Pakar ITB Sebut Banjir Bandung Raya Terancam Makin Parah pada 2050
Potensi banjir di kawasan Bandung Raya diperkirakan semakin parah pada 2050 jika laju penurunan muka tanah terus dibiarkan tanpa penanganan serius.
Hal tersebut dikatakan Ketua Prodi S-2 dan S-3 Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Gumilar saat memaparkan tingkat penurunan muka tanah di Bandung Raya.
Ia menyampaikan, potensi banjir dapat diatasi selama penanganan risiko dilakukan secara lintas disiplin dan instansi.
Menurut Irwan, penurunan muka tanah dan banjir membutuhkan kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat.
“Bandung ini sudah kita amati sejak tahun 2000,” ujar Irwan saat acara CEO Summit di Innovation Park, Summarecon, Bandung, Jawa Barat, dikutip dari TribunJabar pada Senin (15/12/2025).
“Dengan teknologi geodesi, kita bisa melihat bahwa ada titik-titik tertentu di Kota Bandung yang mengalami kejadian penurunan muka tanah yang cukup signifikan,” tambahnya.
Penurunan Muka Tanah Mencapai 10-12 Sentimeter
Irwan menjelaskan, beberapa wilayah di kawasan Bandung Raya, seperti Bandung Timur dan Kabupaten Bandung, mengalami penurunan muka tanah secara signifikan.
Penurunan tanah bisa mencapai 10 hingga 12 cm/tahun, bahkan lebih dari satu meter jika diakumulasikan dalam sepuluh tahun.
Menurut Irwan, penurunan muka tanah di sejumlah titik terjadi secara berulang tanpa tanda-tanda perbaikan.
Kondisi ini sebaiknya tidak dianggap remeh karena masyarakat akan merasakan dampaknya secara langsung.
Beberapa infrastruktur, seperti jembatan, jalan, dan rumah mengalami kerusakan serius akibat permukaan tanah yang turun.
Irwan menambahkan, jembatan bisa saja terlihat di posisi semula padahal tanah di sekitarnya sudah turun sehingga menimbulkan potensi bahaya.
“Banyak rumah yang sekarang sudah tinggal setengah atau tiga perempat karena tanahnya turun. Ini jelas berdampak pada keselamatan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat,” ujar Irwan.
“Ketika permukaan tanah turun, sistem aliran air alami terganggu. Air yang seharusnya mengalir ke satu arah justru tertahan atau berbalik sehingga memperparah genangan dan banjir di wilayah rendah,” tambahnya.
Proses Pengamatan Penurunan Muka Tanah
Irwan menerangkan, pemantauan terhadap penurunan muka tanah dilakukan oleh Tim Geodesi dan Geomatika ITB.
Pemantauan dilakukan menggunakan berbagai teknologi, seperti GPS geodetik, teknologi radar satelit (InSAR), hingga pengembangan GPS berbiaya rendah (low-cost GPS).
Menurutnya, teknologi radar sangat efektif karena bisa memperlihatkan gambaran spasial yang lebih rinci tentang penurunan muka tanah.
“Kami memasang dan mengamati data GPS secara konsisten dari tahun 2000 hingga 2025, dengan dukungan pendanaan dari dalam dan luar negeri,” kata Irwan.
“Hasilnya menunjukkan tren yang sama antara data GPS dan radar, dengan korelasi mencapai sekitar 80 persen,” lanjutnya.
Tim juga mengembangkan GPS murah yang ditempatkan di lima titik di Bandung Selatan.
Alat ini mampu menunjukkan hasil yang sejalan dengan teknologi konvensional dan memperlihatkan penurunan tanah di beberapa titik mencapai 14–15 cm.
Tak hanya itu, tim juga melakukan survei lapangan di ratusan titik guna mengidentifikasi dampak penurunan tanah terhadap bangunan dan infrastruktur.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkat kerusakan akibat penurunan muka tanah cukup beragam, seperti retakan lantai, dinding bangunan, jalan, hingga jembatan.
“Kondisi ini cukup berbahaya, terutama di jalur transportasi dan kawasan padat aktivitas,” jelas Irwan.
“Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk melaporkan jika menemukan kerusakan agar bisa ditindaklanjuti,” pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang