidak merasakannya).
Dokter spesialis mata akan mempertimbangkan sejumlah faktor untuk mengobati ptosis pada anak-anak, termasuk usia, jumlah kelopak mata yang terlibat, tinggi kelopak mata, kekuatan otot levator, dan gerakan mata.
Untuk penderita dewasa, tersedia obat tetes mata yang menargetkan pada otot yang mengangkat kelopak mata.
Terkadang, untuk operasi, ahli bedah mungkin hanya perlu melakukan penyesuaian kecil pada otot pengangkat kelopak mata.
Bagi kondisi ptosis yang lebih parah, otot levator mungkin perlu dipersingkat dan disambungkan kembali ke kelopak mata.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang