Fakta Mengejutkan! Pengangguran Perempuan Lulusan Kuliah Masih Lebih Tinggi dari Pria
Minat perempuan muda Indonesia terhadap dunia teknologi terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik perkembangan tersebut, tantangan untuk mendapatkan kesempatan yang setara di dunia kerja masih menjadi persoalan nyata.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan “Perempuan dan Laki-laki di Indonesia 2024” menunjukkan tingkat partisipasi kerja perempuan usia produktif masih berada di angka 52,86 persen. Jumlah itu terpaut cukup jauh dibanding laki-laki yang mencapai 79,85 persen. Bahkan di kalangan lulusan perguruan tinggi, tingkat pengangguran perempuan tercatat hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding laki-laki. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Fenomena ini menjadi salah satu alasan pentingnya ruang diskusi dan dukungan bagi perempuan yang ingin berkarier di bidang STEM atau Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika. Tak sedikit perempuan muda yang sebenarnya memiliki kemampuan, namun masih merasa ragu untuk masuk ke industri teknologi yang selama ini identik dengan laki-laki.
Berangkat dari kondisi tersebut, program STEM Talks bertema “Cracking the STEM World: From First Steps to Finding Your Place” diselenggarakan di Dia.Lo.Gue, Jakarta, pada 8 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang ingin mengenal lebih dekat peluang karier di industri teknologi.
Acara tersebut menghadirkan Sabrina Anggraini serta Gabriella Kawilarang selaku Principal Product Manager Grab Indonesia. Dalam sesi diskusi, keduanya berbagi pengalaman tentang perjalanan karier, tantangan, hingga pentingnya keberanian mencoba hal baru di dunia teknologi.
Menariknya, topik yang dibahas tidak hanya soal kemampuan teknis. Banyak peserta justru penasaran tentang cara membangun rasa percaya diri, menghadapi stereotip gender, hingga mencari lingkungan kerja yang suportif bagi perempuan.
Rivana Mezaya, Director of Digital & Sustainability Grab Indonesia, menilai bahwa dunia teknologi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan coding atau penguasaan sistem.
“Kami percaya teknologi tidak hanya dibangun melalui kemampuan teknis semata, tetapi juga melalui empati, problem solving, dan keberanian untuk menciptakan dampak nyata. Melalui STEM Talks, kami ingin lebih banyak perempuan muda melihat bahwa mereka memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkarya di bidang teknologi. Kami berharap kehadiran para Women Tech Leaders di Grab dapat menjadi role model sekaligus membuka wawasan baru bagi generasi muda perempuan,” ujar Rivana dalam keterangannya, dikutip Jumat 22 Mei 2026.
Kini, semakin banyak perempuan muda mulai melihat bidang teknologi sebagai ruang yang terbuka untuk siapa saja. Bukan hanya soal pekerjaan masa depan, tetapi juga tentang kesempatan untuk menciptakan solusi dan membawa perubahan lewat inovasi.
Melalui berbagai inisiatif serupa, harapannya semakin banyak perempuan Indonesia berani mengambil langkah pertama mereka di dunia STEM tanpa takut pada stigma maupun batasan yang selama ini melekat.