Mens Rea Pandji Bongkar Standar Hidup Kelas Menengah yang Semakin Sulit Digapai

Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono

 Belakangan ini, materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan spesial bertajuk Mens Rea ramai diperbincangkan netizen. Salah satu topik yang menyentil yakni soal kondisi kelas menengah yang selama ini dianggap aman secara ekonomi, padahal justru paling tertekan.

Dalam Mens Rea, Pandji menggambarkan kelas menengah sebagai kelompok yang terjebak dalam sistem yang serba tanggung. Tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, tetapi tidak cukup kaya untuk memiliki rasa aman finansial. 

Salah satu contoh paling kuat adalah persoalan kepemilikan rumah yang, menurut Pandji, justru menjadi masalah eksklusif kelas menengah. “Memiliki rumah adalah masalah eksklusif kelas menengah. Orang kaya nggak punya masalah ini, DPR nggak punya masalah ini, orang miskin juga nggak punya masalah ini karena ada program perumahan rakyat,” kata Pandji dalam Mens Rea. 

”Yang enggak bisa punya rumah itu kelas menengah,” sambungnya.

Ia juga menyentil fenomena harga rumah yang tinggi seiring berjalannya waktu. Seperti slogan iklan perumahan yang sering kita dengar: "Hari Senin harga naik."

“Rumah itu kebutuhan primer. Pantesan aja kita enggak bisa punya rumah, orang Senin harganya naik mulu,” seloroh Pandji. "Dibilang Senin harga naik, investor happy. Dia punya rumah bukan untuk ditinggali, kita mau ninggali jadi nggak bisa,” kata dia.

Kegelisahan ini sejatinya tidak berdiri sendiri. Di berbagai negara, kelas menengah juga menghadapi tekanan yang sama. Untuk memahami mengapa keresahan seperti yang disampaikan Pandji terasa sangat relevan, penting untuk melihat apa sebenarnya standar atau ciri-ciri kelas menengah yang selama ini dijadikan tolok ukur.

Apa saja? Berikut informasi selengkapnya, sebagaimana dilansir dari Investopedia, Selasa, 13 Januari 2026.

Ciri-Ciri dan Standar Kelas Menengah

Ilustrasi warga kelas menengah.

1. Memiliki rumah sendiri

Kepemilikan rumah selama ini menjadi simbol utama kelas menengah. Di banyak negara, termasuk Amerika Serikat, berpindah dari menyewa ke memiliki rumah dianggap sebagai tanda stabilitas dan keberhasilan. 

Namun, kemampuan mencapai standar ini sangat bergantung pada lokasi dan harga properti. Inilah standar yang menurut Pandji justru paling sulit dicapai kelas menengah saat ini.

2. Memiliki kendaraan pribadi

Mobil sering dipandang sebagai sarana mobilitas dan simbol kemandirian kelas menengah. Kepemilikan kendaraan memungkinkan fleksibilitas dan efisiensi, terutama di wilayah dengan transportasi publik terbatas. Namun, biaya kendaraan yang terus meningkat membuat standar ini juga makin berat.

3. Mampu membiayai pendidikan tinggi anak

Bagi keluarga kelas menengah, membantu anak memperoleh pendidikan tinggi merupakan tujuan utama. Di Amerika Serikat, biaya kuliah bisa mencapai puluhan ribu hingga ratusan ribu dolar. 

Pendidikan anak menjadi salah satu indikator apakah sebuah keluarga benar-benar berada di kelas menengah atau tidak.

4. Memiliki jaminan dan tabungan pensiun

Keamanan masa tua menjadi salah satu standar penting kelas menengah. Memiliki tabungan pensiun menunjukkan stabilitas jangka panjang. Namun, berkurangnya pensiun berbasis manfaat dan meningkatnya biaya hidup membuat banyak keluarga kelas menengah kesulitan memenuhi standar ini.

5. Memiliki akses layanan kesehatan

Kemampuan mendapatkan layanan kesehatan bagi diri sendiri dan keluarga merupakan tolok ukur penting. Biaya kesehatan yang tinggi menjadikan asuransi dan akses medis sebagai kebutuhan mendasar, bukan lagi kemewahan.

6. Memiliki dana untuk liburan keluarga

Liburan keluarga sering dianggap sebagai simbol pendapatan disposable. Mampu mengambil waktu libur dan membiayai rekreasi menunjukkan bahwa kebutuhan dasar telah terpenuhi dan ada ruang untuk kualitas hidup.

Berbagai survei menunjukkan bahwa banyak orang masih mengidentifikasi diri sebagai kelas menengah meski standar-standar tersebut makin sulit dipenuhi. Di Amerika Serikat, studi Northwestern Mutual Planning and Progress pada 2018 mencatat 68 persen warga menganggap diri mereka kelas menengah. 

Mayoritas percaya pendapatan tahunan di bawah US$100.000 atau sekitar Rp1,67 miliar masih termasuk kelas menengah. Survei Gallup pada 2024 menunjukkan angka ini turun menjadi 54 persen.

Penurunan ini sejalan dengan temuan Pew Research Center yang mencatat bahwa sejak 1970, pertumbuhan pendapatan kelas menengah tertinggal jauh dari kelas atas. Pangsa pendapatan rumah tangga yang dipegang kelas menengah turun dari 62 persen menjadi 43 persen.

Jika dikaitkan dengan Mens Rea, jelas bahwa keresahan Pandji bukan sekadar perasaan personal. Standar hidup kelas menengah yang selama ini dijadikan tolok ukur kian menjauh dari jangkauan.