BMKG Sebut 800 Situ di Jabodetabek Hilang sejak 1930-an, Berpotensi Picu Banjir
Hilangnya sekitar 800 situ di wilayah Jabodetabek sejak 1930-an dinilai menjadi faktor utama berkurangnya daerah resapan air dan meningkatkan potensi terjadinya banjir.
Kondisi tersebut membuat kemampuan lingkungan dalam menampung air hujan semakin terbatas, terutama saat terjadi hujan berintensitas tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut persoalan banjir tidak dapat dilepaskan dari perubahan tata lingkungan yang berlangsung selama puluhan tahun.
Menurunnya daya dukung lingkungan, ditambah ancaman perubahan iklim, menjadi tantangan serius dalam pengelolaan risiko bencana hidrometeorologi.
"Oleh karenanya, BMKG sepakat bahwa penataan lingkungan sebagai respons terhadap penanganan banjir menjadi hal paling utama yang harus dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat secara keseluruhan," kata BMKG dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (28/1/2026).
"Namun demikian, pada saat bersamaan secara paralel juga diperlukan upaya mengurangi curah hujan seperti OMC agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini," tambahnya.
Modifikasi Cuaca Untuk Minimalkan Risiko
BMKG menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang diterapkan di Indonesia merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana berbasis sains, bukan penyebab cuaca menjadi tidak stabil ataupun pemicu banjir besar.
Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya narasi di media sosial yang menyebut OMC sebagai “bom waktu”.
Dalam narasi tersebut, OMC dituding berisiko menimbulkan cuaca tidak stabil, membentuk cold pool atau kolam udara dingin, memindahkan hujan ke wilayah tertentu hingga memicu banjir besar.
BMKG menjelaskan bahwa cold pool merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami.
Fenomena ini terjadi ketika air hujan menguap di bawah awan badai, menyebabkan pendinginan udara dan membentuk massa udara padat yang bergerak turun ke permukaan.
Setiap hujan yang terjadi secara alami, tanpa campur tangan manusia, pada dasarnya akan membentuk cold pool.
Oleh karena itu, mengaitkan fenomena ini sebagai dampak berbahaya dari OMC dinilai sebagai kekeliruan secara ilmiah.
Terlebih, teknik penyemaian awan yang digunakan dalam OMC tidak menciptakan awan baru, melainkan hanya bekerja pada awan yang telah terbentuk di alam.
"BMKG menegaskan bahwa implementasi OMC bertujuan murni untuk mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat dengan menambah atau mengurangi curah hujan--bukan pemicu cuaca tidak stabil," kata BMKG.
BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca Pakai 2 Metode
Lebih lanjut, jika OMC berhasil mempercepat turunnya hujan secara logis akan membentuk cold pool yang identik secara fisik maupun kimiawi dengan cold pool dari hujan alami.
Dari sisi energi pun, teknologi manusia saat ini belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar.
Modifikasi cuaca hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh, bukan membangun sistem pendingin atmosfer berskala raksasa.
Menanggapi isu pemindahan hujan ke wilayah lain, BMKG memaparkan dua metode utama dalam pelaksanaan OMC.
Pertama, Jumping Process Method, yaitu penyemaian awan yang berasal dari laut sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan.
Kedua, Competition Method, yakni penyemaian dini pada awan yang tumbuh di atas daratan untuk menghambat pertumbuhannya agar tidak berkembang menjadi awan Cumulonimbus yang masif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang