Tiga Pekan Pascabanjir Tapteng, Anak-anak Penyintas Banjir Terserang Gatal-gatal hingga ISPA

Tiga pekan pascabanjir dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, dampak bencana masih dirasakan para penyintas, terutama anak-anak.
Sejumlah orangtua mengeluhkan anak mereka terserang penyakit gatal-gatal, batuk pilek (bapil), demam, hingga diare.
Keluhan tersebut dialami anak-anak penyintas banjir, baik yang masih tinggal di lokasi pengungsian maupun yang telah kembali ke permukiman warga.
Minimnya air bersih, kondisi lingkungan berlumpur, serta keterbatasan makanan bergizi diduga memperparah kondisi kesehatan anak-anak.
Anak Penyintas Banjir Alami Gatal-gatal dan Bapil
Salah satu penyintas banjir, Kiara Ritonga (1,5), mengalami gatal-gatal hampir di seluruh bagian kakinya. Benjolan kecil berisi air tampak memenuhi kulitnya, disertai batuk dan pilek.
Ibunya, Iin Sihombing (29), mengaku khawatir karena kondisi anaknya tak kunjung membaik meski sudah sempat berobat.
“Inilah gatal-gatal sama bapil. Tapi sudah parah kali gatal-gatal di kaki anakku ini. Jadi nangis terus, rewel. Inilah mau dibawa berobat. Kemarin sudah berobat tapi enggak mempan juga,” ujar Iin, warga Jalan Simpang Fransiskus, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Iin mengatakan, gatal-gatal tersebut baru dialami anaknya dalam tiga hari terakhir. Rumah mereka sempat terendam banjir sehingga kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kayaknya alergi air. Karena sulit dapat air bersih. Rumah kami banjir, walaupun tidak terlalu parah. Kami juga sempat mengungsi sehari di gereja,” katanya.
Keluhan serupa juga dialami Syarifah, warga Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan. Anak Syarifah yang berusia 4 tahun sudah seminggu terakhir mengalami gatal-gatal.
“Sudah seminggu ini gatal-gatal. Kami masih mengungsi di Masjid Al-Musannif Syariful Hasanah sampai hari ini,” ujarnya.
Menurut Syarifah, keterbatasan makanan selama mengungsi turut memengaruhi kondisi kesehatan anaknya.
“Selama tiga minggu ini cuma makan mi dan telur. Anak saya alergi mi dan telur, tapi cuma itu makanan yang ada,” katanya.
Ia berencana membawa anaknya berobat ke posko kesehatan di GOR Pandan yang menyediakan layanan pengobatan gratis.
Minim Air Bersih dan Nyamuk Perparah Kondisi Kesehatan
Tumpukan kayu dan lumpur terlihat masih menutup jalan di Lingkungan I, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (16/12/2025).
Kondisi serupa juga dialami anak-anak penyintas banjir di Posko Pengungsian Simpang, Kelurahan Sipange-Hutanabolon. Hampir seluruh anak di posko tersebut mengalami bapil dan gatal-gatal.Melur, salah satu pengungsi, mengatakan ketiga anaknya mengalami gatal-gatal akibat banyaknya nyamuk dan kualitas air yang buruk.
“Semua gatal-gatal ketiga anakku. Nyamuk kalau malam banyak. Air mandi itu air gunung tapi berminyak dan bau,” ucapnya.
Meski telah mendapatkan salep dari layanan kesehatan gratis di posko, Melur mengaku kondisi tersebut sulit dihindari karena air yang digunakan sehari-hari masih sama.
“Namanya masih pakai air itu untuk mandi. Mudah-mudahan tidak parah. Kalau bapil, si kecil masih bapil sampai sekarang,” katanya.
Ia berharap anak-anak penyintas banjir mendapatkan perhatian lebih, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar.
“Kalau kami ya sudah. Tapi mohonlah bantuan untuk anak-anak, supaya dapat makanan sehat dan bergizi,” ujarnya.
Tiga Pekan Mengungsi, Penyintas Hanya Konsumsi Mi Instan
Rasa jenuh dan khawatir juga menyelimuti penyintas banjir yang mengungsi di Masjid Al-Musannif Syariful Hasanah, Kelurahan Sibuluan Raya, Kecamatan Pandan.
Mereka terpaksa bertahan di pengungsian setelah lebih dari 22 hari pascabencana karena rumah belum bisa ditempati akibat lumpur tebal.
Selama hampir tiga minggu, para penyintas mengaku hanya mengonsumsi mi instan tanpa asupan sayur dan protein.
Syarifah Dewi Panjaitan (33) mengaku pasrah melihat anaknya terus-menerus makan mi instan.
“Tiga minggu ini pagi, siang, malam makan Indomie saja. Kalau ada nasi, dimakan pakai nasi,” ujarnya, Rabu (17/12/2025).
Ia menyebut bantuan logistik dari pemerintah tidak merata karena sebagian besar hanya terpusat di Posko Pengungsian GOR Pandan.
“Bantuan dari pemerintah hanya dibagikan di GOR Pandan. Pernah juga beberapa hari tidak ada relawan datang ke posko kami,” katanya.
Akibat pola makan tersebut, penyakit mulai bermunculan.
“Anak-anak mulai gatal-gatal, kami pun mulai diare,” ucap warga Jalan AR Surbakti, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan itu.
Selain makanan, kebutuhan popok bayi juga menjadi beban tersendiri di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk pascabanjir.
“Kalau ada bantuan popok bayi, senang rasanya. Usaha es saya hancur karena banjir, suami juga belum kerja karena gudang ikan belum aktif,” katanya.
Ribuan Pasien Pascabanjir, Puskesmas Tukka Ikut Terendam
Foto udara sejumlah warga melintasi jembatan Aek Garoga 2 di Desa Aek Garoga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025). KLH memeriksa delapan perusahaan di DAS Batang Toru yang diduga melanggar aturan lingkungan dan memperparah banjir bandang Sumatera Utara.
Kepala Puskesmas Tukka, dr Maruli Silalahi, mengatakan pihaknya telah menangani ribuan pasien pascabanjir dan longsor dengan berbagai keluhan.“Sudah ada ribuan pasien yang kami tangani, mulai dari demam, bapil, diare, hingga gatal-gatal,” kata Maruli.
Ia menjelaskan, Puskesmas Tukka juga terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter saat banjir terjadi pada Selasa (25/11/2025).
Sejumlah fasilitas kesehatan, seperti tempat tidur pasien, alat pemeriksaan, hingga alat USG rusak akibat terendam lumpur.
“Alat-alat kesehatan rusak semua. Obat-obatan juga terdampak,” ujarnya.
Meski demikian, layanan kesehatan tetap dibuka secara terbatas, baik di puskesmas maupun di empat titik posko pengungsian.
“Pelayanan kami lakukan di luar ruangan. Keluhan terbanyak itu ISPA, gatal-gatal akibat air banjir, dan gangguan pencernaan,” jelasnya.
Data Dampak Banjir Tapteng
Berdasarkan data Info Bencana Tapteng, di Kecamatan Pandan tercatat:
- 25 korban jiwa
- 678 jiwa masih mengungsi
- 67.081 jiwa terdampak
- 1.071 rumah rusak, terdiri dari:
- 368 rumah rusak sedang
- 150 rumah rusak berat
- 7 rumah hancur dan hanyut
Pemerintah daerah diharapkan mempercepat pemulihan infrastruktur, distribusi bantuan logistik yang merata, serta memastikan layanan kesehatan dan kebutuhan gizi anak-anak penyintas banjir terpenuhi.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Anak-anak Pengungsian di Tapteng, Mulai Terserang Penyakit Gatal-Gatal, Demam, Bapil dan Diare
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini