Pipa Utama Rusak akibat Longsor, 420 KK di Desa Klekean Bondowoso Krisis Air Bersih hingga Konsumsi Air Hujan

Desa Klekean, konsumsi air hujan, krisis air bersih, Bondowoso, Pipa Utama Rusak akibat Longsor, 420 KK di Desa Klekean Bondowoso Krisis Air Bersih hingga Konsumsi Air Hujan

Sebanyak 420 Kepala Keluarga (KK) di Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengalami krisis air bersih yang parah. Kondisi ini dipicu oleh bencana tanah longsor yang merusak infrastruktur sumber mata air utama warga.

Material longsor dilaporkan menghancurkan broncap (penangkap mata air) dan pipa distribusi utama yang selama ini mengalirkan air ke permukiman penduduk.

Medan Berat Menuju Sumber Air

Kepala Desa Klekean, Sulatis, menjelaskan bahwa kerusakan baru diketahui setelah pihaknya melakukan penelusuran ke lokasi sumber mata air yang berada jauh di dalam kawasan hutan.

Untuk mencapai titik kerusakan, perangkat desa harus menempuh perjalanan yang sangat berat, mulai dari menggunakan sepeda motor ke desa tetangga hingga berjalan kaki menyusuri tebing.

"Kita harus jalan kaki, menyusuri tebing kurang lebih 5-6 kilometer," ujar Sulatis saat dikonfirmasi, Kamis (1/1/2026).

Longsor tersebut diperkirakan terjadi beberapa hari lalu saat aliran air mulai tersendat. Namun, titik kerusakan di bagian broncap baru teridentifikasi pada Rabu (31/12/2025).

Warga Terpaksa Konsumsi Air Hujan

Akibat terputusnya distribusi air, warga di sejumlah RT dan RW harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan harian. Sebagian warga terpaksa menampung dan mengonsumsi air hujan.

"Untuk sementara warga kombinasi, ada sebagian yang menggunakan air hujan. Air hujan ditampung, kemudian dimasak, baru dikonsumsi," kata Sulatis.

Bagi warga yang masih berusia produktif dan memiliki kendaraan, mereka memilih mengambil air di sumur bor terdekat. Namun, bagi yang tidak memiliki sarana, pilihannya sangat terbatas.

Khairul, warga Dusun Banteng RT 06 RW 03, mengaku sudah merasakan dampak tersendatnya air sejak dua bulan terakhir, namun aliran air benar-benar mati total dalam 15 hari belakangan.

"Saya sudah dua hari minum air hujan. Kalau lelah menimba ke sumur bor masjid yang jaraknya satu kilometer, ya terpaksa konsumsi air hujan," tutur Khairul.

Sementara untuk keperluan mandi dan mencuci (MCK), warga terpaksa pergi ke sungai meski kualitas airnya tidak menentu.

"Jernih tidaknya air sungai kan lihat cuaca ini, kalau hujan ya warnanya tak jernih," pungkasnya.

Data Sebaran Wilayah Terdampak

Berdasarkan data dari Pemerintah Desa Klekean, terdapat sekitar 420 KK yang terdampak krisis air bersih ini. Berikut rincian sebarannya:

  • Dusun Klekean: 80 KK
  • Dusun Banteng: 70 KK
  • Dusun Banteng Lor: 60 KK
  • Dusun Banteng Kidul: 130 KK (terbagi di dua RT)
  • Dusun Plampang: 130 KK (terbagi di dua RT)
  • Dusun Sumberwaru: 30 KK

Mengingat keterbatasan dana desa, Sulatis berharap adanya bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk perbaikan permanen.

"Pertama yaitu pembangunan ulang untuk broncap. Terus yang kedua kita memerlukan pipa yang rusak akibat longsoran," terangnya.

Merespons kondisi ini, BPBD Bondowoso telah mulai menyalurkan bantuan awal berupa tandon air dan peralatan kerja bakti bagi warga.

Kepala Bidang Rehabilitasi, Rekonstruksi, dan Logistik BPBD Bondowoso, Tugas Riski Bahana, menyatakan pihaknya segera melakukan langkah kedaruratan.

"Ini bantuan awal, dan besok akan dibantu dengan pengiriman air bersih bagi warga terdampak. Kita ajukan BTT (Belanja Tidak Terduga), yang nantinya akan digeser atau diregulerkan ke DPA OPD teknis," ujar Tugas.

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Ratusan KK di Bondowoso Kesulitan Air Bersih Akibat Longsor, Sebagian Warga Pilih Konsumsi Air Hujan

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang